Tabligh Akbar Haul 26 Yang Mengusung Tema “Mempertahankan Tradisi Almusri”

Pada hari Jumat, 23 Januari 2026 pukul 07.30 WIB, kegiatan pengajian tabligh akbar dilaksanakan. Suasana khidmat terasa begitu memasuki wilayah pesantren. Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan kajian agama yang disampaikan dengan penuh hikmah memenuhi ruangan, menyentuh hati setiap peserta yang hadir.

Pembukaan acara dimulai oleh grup hadroh Ashabulhub. Lalu acara disambung oleh pembacaan ayat suci alquran, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars Almusri, sambutan-sambutan, pembacaan manakib mama, pembacaan tawasul oleh Umi Hajah Cucu Nurjanah, dan acara inti yaitu tabligh akabar yang dibawakan oleh KH. MS Jamaludin

.

Umi Hajah Siti Maryam selaku wakil yayasan dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada seluruh jamah yang hadir. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Almusri serta seluruh pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan tersebut, sekaligus memohon maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan terdapat kekurangan.

Ketua pelaksana, U. Siti Masithoh Mufidah S.Pd., dalam sambutannya sangat berterimakasih kepada para masyaikh, segenap para panitia, dan yang bersangkutan dengan acara haol 26 dan menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya acara. Beliau berharap kegiatan ini menjadi amal ibadah dan membawa keberkahan bagi seluruh hadirin. 

KH. MS Jamaludin berkata, ada 4 golongan yang tidak akan kenyang oleh 4 perkara:

  1. Dunia tidak akan cukup dengan air.
  2. Manusia berilmu tidak akan cukup dengan ilmu.
  3. Perempuan tidak akan cukup dengan laki-laki.
  4. Orang kaya tidak akan cukup dengan harta.

Kegiatan pengajian ini bukan hanya sekadar rutinitas, namun telah menjadi bagian penting dalam mempererat tali persaudaraan. Sambil menambah wawasan keagamaan, mereka juga memiliki kesempatan untuk saling bertukar cerita, berbagi pengalaman, dan memperkuat rasa solidaritas, menjadi wadah silaturahmi sekaligus menimba ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk senantiasa mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Puncak Haul Almusri 2026 “Mempertahankan Tradisi Almusri”

  Telah diselenggarakannya haul mama syaikhuna yang ke-26 yang digelar di pondok pesantren miftahulhuda al-musri pada tanggal 17-23 januari 2026. Kegiatan tersebut dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai wilayah. Pengajian akbar ini menjadi momentum penting dalam memperkuat ukhwah Islamiyah sekaligus mengenang jasa para guru yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan pendidikan pesantren.

Adapun susunan acara dari awal sampai akhir ialah:

1. Muqoddimah

2. Pembacaan ayat suci al-quran oleh KH. Mukhlis Thohir (Tasikmalaya)

3. Laporan ketua panitia penyelenggaraan haul

4. Sambutan-sambutan

5. Manakib mama syaikhuna

6. Amanah mama syaikhuna

7. Sambutan bupati Cianjur

8. Pembacaan tausyiah

9. Tahlilan dan shalawat akbar

10. Do’a tutup

Dalam sambutannya Kyai Acep Sanusi menjelaskan bahwa amaliyah amaliyah yang bersangkutan dengan ashab sohibul hal itu mengandung pahala yang mana pahala tersebut terus mengalir kepada guru disertai dengan estafet perjuangan mama syaikhuna dalam mengamalkan ilmu seperti sekarang.

Semoga Allah mengangkat derajat orang yang mencari ilmu yang mana beliau tanpa berhenti berdo’a dan bertawakal kepada Allah. Semoga apa saja amaliyah-amaliyah yang sudah diamalkan diterima disisi allah dan bertambah kemanfaatan ilmunya.

Lalu acara berlanjut dengan pembacaan manakib mama syaikhuna yang dibawakan oleh KH. Farid Hamzah. Adapun biografi singkat mama KH. Ahmad Faqih yaitu berawal dari cerita dimana abah H. Kurdi (ayah mama) menuntut ilmu di daerah kudang yang disebut Kudang Pesantren Tasikmalaya daerah Jawa Barat. Singkat cerita abah H. Kurdi menikah dengan seorang janda anak 1 bernama Hj. Siti Halimah. Tidak berselang lama mama lahir pada bulan januari tahun 1913 bertepatan dengan bulan safar 1931 H di Tasikmalaya.

Lalu mama menuntut ilmu di mama H. Sobandi dan KH. Zaenal Musthofa(pahlawan Indonesia). Beliau menempuh ilmu di Sukamanah selama 12 tahun. Pada tahun 1937 mama memperdalam kepada KH. Fahruroji kurang lebih selama 1 bulan. Setelah itu beliau mukim ke Kp. Kebon Kelapa Cibereum.

Pada tahun 1938 mama menikah dengan Hj. Siti Juhaenah dan mendirikan pesantren. Belanda membakar pesantren dan menangkap mama yang pada saat itu sudah memiliki 2 istri. Singkat cerita akhirnya mama berhasil mendirikan pondok pesantren Miftahulhuda Almusri.

Selanjutnya pembacaan amanah mama dan penerangan amalan mama yang dibacakan oleh KH. Ayi Mahdi yang mana amanat tersebut adalah :

  1. Silaturahmi
  2. Mengamalkan urusan politik Islam
  3. Istiqamah dalam ahlussunnah waljama’ah
  4. Mengamalkan ilmu khidmah
  5. Menyempurnakan pengajaran santri masyarakat

Mama syaikhuna menyukai mukimin yang mempunyai sifat sederhana,kepemimpinan kemandirian,sosial,kepoloporan,dan santun. Dilanjut dengan sambutan bupati Cianjur yaitu dr. Mohamad Wahyu Ferdian Sp.Og. yang menerangkan bahwa kita harus menjadikan haul itu teladan keteguhan iman dan keikhlasan. Sekaligus memperkuat ukhwah islamiyyah,wathoniyah,lisaniyyah dan sarana untuk memperbaiki diri yang mana semua itu berfungsi agar pondok pesantren Miftahulhuda Almusri lebih maju.

Setelah itu acara inti yaitu tahlil,shalawat akbar dan doa tutup yang dipimpin oleh KH. Mahmud Munawwar.

Pengajian akbar berlangsung dengan khidmat dan penuh kekhusyukan. Melalui kegiatan haul ini, diharapkan nilai-nilai keimanan, kebersamaan, serta keteladanan para ulama dapat terus hidup dan menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Isra’ Mi’raj: Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad SAW

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang diperingati umat muslim setiap tanggal 27 Rajab dalam kalender hijriah. Peristiwa ini menjadi tonggak spiritual yang menguatkan keimanan dan ketakwaan umat Islam hingga saat ini.

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dalam satu malam. Isra’ dimaknai sebagai perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sementara Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa ke langit hingga Sidratul Muntaha atas kehendak Allah SWT.

Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat lima waktu yang menjadi kewajiban utama bagi umat Islam. Salat menjadi ibadah yang memiliki kedudukan istimewa karena langsung diperintahkan oleh Allah SWT tanpa perantara wahyu di bumi.

Peringatan Isra’ Mi’raj di berbagai daerah biasanya diisi dengan kegiatan keagamaan seperti pengajian, ceramah, pembacaan selawat, dan doa bersama. Kegiatan ini bertujuan untuk mengingat kembali sejarah Isra’ Mi’raj serta menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Para ulama menyampaikan bahwa Isra’ Mi’raj mengandung pesan penting tentang keimanan, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah SWT. Di tengah tantangan kehidupan modern, nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab.

Melalui peringatan Isra’ Mi’raj, umat Islam diharapkan tidak hanya mengenang peristiwa bersejarah, tetapi juga mampu mengamalkan hikmah yang terkandung di dalamnya, terutama dalam menjaga kualitas salat dan meningkatkan hubungan dengan Allah SWT serta sesama manusia.

Isra’ Mi’raj Dan Pelajaran Penting Dalam Hidup

Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa agung, yaitu Allah Subhanahu Wa Taala (SWT) memberikan keistimewaan pada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina. Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT sang pencipta alam semesta

Penegasan ini sebagaimana firman Allah dalam surat Isra’ ayat 1:   

   سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ   

 Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Artikel diambil dari: Khutbah Jumat: Empat Pelajaran dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj   Imam Bukhari mengisahkan perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dalam Shahih Bukhari, juz 5 halaman 52.

Intisarinya adalah: Suatu ketika Nabi berada di dalam suatu kamar dalam keadaan tidur, kemudian datang malaikat mengeluarkan hati Nabi dan menyucinya, kemudian memberikannya emas yang dipenuhi dengan iman. Kemudian hati Nabi dikembalikan sebagaimana semula.

Setelah itu Nabi melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dengan mengendarai buraq dengan diantar oleh Malaikat Jibril hingga langit dunia, kemudian terdapat pertanyaan: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Selamat datang, sungguh sebaik-baiknya orang yang berkunjung adalah engkau, wahai Nabi.Di langit dunia ini, Nabi bertemu dengan Nabi Adam Alaihis Salam (AS), Jibril menunjukkan bahwa Nabi Adam adalah bapak dari para nabi.

Jibril memohon kepada Nabi Muhammad untuk mengucapkan salam kepada Nabi Adam, Nabi Muhammad mengucapkan salam kepada Nabi Adam, berikutnya Nabi Adam juga membalas salam kepada Nabi Muhammad. Perjalanan dilanjutkan menuju langit kedua, di sini Nabi bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga, Nabi Muhammad bertemu Nabi Yusuf, di langit keempat dengan Nabi Idris, di langit kelima bertemu Nabi Harun, di langit keenam dengan Nabi Musa.

 Nabi Musa menangis karena Nabi Muhammad memiliki umat yang paling banyak masuk surga, melampaui dari umat Nabi Musa sendiri. Dan terakhir di langit ketujuh, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim. Setelah itu, Nabi Muhammad menuju Sidratul Muntaha, tempat Nabi bermunajat dan berdoa kepada Allah. Kemudian Nabi naik menuju Baitul Makmur, yaitu baitullah di langit ketujuh yang arahnya lurus dengan Ka’bah di bumi, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk untuk berthawaf di dalamnya. Selanjutnya Nabi disuguhi dengan arak, susu, dan madu.

Nabi kemudian mengambil susu, Jibril mengatakan: Susu adalah lambang dari kemurnian dan fitrah yang menjadi ciri khas Nabi Muhammad dan umatnya. Di Baitul Makmur, Nabi Muhammad bertemu dengan Allah SWT dan mewajibkan melaksanakan shalat fardhu sebanyak lima puluh rakaat setiap hari. Nabi menerima dan dalam perjalanan bertemu Nabi Musa. Ia mengingatkan bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu dengan perintah shalat lima puluh kali sehari, Nabi Musa mengatakan: Umatku telah membuktikannya.

Lalu meminta kepada Nabi Muhammad untuk kembali kepada Allah SWT, mohonlah keringanan untuk umatnya. Kemudian Nabi menghadap kepada Allah dan diringankan menjadi shalat sepuluh kali.    Kemudian Nabi Muhammad kembali , dan Nabi Musa mengingatkan sebagaimana yang pertama. Kembali Nabi menghadap Allah hingga dua kali, dan akhirnya Allah mewajibkan shalat lima waktu. Nabi Musa tetap mengatakan bahwa umat Muhammad tidak akan kuat.

Nabi Muhammad menjawab: Saya malu untuk kembali menghadap pada Allah dan ridha serta pasrah kepada Allah. Imam Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah, Sirah Nabawiyah, juz 2 halaman 94 menceritakan, keesokan harinya Nabi menyampaikan peristiwa tentang Isra’ Mi’raj terhadap kaum Quraisy. Mayoritas mereka ingkar terhadap kisah yang disampaikan Nabi Muhammad, bahkan sebagian kaum muslimin ada yang kembali murtad karena tidak percaya terhadap kisah yang disampaikan Nabi.

 Melihat hal tersebut, Abu Bakar bergegas untuk membenarkan kisah Isra’ Mi’raj Nabi: Sungguh aku percaya terhadap berita dari langit, apakah yang hanya tentang berita Baitul Maqdis aku tidak percaya? Sejak saat itu sahabat Abu Bakar dijuluki dengan sebutan Abu Bakar as-Shiddiq, Abu Bakar yang sangat jujur. Pelajaran Penting Ali Muhammad Shalabi dalam Sirah Nabawiyah: ‘Irdlu Waqâi’ wa Tahlîl Ihdats, juz 1 halaman 209 menjelaskan setidaknya ada makna penting dari peristiwa ini.  

1. Kemuliaan dan Keistimewaan Nabi Muhammad  Nabi Muhammad SAW baru saja mengalami hal yang amat menyedihkan, yaitu wafatnya Sayyidah Khodijah sebagai istri tercinta, yang selalu mengorbankan jiwa, tenaga, pikiran, dan hartanya demi perjuangan Nabi. Juga wafatnya sang paman, Abu Thalib yang selalu melindungi Nabi dari kekejaman kaum Quraisy. Allah ingin menguatkan hati Nabi dengan melihat secara langsung kebesaran Allah SWT. Sehingga hati Nabi semakin mantap dan teguh dalam menyebarkan agama Islam. Ini memberikan pelajaran, bahwa siapa pun yang berjuang di jalan Allah, dan menegakkan agama, seperti dengan memakmurkan masjid, memakmurkan majlis ilmu, dzikir dan tahlil, Allah akan memberikan kebahagiaan dan keistimewaan.

 2. Kewajiban Shalat Lima Waktu Musthofa As Siba’i dalam kitab Sirah Nabawiyah, Durus wa Ibar, jilid 1 halaman 54 menjelaskan bahwa jika Nabi melakukan Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasadnya sebagai mukjizat. Karenanya, sebuah keharusan bagi tiap muslim menghadap (mi’raj) kepada Allah SWT lima kali sehari dengan jiwa dan hati yang khusyu’.   Dengan shalat yang khusyu’, seseorang akan merasa diawasi oleh Allah SWT, sehingga malu untuk menuruti syahwat dan hawa nafsu, berkata kotor, mencaci orang lain, berbuat bohong. Justru sebaliknya lebih senang dan mudah untuk melakukan banyak kebaikan. Hal tersebut demi mengagungkan keesaan dan kebesaran Allah, sehingga dapat menjadi makhluk terbaik di bumi.

3. Perjalanan Pertama Luar Angkasa Dalam sejarah, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha adalah perjalanan pertama manusia di dunia menuju luar angkasa, dan kembali menuju bumi dengan selamat. Jika hal ini telah terjadi di zaman Nabi, 1400 tahun yang lalu, hal tersebut memberikan pelajaran bagi umat Islam agar mandiri, belajar, bangkit dan meningkatkan kemampuan, tidak hanya dalam masalah agama, sosial, politik, dan ekonomi, namun juga harus melek terhadap sains dan teknologi. Perjalanan menuju ke luar angkasa adalah sains dan teknologi tingkat tinggi yang menjadi salah satu tolak ukur kemajuan sebuah umat dan bangsa.

4. Membela Perjuangan Agama Pada Isra’ Mi’raj ada penyebutan dua masjid, yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Hal tersebut memberikan pelajaran bahwa Masjidil Aqsha adalah bagian dari tempat suci umat Islam. Membela masjid tersebut dan sekelilingnya sama saja dengan membela agama Islam. Wajib bagi tiap muslim sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk selalu berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan keselamatan Masjidil Aqhsa Palestina. Baik dengan diplomasi politik, bantuan sandang pangan, maupun dengan harta

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi Bagi Umat Islam

Pergantian tahun Masehi sering dimaknai masyarakat sebagai momen refleksi sekaligus perayaan. Namun, bagaimana hukum merayakannya dalam pandangan Islam? Apakah merayakan Tahun Baru bertentangan dengan nilai keislaman?

Mengutip pendapat Guru Besar Al-Azhar Asy-Syarif serta Mufti Agung Mesir Syekh Athiyyah Shaqr, merayakan Tahun Baru diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat.

“Lalu bagaimanakah hukum memperingati dan merayakannya bagi seorang muslim?”

 Tak diragukan lagi bahwa bersenang-senang dengan keindahan hidup yakni makan, minum, dan membersihkan diri merupakan sesuatu yang diperbolehkan selama masih selaras dengan syariat, tidak mengandung unsur kemaksiatan, tidak merusak kehormatan, dan bukan berangkat dari akidah yang rusak.” Demikian dikutip dari kitab Wizarah Al-Auqof Al-Mishriyyah, Fatawa Al-Azhar.

Lebih lanjut, sejumlah ulama Al-Azhar dan ahli hadis memandang ucapan selamat tahun baru sebagai hal yang diperbolehkan. Disebutkan bahwa mengucapkan “selamat tahun baru” tidak dapat dikategorikan sebagai bid’ah tercela, selama tidak diyakini sebagai bagian dari ritual keagamaan tertentu.

Dalam konteks ini, pergantian tahun justru dianjurkan untuk dijadikan sarana muhasabah atau introspeksi diri agar kehidupan ke depan menjadi lebih baik dan bermakna.

Pandangan moderat tersebut sejalan dengan imbauan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan KH Ahmad Fahrur Rozi. Beliau menekankan pentingnya menjadikan malam pergantian tahun sebagai momen kebersamaan yang sederhana dan bernilai ibadah.

“Malam pergantian tahun sebaiknya diisi dengan kegiatan yang positif semisal tafakur dan berdzikir kepada Allah. Hindari kegiatan hura-hura yang tidak perlu,” ajaknya.

Umat Islam seharusnya tidak terjebak pada euforia berlebihan yang justru mengikis nilai spiritual. Ia juga mengingatkan bahwa Islam memiliki kalender Hijriah sebagai rujukan utama dalam ibadah, sehingga perayaan tahun baru Masehi hendaknya tidak dimaknai sebagai sesuatu yang sakral atau dirayakan secara berlebihan dan konsumtif.

Berdasarkan berbagai pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Islam tidak menutup ruang bagi umatnya untuk menyambut pergantian tahun. Namun, perayaan tersebut harus tetap berada dalam koridor syariat, menjauhi kemaksiatan, dan mengedepankan nilai kemanfaatan. Tahun baru idealnya dijadikan momentum refleksi diri, memperbaiki niat, serta memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama manusia, bukan sekadar ajang hura-hura yang melalaikan.