Gaya Hidup Sehat ala Rasulullah SAW

1. Menjaga pola makan

Rasulullah SAW selalu mengkonsumsi makanan yang sehat, bergizi dan halal. Bahwa setiap pagi beliau akan berupaya untuk mengkonsumsi 7 butir kurma ‘Ajwa yang menurut sebuah hadis berkhasiat untuk menghindarkannya dari racun atau sihir.

“Barang siapa yang memakan tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka tidak akan mencelakainya racun dan sihir pada hari itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW juga secara teratur minum segelas air putih yang sudah diberi madu sebagai sarapan yang menurut penelitian sangat bagus untuk mencegah resiko penyakit kardiovaskular.

Rasulullah SAW selalu makan secukupnya dan menghindari segala sesuatu yang berlebihan. Beliau akan makan ketika merasa lapar dan berhenti makan sebelum dirinya merasa kenyang.

Selain itu, beliau juga rutin berpuasa sunnah yang terbukti bisa membantu menstabilkan kadar hormon dalam tubuh, mengurangi resiko peradangan dan mencegah stress oksidatif dalam tubuh.

2. Menjaga kebersihan tubuh

Rasulullah SAW sangat memperhatikan kebersihan tubuhnya sehingga kesehatannya pun terjaga dengan baik. Contohnya adalah selalu menyempurnakan wudhunya dan terbiasa mencuci tangan dengan benar hingga sela-sela jarinya sehingga bersih optimal. Hal tersebut menjadikan beliau selalu sehat dan tak pernah mengalami masalah pencernaan meski selalu makan dengan menggunakan tangan.

Selain menjaga kebersihan tangan, Rasulullah SAW juga selalu menjaga kebersihan mulut dan gigi dengan cara menyikatnya dengan kayu siwak serta berkumur setiap wudhu.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siwak dapat membersihkan mulut dan mendatangkan keridhaan Rabb’.” (HR. An-Nasa’i no. 5 dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i).

Diketahui siwak memiliki kandungan fluor alami yang berguna untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi. Menjaga kebersihan mulut dan gigi merupakan hal penting yang harus diperhatikan karena bisa berpengaruh pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

3. Menjaga adab ketika makan dan minum

Dalam sebuah artikel tentang Hidup sehat ala Nabi Muhammad SAW, Rasulullah SAW juga digambarkan sangat menjaga adabnya ketika makan dan minum.

Diantaranya adalah dengan selalu membaca doa sebelum dan sesudah makan serta makan dengan menggunakan tangan kanan. Beliau juga selalu makan dan minum dalam posisi duduk yang mana akan membuat makanan bisa tercerna secara maksimal sehingga sangat baik untuk kesehatan tubuh.

Hadits riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

بِسْمِ اللهِ
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَ رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah,kami dalam rezeki yang telah engkau berikan kepada kami dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Penelitian modern membuktikan bahwa posisi makan dan minum dengan cara duduk dengan tenang adalah cara makan yang sangat bagus untuk kesehatan.

Posisi duduk lebih memberikan peluang pada tubuh untuk bisa membuat makanan dicerna dengan mudah dan cepat diproses menjadi energi. Kondisi tenang juga akan membuat sistem pencernaan bekerja dengan lebih maksimal.

4. Berpuasa

Umat muslim wajib menjalankan ibadah puasa di setiap bulan Ramadhan. Namun selain waktu tersebut ada hari lainnya yang disunnahkan untuk berpuasa seperti puasa Senin dan Kamis. Menurut penelitian, puasa memiliki khasiat untuk kesehatan tubuh seperti untuk membersihkan zat dan racun yang menumpuk pada tubuh khususnya pada ginjal, saluran pencernaan dan organ dalam tubuh lainnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Berpuasalah kamu, niscaya kamu akan sehat.” (HR. Ibn Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 193. Al-Hafizh Abu Thohir)

5. Olahraga

Rasulullah SAW mempunyai tubuh yang bugar dan sehat karena terbiasa melakukan olahraga setiap harinya. Beliau terbiasa berolahraga setiap pagi yaitu dengan berjalan kaki sambil menghirup udara segar di pagi hari. Selain olahraga tersebut, Rasulullah SAW juga gemar melakukan jenis olahraga lainnya seperti berkuda, menunggang unta, lari dan memanah. Penulis : Ridwan Fauzi

Nasehat Imam Ghozali dalam mendidik anak

Pentingnya pendidikan anak karena merupakan amanah dari Allah bagi kedua orang tuanya selain tanggung jawab urusan nafkah yang berkaitan dengan fisik anak.

Imam Al-Ghazali memandang jiwa anak-anak seperti kertas kosong tanpa coretan dan garis apapun. Jiwa anak-anak siap ditulis dan akan menerima model tulisan apapun yang tercermin dalam jiwanya. Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali menilai urgensi cara orang tua dan lingkungan sekitar yang akan menulis dan membentuk jiwa anak.

اعلم أن الطريق في رياضة الصبيان من أهم الأمور وأوكدها والصبيان أمانة عند والديه وقلبه الطاهر جوهرة نفيسة ساذجة خالية عن كل نقش وصورة وهو قابل لكل ما نقش ومائل إلى كل ما يمال به إليه

Artinya, “Ketahuilah cara mendidik anak termasuk masalah yang paling penting dan paling urgen. Anak merupakan amanah bagi kedua orang tuanya. Hati mereka suci, mutiara berharga, bersih dari segala ‘ukiran’ dan rupa. Hati anak-anak menerima setiap ‘ukiran’ dan cenderung pada ajaran yang diberikan kepada mereka,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin).

Model pendekatan dalam mendidik anak yaitu dengan menyarankan orang tua untuk membiasakan atau memberikan contoh perbuatan baik dalam keseharian anak. juga orang tua mengajar kebaikan kepada anaknya.

Dua model pendekatan dalam mendidik anak sangat penting. Pertama, pembiasaan kebaikan dalam hidup keseharian akan membekas dalam jiwa anak. Kedua, penanaman nilai-nilai kebaikan juga tidak kalah pentingnya untuk memberikan standar kebaikan dalam jiwa anak.

Imam Al-Ghazali mengatakan, orang tua memikul tanggung pendidikan karakter dan pengasuhan anak. Orang tua akan menuai pahala ketika mendidik anaknya dengan baik. Sebaliknya, orang tua akan memikul dosa yang begitu besar ketika membiarkan begitu saja pertumbuhan anaknya. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh lalai dan abai dalam mendidik, mengasuh, dan membimbing anak.

فإن عود الخير وعلمه نشأ عليه وسعد في الدنيا والآخرة وشاركه في ثوابه أبوه وكل معلم له ومؤدب وإن عود الشر وأهمل إهمال البهائم شقي وهلك وكان الوزر في رقبة القيم عليه والوالي له

Artinya, “Jika orang tua membiasakan dan mengajarkan kebaikan, maka anak akan tumbuh dalam kebaikan dan bahagialah orang tuanya di dunia dan akhirat. Ia pun akan mendapat pahala dari amal saleh yang dilakukan anaknya (tanpa mengurangi hak pahala anak). Demikian juga berlaku bagi setiap guru dan pendidik. Jika ia membiasakan keburukan dan membiarkan anaknya seperti membiarkan binatang ternak, maka ia akan celaka dan binasa. Sementara dosanya juga ditanggung pengasuh dan walinya,” (Imam Al-Ghazali).

Dalam Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6 menyiratkan tanggung jawab besar orang tua dalam mendidik, membimbing, dan mengasuh anak.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Artinya, “Wahai orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,” (Surat At-Tahrim ayat 6).

Dari berbagai keterangan ini mengingatkan orang tua untuk lebih memperhatikan pendidikan, bimbingan, dan pengasuhan anak, tidak mengabaikan mereka tanpa pendidikan agama dan pendidikan akhlak dalam kesehariannya.

13 Cara Mendidik Anak secara Islami, Perlu Diketahui Orang Tua

Mendidik anak memang tidak mudah, tetapi Allah telah memberikan pedoman yang jelas melalui Al-Qur’an dan hadis Rasulullah.

Nabi Muhammad bersabda:

Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama dari pada (pendidikan).” (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

“Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya dari pada ia menshadaqahkan (setiap hari) satu sha.” (HR At-Tirmidzi)

Dengan menerapkan cara mendidik anak sesuai Islami, diharapkan anak dapat tumbuh dan berkembang dengan memiliki akhlak atau pribadi yang baik sehingga siap bersaing di masa depan.

Berikut 13 cara mendidik anak secara Islami, yang perlu diketahui para orang tua, seperti

Cara Mendidik Anak secara Islami

1. Memperdengarkan Al-Qur’an secara rutin

Cara mendidik anak baiknya dimulai sejak anak berada dalam kandungan. Satu di antaranya dengan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Memperbanyak mengaji saat kehamilan hingga buat hari lahir dapat membawa ketenangan dan keberkahan.

2. Mengajarkan dasar-dasar agama Islam

Mengajarkan dasar-dasar agama adalah kewajiban setiap orang tua. Pendidikan ini akan menumbuhkan iman pada diri anak sehingga dapat tumbuh menjadi pribadi yang memegang teguh ajaran Islam dalam kehidupan.

Kitab al- amali dari imam al-baqir dan imam ash shadiq menjelaskan tahapan awal mengenalkan anak kepada Allah Swt.

3. Mengajarkan salat dan diberikan contoh nyata

Dalam agama Islam salat merupakan tiang agama sehingga disebut juga sebagai fondasi utama untuk menjalankan kehidupan.

Mulai usia balita dengan mengajarkan berwudu dan salat secara urut. Meski tuntunan gerakan ada yang salah, tetap tuntunlah agar dia terbiasa.

4. Mengajarkan Tauhid pada anak

Kewajiban orang tua yang perlu diajarkan pada anak yaiut mengajarkan tauhid. Tauhid atau mengenalkan Allah Swt. perlu dilakukan sejak dini.

Menanam tauhid sejak dini bertujuan untuk membentuk pribadi yang berakhlak baik sehingga dapat tumbuh menjadi manusia yang bermoral agar terhindar dari perilaku buruk.

5. Mengajarkan puasa

Puasa merupakan satu di antara rukun Islam sehingga wajib diajarkan oleh para orang tua. Anda harus dapat memulai dengan menjelaskan pengertian puasa.

Orang tua dapat mengajarkan puasa saat anak anak berusia enam tahun. Anak mulai puasanya dengan latihan berpuasa setengah hari.

6. Memberikan nama yang baik

Agama Islam mengajarkan untuk memberi nama panggilan yang baik kepada anak. Pemberian nama merupakan doa untuk anak. Dengan nama panggilan yang baik, doa yang diberikan pun akan baik pula.

7. Membacakan kisah nabi sebagai suri teladan

Membacakan kisah-kisah penuh ajaran kebaikan juga dapat membentuk anak menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan. Selain itu, anak akan menerapkan nilai-nilai baik sesuai syariat Islam dalam kehidupannya.

8. Membiasakan untuk mengucapkan salam

Mengajarkan anak untuk mengucapkan salam menjadi satu di antara cara mendidik anak dalam agama Islam yang perlu diterapkan oleh orang tua agar anak memperhatikan salam.

Salam merupakan bentuk doa kepada orang lain, ada hadis yang menerangkan:

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Muliakanlah anak-anak kalian dan ajarilah mereka tata krama”. (HR Ibnu Majah)

9. Membiasakan diri bersikap sederhana

Membiasakan anak untuk bersikap sederhana dalam kehidupan merupakan satu di antara penerapan dari teladan Rasulullah saw.

Meski Rasulullah saw. memiliki kekuatan dan kekuasaan memimpin umat muslim, beliau tidak pernah mengandalkan kekuasaan tersebut untuk mengambil keuntungan pribadi.

10. Memperhatikan pergaulan

Penting bagi setiap orang tua untuk memperhatikan pergaulan anak-anaknya. Pastikan anak berada dalam lingkup pertemanan yang positif.

11. Mempererat hubungan ibu dan anak

Seorang ibu merupakan orang yang perlu dimuliakan oleh anak-anaknya. Hal ini karena surga anak berada di bawah telapak kaki ibu.

Jadi, diperlukan jalinan atau hubungan baik antara ibu dan anak. Ada hadis yang menjelaskan:

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Sungguh di dalam surga itu ada rumah yang disebut rumah kebahagiaan yang tidak dimasuki kecuali orang yang membahagiakan anak-anak kecil”. (HR Abu Ya’la dari Aisyah r.a.)

12. Mengajarkan sedekah atau berbagai kepada sesama

Bersedekah perlu diajarkan oleh orang tua sejak dini agar anak terbiasa melakukannya hingga dewasa. Sedekah atau berbagi pada sesama dapat dilakukan dalam bentuk ilmu, barang ataupun uang.

13. Mengajarkan adab yang baik

Adab-adab yang baik ini perlu diajarkan sejak dini. Adab-adab yang baik ini meliputi perilaku atau sopan santun anak terhadap orang lain.

Orang tua wajib mengajarkan anak untuk menghormati sesama, selalu bersikap jujur, murah hati, dan adil.

2 Bacaan yang Harus Diajarkan Pertama Kali pada Anak 

Orang tua mempunyai peran yang sangat vital terhadap masa depan anaknya. Melalui teladan, nilai-nilai, dan pendidikan moral yang diberikan, orang tua sangat berpengaruh terhadap pembangunan sikap, nilai, dan prinsip yang akan menjadi dasar perilaku anak di masa depan. Peran orang tua dalam mengenalkan Allah atau tauhid kepada anak di masa kecil menjadi satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Melalui percakapan, teladan, dan lingkungan yang kaya akan nilai-nilai agama, akan membantu peningkatan anak dalam pemahaman-pemahaman tauhid pada level dasar.  Di dalam Al-Qur’an, Allah memberikan sosok teladan yang bernama Luqman al-Hakim. Pria berkulit hitam ini bukanlah seorang nabi, namun Allah mengabadikan namanya dan menjadikan Luqman sebagai teladan umat Muhammad. 


Pendidikan dasar yang diajarkan Luqman kepada anaknya sehingga ia menjadi teladan adalah soal tauhid, yaitu meyakini keesaan Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah menceritakan: 

 وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (QS. Luqman: 13)

 Tauhid adalah satu hal yang bersifat teologis-dogmatis, keyakinan tentang Allah sebagai Tuhan menjadi pelajaran pertama seorang anak. Imam Ibnu Ruslan dalam nadzam Matan Az-Zubad mengatakan: 

Artinya: “Kewajiban pertama kali bagi manusia adalah mengenal Tuhan dengan penuh keyakinan,” 




 Dalam nadzam berikutnya, Ibnu Ruslan menjelaskan:

و النطق بالشهادتين اعتبرا   لصحة الإيمان ممن قدرا   ان صدق القلب

Artinya: “Mengucapkan kedua kalimat syahadah, untuk keabsahan iman bagi orang yang mampu, jika hati membenarkannya” (Ibnu Ruslan, Matan Az-Zubad, (Makkah, Maktabah Ats-Tsaqafah, 1984), hlm. 9)

Pendidikan orang tua yang wajib diajarkan pertama kali terhadap anak adalah mengenalkan Allah dengan cara mengajari mereka dengan dua kalimah syahadat yaitu:  أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ    وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ Asyhadu an lâ ilâha illallâh, wa asyhadu anna muhammadar rasûlullâh. Artinya: “Saya bersaksi tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah,”  Iman yang paling tepat adalah hatinya yakin, mulutnya berikrar mau mengakui atau ber-tauhid, serta amal atau tindakannya sesuai. Barangsiapa mulut dan sikapnya sudah tepat, namun hatinya tidak iman, orang ini disebut sebagai orang munafik. Barangsiapa hatinya yakin, sikapnya bagus, namun mulutnya tidak mau berikrar iman, orang ini namanya adalah orang kafir. Sedangkan hati iman, mulut sesuai, tapi sikapnya tidak sesuai, orang seperti ini masuk kategori orang fasik. Selain syahadat, pelajaran yang juga perlu diajarkan orang tua terhadap anaknya adalah soal kerelaan mereka terhadap Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad sebagai utusan. Habib Ali bin Abdurrahman al-Masyhur mengatakan, satu hal yang pertama kali diajarkan ulama salaf terhadap anak-anak mereka adalah bacaan:

 رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وِبِالإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا Radhītu billāhi rabbā, wa bil islāmi dīnā, wa bi Muhammadin shallallāhu ‘alaihi wa sallama nabiyyan wa rasūlā. Artinya: “Aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi dan rasul,” Ikrar ‘radhîtu’ ini sangat penting karena kalimat ini merupakan sebuah pengakuan atau sebuah bentuk deklarasi seseorang atas keimanannya. Barangsiapa yang benar-benar mengakui bahwa Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad sebagai Nabi, berarti eksistensi ketiga hal ini diakui oleh orang tersebut. Apabila seseorang meyakini ketiga hal ini eksis, otomatis orang tersebut akan patuh terhadap semua aturan-aturan yang telah ditetapkan baik soal ibadah, halal-haram, hudud, muamalat, munakahat, dan lain sebagainya.  Walhasil, ada dua bacaan yang wajib diajarkan pertama kali oleh orang tua pada anaknya yaitu pelajaran membaca dua kalimat syahadah dan radlitu. Wallahu a’alam. 

Editor : Alima sri sutami mukti

Doa Yang Diperkenankan Tuhan

Dalam Al-Qur’an terdapat perintah untuk melakukan shalat atau doa disertai dengan ketabahan sebagai sarana untuk meraih suatu kebutuhan (QS 2:45). Dari sini dapat dipahami bahwa doa saja, tanpa ketabahan dalam usaha belum menjadi jaminan terpenuhinya harapan. Ada juga janji Allah yang menyatakan: Aku perkenankan doa yang bermohon apabila ia bermohon kepada-Ku (QS 2:186).

“Apabila ia bermohon” merupakan syarat sekaligus isyarat bahwa ada saja yang mengangkat tangan dan menengadah ke langit, tetapi ia tidak berdoa memohon kepada-Nya. Doa yang tulus pasti diperkenankan oleh Tuhan. Jangankan yang datang dari seorang mukmin, seorang kafir- bahkan Iblis sekalipun – doanya juga diperkenankan oleh Tuhan (lihat QS 15:37).

Manfaat doa tidak dapat diragukan lagi. Alexis Carrel, seorang ahli bedah Prancis yang meraih dua kali Nobel, menegaskan bahwa kegunaan doa dapat dibuktikan secara ilmiah sama kuatnya dengan pembuktian di bidang fisika. Oliver Lodge secara halus menyindir mereka yang tidak melihat manfaat doa: “kekeliruan mereka, karena menduga bahwa doa berada diluar fenomena alam. Doa harus diperhitungkan sebagaimana memperhitungkan sebab-sebab lain yang dapat melahirkan suatu peristiwa.”

Di negara kita, upacara-upacara resmi sebagaimana halnya acara-acara keagamaan seringkali di akhiri dengan doa. Hanya saja sebagian dari permohonan kita itu mungkin tidak memenuhi syarat doa, karena tidak jarang terasa bahwa permohonan yang kita panjatkan bagaikan laporan kepada Tuhan yang disampaikan dengan bangga dan panjang lebar. Kita bagaikan berpidato dihadapan-Nya, padahal kita diperintahkan agar “Bermohon dengan rasa rendah diri dan dengan suara yang lembut” (QS 7:55).

Pada acara keagamaan, kita mempunyai kecenderungan menghimpun semua doa yang diketahui dan yang pernah dipanjatkan oleh makhluk Tuhan dalam berbagai situasi dan kondisi, sehingga doa terasa membosankan dan Amin diucapkan sebagai isyarat kepada si pendoa agar menyudahi doanya. Dalam khutbah-khutbah Jumat masih terdengar di sana-sini doa yang pernah dipanjatkan pada msa silam ketika umat Islam sedang berperang: “Ya Allah binasakanlah orang-orang kafir dan musyrik.”

Sepanjang pengetahuan saya yang dangkal, Nabi SAW. Tidak pernah memohon kebiasaan bagi suatu kaum kecuali terhadap mereka yang memerangi umat Islam secara fisik. Salah satu doa beliau yang populer adalah: “Wahai Tuhan berikanlah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui.”

Sering timbul pertanyaan di dalam benak saya: Apakah kenyataan di atas menunjukan bahwa kita masih belajar berdoa, dimulai dari keharusan membarengi doa dengan ketabahan berusaha, sampai pada etika berdoa dan materi harapan yang dipanjatkan? Apakah kenyataan di atas erupakan rahasia mengapa, misalnya, doa kita agar “Allah memuliakan Islam dan umat Islam serta memenangkannya di seluruh penjuru dunia” belum juga terkabulkan hingga kini?

Kalau beroda dan caranya pun masih perlu kita pelajari. Maka sungguh parah penyakit kita; berdoa pun kita belum pandai.

Sumber: Lentera Hati, M. Quraish Shihab      

Pewarta: Fachry Syahrul

Memahami Takdir Tuhan

Tidak jarang kita terlibat dalam perdebatan yang tak berujung pangkal perihal kepercayaan akan takdir dan dampaknya bagi umat Islam. Boleh jadi sebagian umat Islam mengalami kesulitan dalam memahami masalah pelik ini sehingga bingung. Karena, jangankan mereka, para ilmuwan dan filosof pun tidak sedikit yang bingung.

Mengingkari qadha dan qadr sebagai rukun iman tidak berati mengingkari kepercayaan kepada takdir dan qadha Ilahi.

Memang dalam surah An-Nisa ayat 136 hanya menyebut lima unsur keimanan, tanpa menyebut takdir. Tetapi, Nabi SAW ketika ditanya tentang iman, beliau menyebut takdir, disamping kelima lainnya. Namun harus diakui bahwa, ketika itu beliau tidak menamai rukun.

Semua kaum muslimin percaya sepenuhnya kepada takdir, hanya saja mereka berbeda dalam menafsirkan maknanya. Tulisan ini berusaha melihatnya dari sudut pandang Al-Qur’an. Taqdir berasal dari kata qadr, yakni “kadar”, “ukuran”, dan “batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui, begitu juga dengan bulan (lihat QS 36:38).

Dia yang menciptakan segala sesuatu, lalu dia menetapkan atasnya takdir (ketetapan) yang sesempurna-sempurnanya (QS 25:2).

dan tidak sesuatu pun kecuali ada di sisi kami khzanah (sumber)-nya dan kami tidak menurunkan nya kecuali dengan kadar (ukuran) tertentu (QS 15:21).

Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang mengulang-ulang hakikat ini.

Alhasil, segala sesuatu dari yang terbesar hingga yang terkecil, ada takdir yang ditetapkan Tuhan atasnya (lihat QS 65:3). Rumput hijau atau hangus terbakar pun berlaku atasnya takdir Tuhan (lihat QS 87:4-5). Bagaimana ia tumbuh subur, mengapa ia kering, berapa kadar kekeringan nya, kesemuanya itu ukurannya telah ditetapkan oleh Allah. Itulah takdir atau sunatullah yang menurut para rasionalis disebut sebagai hukum-hukum (Tuhan yang berlaku) di alam.

Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ukuran yang diberikan oleh Allah atasnya. Makhluk ini tidak dapat terbang seperti burung. Ini yang ditetapkan tuhan atasnya. Di samping itu, manusia berada dalam lingkungan takdir, sehingga apa yang dilakukannya tidak terlepas dari hukum-hukum dengan aneka kadar ukurannya itu.

Harus diingat bahwa hukum-hukum itu banyak, dan kita diberi kemampuan untuk memilih – tidak seperti matahari dan bulan, misalnya. Kita dapat memilih yang mana diantara takdir (ukuran-ukuran) yang ditetapkan Tuhan yang kita ambil. Umar bin Khathab membatalkan rencana kunjungannya ke satu daerah karena mendengar adanya wabah di daerah tersebut. Beliau ditanya: “ Apakah anda menghindar dari takdir Tuhan?” Umar menjawab: “Saya menghindar dari takdir yang satu ke takdir yang lain.”

Berjangkitnya penyakit akibat wabah merupakan takdir Tuhan. Bila menghindar sehingga terbebas dari wabah , ini juga takdir. Kalau begitu ada takdir baik ada takdir buruk. Tetapi ingat, Anda diberi takdir untuk memilih. Karenanya, jangan hanya saat petaka terjadi, kita berucap: “itu takdir.” Ucapkanlah juga pada saat kita meraih sukses.

Takdir, sebagaimana yang dipahami oleh Ahlussunnah boleh jadi tidak seperti di atas. Dan memang pelbagai pandangan tentang takdir sangat sulit dipahami, sehingga gampang menimbukan kesalah pahaman. Namun demikian, banyak faktor yang lebih dominan dalam kemunduran umat pada saat sekarang ini. Kurang adil menimpakanya pada satu faktor yang juga belum sepenuhnya terbukti.

Penulis: Fachry Syahrul

Tauhid dan Perdamaian

Jika Anda ingin melukiskan ajaran Islam dalam satu kata, maka kata itu adalah ‘tauhid’, demikian kesimpulan banyak pakar. Tauhid (keesaan Tuhan) merupakan suatu prinsip lengkap yang menembus seluruh dimensi serta mengatur seluruh aktivitas makhluk. Dari tauhid lahir berbagai ajaran kesatuan yang mengitari prinsip tersebut, misalnya, kesatuan alam raya, kehidupan, agama, ilmu, kebenaran, umat, kepribadian manusia, dan lain-lain. Kemudian dari masing-masing itu lahir pula tuntunan, dan semua beredar pada prinsip tauhid.

Perdamaian misalnya, yang merupakan salah satu tuntunan agama yang terpenting, lahir, antara lain, dari pandangan Islam tentang kesatuan alam raya. Sejak dari bagian yang terkecil sampai dengan wujud yang paling agung merupakan satu kesatuan: benda tak bernyawa, tumbuhan yang layu maupun yang segar, binatang melata, manusia, bahkan malaikat-malaikat kesemuanya berada dalam kesatuan. Semuanya diatur dan mengarah ke satu tujuan, yakni kepada hakikat tauhid.

Alam dengan segala isinya, begerak atas dasar satu sistem yang ditetapkan oleh-Nya. Manusia yang beragam ini berasal dari satu: Adam. Semua makhluk memiliki satu kebutuhan pokok yang sama, dan dari yang satu ini mereka dapat melanjutkan hidupnya. Kami jadikan air segala yang hidup, atau Kami jadikan air kebutuhan pokok semua yang hidup (QS 21:30).

Dalam kesatuannya, seluruh makhluk harus berkerja sama. Nah, dari sinilah perdamaian memperoleh pijakan sehingga menjadi keharusan. Perang tidak dibenarkan, kecuali untuk meraih pedamaian atau dalam bahasa Islam disebut li’la kalimatillah (untuk meninggikan kallimat Allah). Kalimat-Nya adalah kehendak-Nya dan kehendak-Nya tercermin dalam ketetapan-Nya yang mengatur sistem kerja alam raya dan kehidupan ini. Karena itu, tidak dibenarkan peperangan atas dorongan ambisi, fanatisme, ras, dan tidak pula untuk kepentingan satu bangsa dengan menindas bangsa lain. Kalaupun peperangan harus terjadi, maka semua yang tidak terlibat langsung harus dipelihara. Pohon dilarang ditebang, lingkungan jangan dinodai, anak-anak orang tua dan wanita harus dihormati, dan akhirnya, bila ada ajakan damai, maka ajakan itu harus disambut.

Jika mereka condong pada perdamaian, maka condong pulalah kepadanya dan berserah dirilah kepada Allah…. Jika mereka bermaksud menipumu maka cukuplah Allah sebagai pelindungmu (QS 8: 61-62).

Perdamaian dunia adalah dambaan Islam. Ini bermula dari kedamaian jiwa setiap pribadi yang kemudian meningkat kepada kedamaian dalam keluarga kecil, masyarakat, bangsa dan hingga seluruh negara di dunia. Bahkan hal itu diharapkan terus meningkat sampai terwujudnya kedamaian dengan seluruh makhluk yang berpuncak dengan kedamaian di negeri yang kekal atas anugerah Yang Maha Esa. Itulah yang selalu dimohonkan oleh Nabi muhammad SAW. Dan diajarkan kepada umatnya setiap selesai shalat: “Ya Allah Engkaulah Yang Mahadamai, dari-Mu bersumber kedamaian, kepada-Mu kembali kedamaian. Tuhan kami! Hidupkanlah kami dengan penuh kedamain dan masukanlah kami (kelak) di surga-Mu, negeri yang penuh kedamain. Engkau Pemelihara kami, Pemilik keagungan dan kemurahan.” 

Sumber: Lentera Hati, M.Quraish Shihab

Penulis: Fachry Syahrul