Keutamaan Dan Amalan Di Bulan Rajab

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah umur kami bertemu dengan bulan Ramadhan.”

 

 

Keutamaan Bulan Rajab

 

  1. Orang yang memuliakan bulan Rajab akan dimuliakan oleh Allah Swt. dengan seribu kemuliaan di hari kiamat.
  2. Bulan Rajab adalah bulan yang disukai oleh Allah.
  3. Kemuliaan bulan Rajab terdapat dalam malam Isra’ Mi’rajnya.
  4. Jika berpuasa sehari di bulan Rajab akan mendapatkan surga tertinggi (Firdaus) dan akan lipat gandakan pahalanya.
  5. Jika berpuasa tiga hari yaitu pada tgl 1, 2, dan 3 Rajab, maka Allah akan memberikan pahala seperti 900 tahun berpuasa dan menyelamatkannya dari bahaya dunia, dan siksa akhirat.
  6. Puasa 3 hari di bulan Rajab akan dibuatkan parit yang aluaa untuk menghalangi orang tersebut ke neraka (panjangnya setahun perjalanan).
  7. Puasa 7 hari di bulan Rajab akan dilindungi dari 7 pintu neraka.
  8. Puasa 16 hari di bulan Rajab akan dipertemukan dengan Allah di dalam surga dan menjadi orang pertama yang menziarahi Allah dalam surga.
  9. Puasa satu hari di bulan Rajab seumpama puasa empat puluh tahun dan akan diberi air minum dari surga.
  10. Bulan Rajab merupakan bulan diampunkan dosa-dosanya yang bertaubat kepada-Nya.
  11. Bersedekah di bulan Rajab seperti bersedekah seribu kali lipat dan akan diangkat derajatnya.
  12. Kelebihan bulan Rajab dari segala bulan ialah seperti kelebihan Al-Quran diatas semua kalam (perkataan).
  13. Diampunkan dosa orang-orang yang meminta ampun dan bertaubat kepada-Nya.

 

 

Sabda Rasulullah SAW. tentang bulan Rajab :

 

Sabda Rasulullah SAW : “Pada malam Mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril : ‘Wahai Jibril untuk siapa sungai ini?’ Jibril menjawab : ‘Ya Muhammad, sungai ini adalah untuk orang yang membaca shalawat untuk engkau di bulan Rajab ini.’”

 

Dalam sebuah riwayat Tsauban bercerita : “Ketika kami berjalan bersama Rasulullah SAW. melalui sebuah kubur, Rasulullah berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian beliau berdo’a kepada Allah SWT.

Lalu saya bertanya kepada beliau: ‘Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis?’ Lalu beliau menjawab : ‘Wahai Tsauban, mereka sedang disiksa dalam kuburnya, dan saya berdoa kepada Allah, lalu Allah meringankan siksa kepada mereka’. Sabda beliau lagi: ‘Wahai Tsauban, kalau sekiranya mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di bulan Rajab niscaya mereka tidak akan disiksa di dalam kubur.’

Kami bertanya : ‘Ya Rasulullah, apakah hanya berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat mengelakkan dari siksa kubur?’ Sabda beliau: ‘Wahai Tsauban, demi Allah, Zat yang telah mengutusku sebagai nabi, tiada seorang lelaki dan perempuan muslim yang berpuasa satu hari dan mengerjakan shalat malam sekali dalam bulan Rajab dengan niat karena Allah, kecuali Allah mencatatkan dia seperti berpuasa dan mengerjakan sholat malam bertahun-tahun.’”

Baca Juga : Acara Makesta Kaderisasi IPNU Dan IPPNU Tahun 2023

 

Amalan dan Dzikir Di Bulan Rajab

 

Di bulan Rajab terdapat amalan khusus dan amalan umum. Amalan khusus adalah amalan yang dilakukan pada hari atau malam tertentu di bulan Rajab. Adapun amalan umum adalah amalan yang dilakukan selama bulan Rajab. Amalannya sebagai berikut:

  1. Memperbanyak membaca do’a :

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ فِى خَيْرٍ وَلُطْفٍ وَعَافِيَةٍ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

  1. Membaca setiap hari di pagi dan sore hari :

رَبِّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَتُبْ عَلَيَّ

  1. Membaca Sayyidul Istigfar di pagi dan sore hari :

اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّي لَا اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِي وَاَنَا عَبْدُكَ وَاَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ اَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا مَنَعْتُ اَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَاَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي فَاِنَّهُ لَايَغْفِرُ ذُنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ

  1. Membaca 100x setiap hari :
  2. Tanggal 1-10 :  سبحان الحيّ القيّوم
  3. Tanggal 11-20 : سبحان الاحد الصّمد
  4. Tanggal 21- 30 : سبحان الرّءوف الرّحيم
  5. Membaca di hari Jum’at terakhir di bulan Rajab, saat Khatib membaca do’a di khutbah kedua, sebanyak 35x :

اَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدُ رَسُوْلُ اللهِ

 

Demikian diantara keutamaan juga amalan di bulan Rajab, tentu masih banyak lagi keutamaan lain juga amalan yang dianjurkan. والله اعلم

 

 

penulis : Rahmi Rahmatussalamah

Tawassul

 

Tawassul dalam tinjauan bahasa bermakna mendekatkan diri. Sementara menurut istilah, tawassul adalah pendekatan diri kepada Allah dengan wasilah (media/perantara), baik berupa amal shaleh, nama dan sifat, ataupun zat dan jah (derajat) orang shaleh semisal para Nabi, Wali dan lainnya.

Banyak sekali cara untuk berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan didahului bacaan alhamdulillah dan shalawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar doa yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah SWT . Dengan demikian, tawassul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan

Diantara macam tawassul yang paling dipermasalahkan adalah tawassul dengan menyebut orang-orang shaleh (Shalihin) atau keistimewaan mereka di sisi Allah. Namun mayoritas ulama mengakui keabsahannya secara mutlak, baik saat para shalihin masih hidup maupun sepeninggalan mereka, berdasarkan dalil al-Qur’an, Hadits dan praktik tawasul para Sahabat Nabi seperti dalam firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُو اتَّقُواللهَ وَبْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. (المائده : 35)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah perantara mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kalian berbahagia”. (QS. Al-Maidah: 35)

Kata al-Wasilah yang secara bahasa berarti perantara, jika ditinjau dengan disiplin ilmu ushul fiqih termasuk kata ‘amm (umum), sehingga mencakup berbagai macam perantara. Kata al-wasilah ini berarti setiap hal yang Allah jadikan sebagai sebab kedekatan kepadaNya dan sehingga media dalam pemenuhan kebutuhan dariNya. Prinsip sesuatu dapat dijadikan wasilah adalah sesuatu yang diberi kedudukan dan kemuliaan oleh Allah. Karenanya, wasilah yang dimaksud dalam ayat ini mencakup berbagai model wasilah, baik berupa Nabi dan Shalihin, sepanjang hidup dan setelah kematiannya, atau wasilah lain, seperti amal shaleh, derajat agung para Nabi dan Wali, dan lainnya. Jika salah satu wasilah tersebut tidak diperbolehkan, mestinya harus ada dalil mentakhsis (pengkhususan)nya. Jika tidak ada, maka ayat itu tetap dalam keumumannya, sehingga kata al-wasilah dalam ayat itu mencakup berbagai model wasilah atau tawassul yang ada.

Imam Syaukani mengatakan bahwa tawassul kepada Nabi Muhammad SAW  ataupun kepada yang lain (orang shaleh), baik pada masa hidupnya  maupun  setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para sahabat. “Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah SWT, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah SWT yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi hamba yang shalih, hidup atau mati tak membedakan atau membatasi kekuasaan Allah SWT, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat.”

Bahwa Nabi SAW mengajarkan tawassul dengan menyebut zat beliau semasa hidup. Terbukti dalam doa disebutkan:

اَللَّهُمَّ إِنِيْ أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم نَبِيِّ الرَّحْمةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ

“Wahai Allah, Aku memohon dan menghadap kepada-Mu, dengan menyebut Nabi Muhammad SAW, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sungguh aku menghadap kepada Tuhanmu dengan menyebutmu.”

Perlu kami jelaskan kembali bahwa tawassul secara bahasa artinya perantara dan mendekatkan diri. Disebutkan dalam firman Allah SWT:

 يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, ” (Al-Maidah:35).

Pasca Rasulullah SAW wafat, tawassul tersebut diajarkan oleh Sahabat ‘Utsman bin Hunaif kepada orang yang mempunyai kepentingan dengan Khalifah ‘Usman bin Affan: 

عن أبي جعفر الخطميّ المدنيّ عن أبي أمامة بن سهلِ بْنِ حنِيفٍ عن عمّهِ عثمانَ بن حُنيْفٍ: أنّ رجلا كان يختلف إلى عثمانَ بنِ عفان في حاجةٍ له, فكان عثْمانُ لايختلتْ إليهِ ولا ينظُرُ فيْ حاجتهِ. فلقيَ ابنَ حنيفٍ فشكى ذلكَ إليهِ, فقال لهُ عثمان بنُ حُنِيفٍ: ائتِ المضأةَ فَتَوضأ, ثمّ ائتِ المسجد فصلِّ فيه ركعتين. ثمّ قُل: اللّهمَ إني أسألكَ وأتوجه إليكَ بنبينا محمد صلي الله عليه وسلم نبيِّ الرحمة, يا محمد إني أتوجه بك إلى ربّي فتقضي لي حاجتي. وتذكر حاجتك ورحْ حتى أروحَ معكَ. فانطلق الرّجلُ فصنع ما قال له. ثمّ اتى باب عثمان بن عفّان, فجاء البوّابُ حتى أخذ بيده, فأدخله على عثمان بن عفان, فأجلسه معه على الطنفسة, فقال: حاجتك؟ فذكر حاجته وقضاها له, ثمّ قال له: ما ذكرت حاجتك حتى كن الساعة. وقال: ما كانت لك من حاجة, فذكرها. ثمّ إنّ الرّجل خرج من عنده فلقيَ عثمان بن حنيفٍ, فقال له: جزاك الله خيرًا ما كان ينظر في حاجتى ولايلتفتُ إليَّ حتى كلمتهُ فيِّ, فقال عثمان بن حنيفٍ: واللهِ ماكلمته ولكني شهدت رسواللهِ وأتاه ضريرٌ, فشكى إليه ذهابصره, فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: فتصبر. فقال: يا رسول الله, ليس لى قائدٌ وقد شقّ عليّ. فقال النبيّ صلى الله عليه وسلم: ائت المضأ, ثمّ صلّ ركعتينى ثمّ ادع بهذه الدعواتِ. قال ابن حنيفٍ: فوالله ما تفرّقنا وطالَ بنا الحديث حتى دخل علينا الرجل كأنه لم يكن به ضرٌّ قطُّ. (رواه الطبراني)

“Dari Abu Ja’far al-Khathmi al-Madani, dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, dari pamannya, ‘Utsman bin Affan, sungguh seorang lelaki mendatangi ‘Utsman bin Affan dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Lalu ‘Utsman bin Affan RA tidak memperhatikan dan tidak memenuhi kebutuhannya. Beliau kemudian berjumpa Ibn Hunaif dan mengadukan peristiwa itu padanya. Lalu Ibn Hunaif berkata padanya; “Pergilah ke tempat wudhu, berwudhu, masuklah masjid shalatlah dua raka’at di dalamnya, kemudian berdoalah (dengan redaksi): “Ya Allah, Aku memohon dan menghadap kepadamu dengan (menyebut) Nabi-Mu, Muhammad SAW, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, Aku menghadap kepada tuhanmu dengan (menyebut)mu, maka penuhilah kebutuhanku. Tenanglah sampai aku istirahat bersamamu.” Lalu orang itu pergi melaksanakan nasihat Ibn Hunaif. Kemudian beliau mendatangi ‘Utsman bin Affan dan (saat sampai di pintunya) beliau disambut penjaganya. Lalu tangannya digandeng dan diantar menghadap ‘Utsman. Beliau dipersilahkan duduk bersamanya di atas permadani, kemudian ditanya: “Apa yang kamu butuhkan? Lelaki itu menyebutkan kebutuhannya, lalu ‘Utsman memenuhinya. Beliau berkata: “Apakah kamu masih mempunyai kebutuhan yang lain, maka silahkan anda sebutkan?” Lelaki itu kemudian pulang dan bertemu dengan ‘Utsman bin Hunaif, beliau berkata: Semoga Allah memberi balasan terbaik bagimu. ‘Utsman bin Affan RA tidak memenuhi kebutuhanku dan memperhatikanku sampai engkau membicarakan kebutuhanku padanya.” ‘Utsman bin Hunaif menjawab: “Demi Allah Aku tidak berbicara padanya, namun aku pernah bersama Rasulullah SAW, dan beliau didatangi orang buta dan mengadukan kebutaannya pada beliau. Kemudian Nabi SAW berkata: “Bersabarlah! “Lelaki itu menjawab: “Wahai Rasulullah SAW, Aku tidak punya pemadu dan kerepotan. Nabi SAW menjawab: “Pergilah ke tempat wudhu, berwudhulah, lakukan shalat dua raka’at, kemudian berdoalah dengan doa-doa ini (yang ‘Utsman bin Hunaif ajarkan kepada lelaki itu). Lalu Ibn Hunaif berkata: “Demi Allah, kami belum sempat berpisah dan perbincangan kami belum begitu lama sampai lelaki itu datang (ke tempat kami) dan sungguh seolah-olah ia tidak pernah buta sama sekali.” (HR. At-Thabarani).

Berpijak pada kisah ini maka Tawassul dengan menyebut nama pribadi orang shaleh pasca kematiannya dibolehkan. Sehingga tawassul kepada mereka baik semasa hidupnya maupun pasca kematiannya sama-sama masyru’iyyah atau dibenarkan oleh syariat.

 

Sumber: Khazanah Aswaja

Editor: HasbiSayyid

 

.

Jangan Berlebihan Dalam Urusan Duniawi!

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته  بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله سيدنا محمد ابن عبد الله وعلى اله واصحابه ومن تبع سنته وجماعته من يومنا هذا الى يوم النهضة، اما بعد.

Saudara ku sekalian yang di rahmati Allah Swt, Amin.

Mencari rizki untuk memenuhi kebutuhan hidup memang sangatlah penting, demi menunjang segala aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Namun masih banyak orang yang terlalu berlebihan dalam mencari rizki, sampai meninggalkan urusan yang lebih wajib.

Dalam kesempatan kali ini, Saya akan memberikan suatu penjelasan mengenai “tidak boleh berlebihan dalam urusan duniawi”.

Penjelasan ini diambil ketika Saya sedang melaksanakan kegiatan Balaghan(mengaji) Kitab Al Hikam, karangan Imam Ibnu Athoillah As Sakandary, oleh Pangersa Kyai Acep Sanusi.

تمكن حلاوة الهوى من القلب هو الداء العضال.

“Salah satu penyakit yang sulit disembuhkan, kecuali taufik dan hidayah Allah yang menjadi obatnya adalah hubbu dunya (orang yang gila terhadap urusan Dunia)”.

Seorang Suami yang menafkahi Istrinya memang lah pekerjaan yang baik, namun jika Suami tersebut sampai meninggalkan pekerjaan yang lebih wajib dari pekerjaan tersebut maka pekerjaannya menjadi tidak baik, dengan catatan tidak ada udzur. Contoh sampai meninggalkan Sholat lima waktu, dan contoh yang lainnya.

Juga ada tambahan tentang Orang yang terlalu berlebihan dalam masalah Duniawi, yaitu di Surat At Takatsur.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ . كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ . ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ . كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ . لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ . ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ . ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Artinya:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”.

Surat At Takatsur diturunkan dengan mengecam orang-orang yang saling berlomba untuk bermegah-megahan serta membangga-banggakan harta. Saling berkompetisi dalam gemerlap duniawi. Mereka lalai dengan nikmat akhirat yang abadi.

Bahkan Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan lebih rinci. “Sungguh kalian akan ditanya tentang nikmat-nikmat itu. Dari mana kalian peroleh? Ke mana kalian belanjakan? Apakah kalian peroleh melalui ketaatan dan kalian gunakan untuk ketaatan? Ataukah kalian peroleh melalui kemaksiatan lalu kalian gunakan untuk kemaksiatan pula? Apakah kalian peroleh secara halal dan kalian gunakan untuk yang halal? Atau kalian peroleh secara haram dan kalian gunakan untuk yang haram? Apakah kalian mensyukurinya? Apakah kalian tunaikan kewajibannya? Lalu, apakah kalian gunakan juga untuk kepentingan masyarakat atau kalian nikmati sendiri?”.

Oleh karena itu Setiap yang kita nikmati adalah nikmat dari Allah yang kelak akan ditanya dan dimintai pertanggung jawaban. Mulai dari kesehatan, waktu, harta hingga anak-anak. Jangan sampai nikmat-nikmat itu justru melalaikan dari akhirat. Melalaikan dari beribadah kepada Allah. Karena jika sampai demikian, nerakalah tempatnya. Semoga kita terhindar dari berbangga-bangga dan bermegah-megahan yang melalaikan dari akhirat dan ketaatan. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis: Rifky Aulia

Jadikan Tahun Baru menjadi Acuan Untuk Perbaikan Diri

Baru saja kita meninggalkan bulan Desember dan memasuki bulan Januari. Bulan pertama yang mengawali tahun baru untuk tahun 2022. Meski tahun sebelumnya sudah lewat, suasana tahun baru masih sangat terasa. Sisa-sisa perayaan dan beragam selebrasi masih muncul dan tersebar di beberapa media, terlebih sosial media, seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, Twitter, dan lainnya.

Selain itu, beberapa orang masih berlomba-lomba menampilkan yang terbaik sebagai kenangan akhir dari tahun sebelumnya, sekaligus menjadi momentum paling awal dan berharga yang tidak bisa ditemukan selain di penghujung tahun. Akan tetapi, yang perlu dan penting untuk ditumbuhkan kembali, tahun baru tidak hanya berbicara tentang selamat datang era baru, namun juga mengajarkan selamat tinggal masa lalu.

Dengan hilangnya masa lalu dan datangnya tahun baru, menunjukkan bahwa umur manusia semakin bertambah, dengan bertambah artinya semakin mendekati kematian dan demikian seterusnya. Umur yang oleh Rasulullah diperkirakan antara enam puluh sampai tujuh puluh kian menghilang, dan akan terus menghilang.
Oleh karenanya, sebagai umat Islam, semangat merayakan tahun baru seperti saat ini, bukan sekadar dengan menggelar pesta kembang api, atau menghabiskan malam dengan gegap gempita trompet, namun sudah selayaknya, tahun baru memberikan semangat baru dalam mendekatkan diri kepada Allah swt, serta membuat amal ibadah dan karya nyata selama hidup di dunia.

Dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Hasyr ayat 18).

Segala perbuatan dan tindakan yang sebelumnya kurang baik dan tidak sempurna, saatnya untuk diperbaiki dan disempurnakan. Datangnya tahun baru menjadi ajang untuk menumbuhkan semangat baru. Hal itu dilakukan agar satu tahun ke depan tidak menjadi tahun yang memiliki nilai dan sejarah yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat,

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ

Artinya, “Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim).

Hadits ini secara umum mengajarkan kita tentang semangat baru dalam menjalani hari-hari baru hingga tahun baru. Jika hari ini menjadi lebih baik, tentu sangat beruntung, begitu juga sebaliknya, jika masih sama dengan hari sebelumnya, atau bahkan lebih buruk, maka tentunya akan menjadi hari-hari yang dilaknat bahkan tidak bisa mengambil manfaat dan keberkahan di dalamnya.

Alhamdulillah di Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ di malam tahun baru ini para santri semangat merayakan dengan melaksanakan kegiatan / program belajar mengajar seperti di hari hari biasanya.

Sudah saatnya, semangat baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik perlu ditingkatkan. Segala kekurangan dan kesalahan yang terjadi pada tahun sebelumnya sudah tiba untuk diubah menjadi kebaikan dan kelebihan di tahun berikutnya.

 

Sumber : Nuonline.com
Editor : Dimas Pamungkas

ISTIGHATSAH

 

Istighatsah berarti minta pertolongan. Di antara doa istigatsah yang sering dibaca Rasulullah Saw adalah:

(عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ, قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ: يَاحَىُّ يَاقَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ.(رواه الترمذيوالبزار

“Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: “Jika menemukan kesulitan , Rasulullah berdoa: Wahai Allah Yang Maha Hidup Wahai Allah Yang Maha Mengurus Segala Sesuatu, Dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan.” (HR al-Tirmidi dan al-Bazzar)

Selain doa tersebut, Bacaan yang ada dalam istighatsah adalah al-Asma’ al-Husna, istigfar, shalawat dan lainnya. Namun yang sering dipermasalahkan adalah redaksi shalawat:

اَللَّهُمَ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيْلَتِي أَدْرِكْنِيْ يَا رَسُواللهِ.

“Ya Allah, Limpahkan shalawat dan keselamatan atas sayyidina Muhamad, Sungguh sangat terbatas kemampuanku, Karena itu temuilah aku (dengan pertolongan) wahai utusan Allah.”

Redaksi istighatsah ini tidak mengandung kesyirikan, Sebab hakikatnya dalam setiap doa umat Islam hanya meminta kepada Allah. Di masa khalifah Umar bin Khattab RA juga ada shahabat yang berdoa di dekat makam Nabi dan menyebut Rasulullah:

عَنْ مَالِكْ الدَّرِ, قَالَ: وَكَانَ خَازِنَ عُمَرَ عَلَى الطَّعَامِ، قَالَ: أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِيْ زَمَنِ عُمَرَ، فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِىِّ فَقَالَ: يَارَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ فَإِنَهُمْ قَدْ هَلَكُوْا، فَأَتَى الرَّجُلَ فِيْ الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهُ: ائتِ عُمَرَ فَأَقْرِئهُ السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُ مُسْقِيُّوْنَ، وَقُلْ لَهُ: عَلَيْكَ الْكَيْسَ، عَلَيْكَ الْكَيْسَ، فَأَتَى عُمَرَ فَأَخْبِرْهُ فَبَكَى عُمَرَثُمَ قَالَ:َيَا رَبِّ لاَآلُوْإِلأَ مَاعَجَزْتُ عَنْهُ.

“Diriwayatkan dari Malik ad-Dar, bendahara pangan Khalifah Umar bin al-Khatthab R.A, bahwa musim penceklik melanda kaum Muslimin pada masa Khalifah Umar. Maka seorang sahabat (yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani R.A) mendatangi makam Rasulullah SAW dan mengatakan: “Wahai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu, karena sungguh mereka benar-benar telah binasa”. Lalu orang ini bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW dan beliau berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Umar dan beritahukan hujan akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya: “Bersungguh-sungguhlah melayani umatku”. Kemudian sahabat itu datang kepada Umar dan memberitahukan apa yang dilakukannya dan mimpi yang dialaminya. Lalu Umar menangis dan mengatakan: “Ya Allah, saya akan kerahkan semua upayaku kecuali yang aku tidak mampu”.

Pertanyan berikutnya, Apakah Rasulullah bisa mendoakan dari dalam kuburnya? Dan Dalilnya sebagai berikut:

عَنْ عَبْدُ اللهِ عَنْ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: حَيَاتِيْ خَبْرٌ لَكُمْ تُحْدِثُوْنَ وَيُحْدَثُ لَكُمْ، وَوَفَاتِي خَيْرٌلَكُمْ تُعْرَضُ عَلَيَّ أَعْمَالَكُمْ، فَمَا رَأَيْتُ مِنْ خَيْرٍحَمِدْتُ اللهَ عَلَيهِ، وَمَا رَأَيْتُ مِنْ شَرِّ اِسْتِغْفَرْتُ لَك

“Diriwayatkan dari Abdullah, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Hidupku adalah kebaikan bagi kalian dan matiku adalah kebaikan bagi kalian. Saat aku hidup kalian melakukan banyak hal lalu dijelaskan hukumnya melalui aku. Matiku juga kebaikan bagi kalian, diberitahukan amal perbuatan kalian kepadaku. Jika aku melihat amal kalian baik kalian yang buruk, maka aku memohon ampun untuk kalian kepada Allah.” (HR al-Bazzar)