Program Pencetak Santri Menjadi Mubaligh

Secara etimologis, kata Mubaligh ini diambil dari kata Ballagho yang maknanya adalah penyampai atau bisa pula disebutkan sebagai yang menyampaikan. Dengan demikian maka Mubaligh bisa diartikan sebagai sebutan bagi orang-orang yang menyampaikan atau menyiarkan ilmu agama kepada orang lain.

Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ punya metode tersendiri untuk mencetak santri-santrinya sebagai mubaligh yang pandai dalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Yaitu dengan adanya Mubalighan sebagai salah satu program mingguan.

Program-program unggulan yang ada di Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri termasuk Program Mubalighan ini telah ada sejak pesantren dipimpin oleh Mama KH. Ahmad Faqih yang sekaligus pendiri Yayasan pondok pesantren pada tahun 1972 M.

Pada setiap malam Kamis sesudah kajian kitab Ta’lim umum, para santri diharuskan memasuki tempat Mubalighan masing-masing untuk menonton peserta Mubaligh yang terpilih menyampaikan materi Mubaligh di malam tersebut.

Program mingguan Mubalighan ini dimulai dari yang menjadi MC, pembaca Tawasul, Al-Qur’an dan Sholawat, do’a, juga peserta Mubaligh akan bergiliran semua santri di setiap minggunya, dengan diawasi oleh perwakilan dari Ustadz / Ustadzah dan biro Pendidikan.

Untuk peserta mubalighnya, mulai dari kelas 1 tingkat Tsanawiyah sampai kelas 3 Ma’had Aly. Berbeda dengan kelas lainnya yang menyampaikan materi dengan Bahasa lokal, untuk kelas 3 tingkat Aliyah diwajibkan mubalighan dengan berbahasa Arab. Dengan membawakan materi yang dicari atau ditulis sendiri oleh para peserta.

Kelas yang lain seperti I’dadiyah, tingkat Ibtidaiyyah, dan santri dari kelas lainnya yang belum terpilih sebagai mubaligh diwajibkan untuk menyimak dan menuliskan kembali pesan serta isi dari mubaligh tersebut pada buku yang sudah disediakan oleh seksi Pendidikan. Dan sebulan sekali, akan ada pengumpulan buku tersebut untuk pemeriksaan.

Disamping itu, dengan program ini Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ juga menekankan pada para santrinya agar dapat menguasai berbagai literatur keislaman mulai dari kitab alat, fiqih, tauhid, hadits, tafsir, dan lainnya.

Berbicara tentang Mubaligh, untuk lebih mengembangkan lagi dalam hal berbahasa, salah satu organisasi santri Miftahulhuda Al-Musri’ (OSMA) -yaitu biro Bahasa- juga mengadakan lomba Pidato Bahasa Arab antar kelas setiap satu bulan sekali yang diikuti oleh satu orang perwakilan dari setiap kelasnya.

Program ini sangat bermanfaat bagi santri agar terbiasa dalam berdakwah secara lisan jika telah lulus dari pesantren. Hasilnya, para lulusan Pesantren MIftahulhuda Al-Musri’ kerap diminta oleh masyarakat untuk menjadi pengajar atau pengisi acara pengajian, terutama di tempat-tempat yang minim terdapat tokoh agamanya.

“Sering alumni yang lulus dari sini langsung diminta warga, dibuatkanlah seperti madrasah untuk mengisi pengajian dan mengajar.” kata salah satu dari bagian Pendidikan. Dan masih banyak lagi berbagai dampak manfaat lainnya yang menjadi inspirasi bagi para santri dalam berbagai program pembelajaran.

 

penulis : Rahmi Rahmatussalamah

 

Praktek Obsevasi Menggunakan Alat Tradisional (Ilmu Falak)

Selama ini banyak orang beranggapan bahwa mempelajari ilmu falak sangat sulit sehingga minat orang untuk mempelajari ilmu falak menjadi sangat minim. Padahal ilmu falak menjadi pijakan utama dalam praktik ibadah sehari-hari. Ini menyangkut penentuan arah kiblat, waktu shalat, awal puasa Ramadhan, penentuan awal bulan qamariyah, hingga terjadinya gerhana.

“Mempelajari ilmu falak sebenarnya tidak sulit. Ilmu falak sangat penting untuk dipelajari. Karena ini menyangkut ibadah kita sehari-hari, praktik ibadah dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tidak bisa lepas dari ilmu falak. Masih banyak masyarakat yang kurang memahami dan tidak memperhatikan aspek arah kiblat dalam pembangunan tempat ibadah dan dalam hal penentuan waktu shalat.

“Padahal ini berkaitan dengan sah atau tidaknya ibadah kita. Tugas para santri ketika sudah pulang ke rumah masing-masing salah satunya ikut memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya ilmu falak. Pesantren turut bertanggung jawab atas praktik keagamaan masyarakat. ”Sehingga perlu dipersiapkan kader-kader yang mumpuni dalam penguasaan ilmu falak. Dan bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat di sekitarnya.”

Ilmu falak melibatkan banyak disiplin ilmu dari astronomi, fisika, matematika, hingga fikih. Mempelajari ilmu falak harus dimulai dari dasar, kemudian memahami istilah-istilah, sampai proses perhitungan.
Melalui Observasi ini, diharap lahir generasi baru yang akan merawat dan konsen dalam mendalami ilmu falak.

Seperti yang sering dilakukan para santri Yayasan Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’, melakukan observasi satu sampai tiga kali dalam satu semester. kitab tentang ilmu falak yang dikaji di antaranya adalah kitab Takribul Maqsod untuk tingkat satu – dua Ma’had Aly, Tashilul A’mal untuk tingkat 3 Ma’had Aly, Khulashotul Wafiyah untuk tingkat Dirosatul Ulya.

 

pewarta: Dimas pamungkas

Setoran Hafalan Menjadi Langkah Utama Dalam Memahami Kitab Kuning

Khazanah ilmu pengetahuan Islam di dunia pesantren sangat kaya. Ada sekitar 200 judul kitab yang dipelajari di pesantren, menurut data yang pernah dikemukakan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Kalangan pesantren terus berupaya agar kebudayaan pesantren ini dapat eksis di tengah perubahan zaman dan globalisasi. Literasi kebudayaan salaf ini mampu menunjukkan kiprah para ulama sebagai warasatul anbiya’ (ahli waris para nabi).

Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau mengatakan:
إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم
“Ilmu ini adalah bagian dari agama kalian, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil ilmu agama”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam Al Ilal, 1/355).

Diantara bentuk pertanggung jawaban dan ke hati-hatian dalam memberikan ilmu Agama agar tetap berada dalam jalur ahlu sunnah wal jamaah adalah dengan merujuk kepada kitab-kitab yang mengantarkan pemahaman yang benar dalam berbagai disiplin Ilmu. Adapun kitab-kitab yang dijadikan talaran setiap pertingkat kelas yang dikaji di Pondok Pesantren Miftahulhuda Almusri’:

  1.  Al-Jurumiyah

Pada tahun 672 H, Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Daud ash-Shinhaji lahir di kota Fes, Maroko. Dia lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Ajurum.  Kitab Jurumiyyah berisi teori-teori dasar ilmu nahwu, salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang membahas perubahan huruf akhir dari sebuah kata yang menjadi tanda kedudukan kata tersebut dalam sebuah kalimat, apakah kata itu berposisi sebagai subjek, predikat, objek, atau keterangan tambahan. Ilmu nahwu wajib dipelajari bagi orang-orang yang hendak mendalami ilmu-ilmu agama Islam yang sumber utamanya adalah Al-Qur’an dan hadis yang menggunakan bahasa Arab, dan bahasa Arab tidak bisa dipahami dengan baik kecuali dengan mempelajari ilmu nahwu. Dan Ibnu Ajurum berhasil meringkas sekaligus mengurutkan bab-bab dan kaidah-kaidah ilmu nahwu yang terpenting di dalam Jurumiyyah dengan sangat baik, sehingga kitab ini masyhur sebagai kitab yang mudah dipahami dan dihafalkan bagi para mubtadi’ (pemula).

Di Indonesia, kitab Jurumiyyah masih menjadi kitab pelajaran yang dikaji hampir seluruh pesantren, baik yang berada di pelosok desa maupun di tengah-tengah kota. Padahal usia kitab ini sudah lewat dari tujuh abad dan sudah banyak karangan-karangan ilmu nahwu yang lebih baru yang disajikan tidak kalah apik dan telah disesuaikan dengan keadaan bahasa Arab kekinian. Kitab Jurumiyah ini juga menjadi dasar talaran kelas tingkat Ibtidaiyyah di Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ yang mana setiap minggu nya para santri harus menyetorkan talaran tersebut kepada guru shorogannya.

 

  1. Nadzmul Maqsud

Kitab kedua yang dihafal masing-masing 10 bait per minggunya oleh tingkat Ibtidaiyah yaitu Nadzmul Maqsud atau yang sering disebut Yaqulu. Adapun dalam syair atau Nadzam Maqshud karya Syaikh Ahmad bin Abdurrahim al-Thahthawi (1132-1302 H), memuat sekitar 113 syair. Isinya membahas mengenai perubahan bentuk kata atau kalimat didalam bahasa Arab.

Di pesantren-pesantren tradisional di Nusantara (NU), keberadaan teks nadzam “al-Maqshûd” tentu tidaklah asing. Teks ini banyak tersebar, dipelajari, dan dihafal oleh para pelajar di pesantren-pesantren tersebut. Dalam tradisi intelektual pesantren di Nusantara, morfologi Arab (ilmu sharaf) harus dikuasai oleh para pemula sebagai syarat mutlak untuk bisa membaca dan memahami teks-teks berbahasa Arab. Pembelajaran morfologi biasanya bersamaan dengan pembelajaran ilmu Sintaksis Arab (ilmu nahwu).

 

  1. Alfiyah Ibnu Malik

Alfiyah atau Al-Khulasa al-Alfiyah merupakan syair tentang tata bahasa Arab dari abad ke-13. Kitab ini ditulis oleh seorang ahli bahasa Arab kelahiran Jaen, Spanyol yang bernama lengkap, Syeikh Al-Alamah Muhammad Jamaluddin ibnu Abdillah Ibnu Malik al-Thay. Ibnu Malik.

Kitab ini berisi tentang kaedah bahasa arab yang bermuara seputar ilmu nahwu dan shorof yang banyak di-aji dan di-kaji di dunia pesantren-pesantren dan fakultas-fakultas pada umumnya, bahkan kitab ini dijadikan landasan pengajaran literature bahasa arab di universitas Al-Azhar Kairo-Mesir. Dinamakan Alfiyah karena syair ini berjumlah 1002 bait. Di Al-Musri’ juga kitab ini menjadi talaran yang wajib disetorkan oleh kelas tingkat Tsanawiyah dengan menyetorkan 28 bait setiap satu minggu.

 

  1. Sullamul Munauroq

Salah satu kitab yang dijadikan talaran di Al-Musri’ adalah Nadzom Sullamul Munauroq mempelajari tentang ilmu mantiq karangan Syekh Abdurrahman Al-Akhdhory dengan jumlah 144 bait.

Selain itu Imam al-Akhdhari di kenal sebagai seorang ulama sufi yang mustajabah doanya. Imam Ahmad Damanhuri dalam syarah beliau atas matan Sulam, Idhah Mubham mengatakan bahwa “guru beliau mengabarkan dari para guru-gurunya bahwa pengarang (Syeikh Abdur Rahman al-Akhdhari) adalah salah seorang pembesar ulama sufi dan mustajabah doa” .

seperti doa beliau pada muqaddimah Matan Sulam, supaya Allah menjadikan kitab beliau tersebut bermanfaat bagi para pelajar dan menjadi jalan untuk memahami kitab-kitab mantiq yang lebih tinggi. Imam Ahmad Damanhuri mengatakan “sungguh Allah telah mengabulkan permiantaan beliau, setiap orang yang membaca kitab beliau ini dengan sungguh-sungguh, Allah membukakan pemahamannya dalam ilmu ini (ilmu mantiq) dan sungguh kami telah menyaksikan demikian”.

Nadzom ini dihafal oleh santri kelas tingkat Aliyah dengan disetorkan 20 bait dalam satu minggunya.

 

  1. Jauharul Maknun

Kitab nadzoman kedua yang dihafal oleh tingkat Aliyah yaitu Jauharul Maknun yang mempelajari ilmu Ma’ani, Badi’, dan Bayan dengan jumlah 291 bait dan juga disetorkan 20 bait satu minggu sekali. Kitab Jauhar al-Maknun karya Syekh Abdurrahman al-Akhdhari adalah salah satu kitab yang membahas ilmu tata bahasa Arab. Di dalamnya terdapat sejumlah nazam yang berkaitan dengan tata bahasa dan sastra Arab.

Misalnya, dalam salah satu nazamnya, Syekh Abdurrahman al-Akhdhari mengatakan, Mawadatuhu taduumu likulli hawlin. Wa hal kullu mawadatuhu taduumu. (Cintanya akan abadi sepanjang masa. Lalu, apakah setiap cintanya akan abadi?). Inilah salah satu keindahan bahasa dalam tata bahasa Arab yang bernama balaghah. Begitu juga dalam syair-syair Barzanji, Diba’, Habsyi, dan lainnya. Karena itu, dengan menggunakan sastra Arab, sebuah kata atau kalimat akan menjadi sangat indah. Itulah keindahan bahasa sastra.

 

  1. Rohbiyah

Matan al-Rahbiyyah (متن الرحبية) atau judul asalnya Bughyah al-Bahits  ‘an  Jumal al-Mawarits (بغية الباحث عن جُمل الموارث) sebuah karya fiqh mengenai ilmu al-Faraid atau al-Mawaris (pusaka dalam Islam), yang disusun dalam bentuk nazam sebanyak 176 bait. Kitab ini disusun oleh al-‘Allamah Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Hasan al-Rahabiy al-Syafi’i (557H), yang terkenal dengan gelaran Ibn al-Mutqinah.

Kitab faraid yang disusun berdasarkan mazhab Syafi’i ini, mendapat perhatian yang besar di kalangan para ulama. Bukan saja di kalangan ulama mazhab Syafi’i, bahkan juga di kalangan para ulama mazhab yang lain seperti mazhab Maliki dan Hanbali. Kitab ini menjadi rujukan dan telah diberikan keterangan oleh para ulama melalui karya-karya mereka.

Nadzom yang mempelajari ilmu pembagian waris ini dihafal oleh tingkat Ma’had Aly dengan disetorkan 15 bait setiap minggunya.

 

  1. Baiquniyah

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana untuk menjelaskan tentang ilmu hadis adalah al-Mandzumah al-Baiquniyyah, di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. Keterangan terkait biografi al-Baiquni disebutkan dalam kitab al-I’lam karya al-Zirakli.

Kitab ini berisi sekitar 32 istilah hadits,  Mustahalah Hadits karena membahas tentang istilah-istilah hadits, menghimpun  34 bait syair yang mengagumkan tentang hadits shahih, hasan, dha’if, marfu’, maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

Kitab ini pun menjadi syarat wajib setoran talaran perminggunya untuk tingkat Ma’had Aly dan disetorkan dengan sebanyak jumlah bait tersebut yaitu 34 bait.

 

Program setoran mingguan ini dilaksanakan setiap malam Rabu. Yang pada hari biasanya adalah jadwal sorogan, diganti dengan setoran hafalan kepada gurunya masing-masing. Begitu juga guru sorogan tingkat Aliyah dan Ma’had Aly akan menyetorkan hafalannya kepada Ustadzah atau tingkat Dirosatul Ulya.

Untuk kelas persiapan atau kelas i’dadiyah yaitu menyetorkan juz ‘amma dari mulai Surat Ad-Duha sampai Surat An-Nas.

Adapun program Evaluasi setiap satu bulan sekali, yaitu menyetorkan kembali hafalan yang sudah disetorkan dalam satu bulan terakhir.

Tidak hanya menghafal, para santri juga mempelajari atau mendalami materi dari kitab-kitab tersebut sesuai tahap kelasnya. Kitab-kitab yang dipelajari diantara lain akhlakul banat(i’dadiyah). Tingkat Ibtidaiyyah yaitu Jurumiyah, Yaqulu, Shorof Kaelani, Tasrifan, Safinnatunnaja, Sulamuttaufiq, Tijan Ad-Durory, Tajwid.

Lalu tingkat Tsanawiyyah meliputi Alfiyyah, Fathul Qoriib, Lamiyatul Af’al, Fathul Mu’in, Irsyadul ‘Ibad dan samarqondi.

Dilanjut dengan tingkat Aliyyah diantaranya Uqudul Juman, Fathul wahab, Jauhar Maknun, Jazariah.

Tingkat kelas terakhir adalah Ma’had aly, kitab yang dipelajari nya adalah Jam’ul Jawami’, Uqudul Juman, Tafsir Jalalen, Shoheh Muslim, Shoheh Bukhori, Rohbiyah, Baequniyah, Ilmu Ma’qulat, Falak Taqribulmaqsod, dan Falak Tashilul Amal.

Program Sorogan Menjadi Tahap Awal Santri Belajar Mengamalkan

Secara Bahasa, sorogan berasal dari bahasa Jawa Sorog, yang artinya menyodorkan. Dengan metode ini, berarti santri dapat menyodorkan materi yang ingin dipelajarinya sehingga mendapatkan bimbingan secara individual atau secara khusus. Begitupun seorang guru dapat membimbing, mengawasi, dan menilai kemampuan santri secara langsung.

Metode ini tentu sangat efektif untuk mendorong peningkatan kualitas santri tersebut.

Metode ini juga pernah diilustrasikan oleh Abu Bakar Aceh sebagaimana dikutip Ridwan Nasir dalam buku Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal: Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan. Dalam mengadakan pengajian sorogan, guru atau kiai biasanya duduk di atas sepotong sajadah atau sepotong kulit kambing atau biri-biri, dengan sebuah atau dua buah bantal dan beberapa jilid kitab di sampingnya yang diperlukan. Sementara, murid-muridnya duduk mengelilinginya mendengarkan sambil melihat lembaran kitab yang dibacakan gurunya.

Sorogan merupakan metode pembelajaran yang diterapkan pesantren hingga kini, terutama di pesantren-pesantren salaf. Usia dari metode ini diperkirakan lebih tua dari pesantren itu sendiri.

Di Yayasan Pondok pesantren Miftahulhuda Al-Musri, ada berbagai pembelajaran sorogan dengan fan ilmu yang berbeda-beda. Namun yang akan dibahas di sini adalah sorogan harian yang menjadi salah satu program unggulan. Dilaksanakan setelah waktu magrib dan subuh dengan metode individual atau diatur khusus untuk setiap santri mempunyai satu orang guru yang akan mengajarkan bagaimana cara membaca logatan kitab kuning mulai dari kitab Safinatunnaja, Tijanuddarori, Sulamuttaufiq pada kelas tingkat Ibtidaiyah sampai kitab Irsyadul Ibad untuk tingkat Tsanawiyah.

Selain belajar membaca logatan kitab, saat sorogan waktu subuh para santri juga akan belajar membaca Al-Qur’an terlebih dahulu beserta Tajwid dan Makhraj-Makhrajnya, dilanjut dengan pembelajaran kitab, dan setelah itu akan ada Mufradat bahasa Arab yang diberikan oleh biro Pengembangan Bahasa untuk digunakan para santri sebagai bahasa sehari-hari.

Sementara pada waktu magrib pada minggu pertama akan menghafal buku Tamhidlul Ibadah, dan pada minggu kedua akan dijelaskan tentang terjemah kitab Bidayatul Hidayah.

Tahap sistem pembelajarannya pun berbeda antara tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Dikarenakan masih tahap awal, maka metode pada tingkat Ibtidaiyah adalah dengan cara dibacakan terlebih dahulu oleh gurunya bagaimana cara membaca logatan atau penerjemahan kitab yang benar sesuai dengan kemampuan murid sampai ia bisa menangkap dan meniru apa yang gurunya bacakan.

Dan untuk tingkat Tsanawiyah, karena sudah masuk tahap kelas menengah, maka metodenya yaitu dengan murid itu sendiri yang membaca terlebih dahulu, lalu gurunya akan mengoreksi jika ada pembacaan lafad yang keliru.

Sistem penerjemahan disampaikan sedemikian rupa sehingga para santri mudah mengetahui baik arti maupun fungsi kata dalam suatu rangkaian kalimat dalam kitab kuning tersebut.

Pada setiap pergantian semester, akan ada juga pergantian antara guru dan murid. Sehingga setiap semesternya akan mendapat satu orang guru yang berbeda-beda, begitupun sebaliknya. Selain untuk menambah wawasan, juga dengan begitu akan semakin mempererat tali persaudaraan antar santri.

Pada program sorogan ini, santri tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah sebagai muridnya. Lalu di samping itu, siapa yang menjadi gurunya? Nah, dari mulai kelas Aliyah, Ma’had Aly sampai Dirosatul Ulya lah yang akan menjadi guru sorogan tersebut.

Dengan begitu, santri dari mulai tingkat Aliyah bisa mengulang kembali bahkan belajar mengamalkan pengetahuannya dari masa kelas Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

Di antara adab menuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diketahui. Karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diiringi dengan amal. Orang yang berilmu memang banyak memiliki keutamaan. Namun jika ilmu tersebut tidak diamalkan, maka ia tidak akan bermanfaat bagi pemiliknya. Ia bagaikan pohon tanpa buah yang tidak menghasilkan apa-apa.

Fudhail bin Iyadh berkata:

عَلَى النَّاسِ أَنْ يَتَعَلَّمُوْا فَإِذَا عَلِمُوْا فَعَلَيْهِمُ الْعَمَلُ

“Wajib bagi manusia untuk belajar. Jika telah berilmu maka wajib bagi mereka untuk mengamalkannya.” (Al-Khatib Al-Baghdadi, Iqtidhaul Ilmi Al-Amal, hal. 37)

Para salaf sekalipun enggan menambah ilmu sampai mereka betul-betul telah mengamalkannya. Diriwayatkan dari Ibnu Masud beliau berkata:

كُنَّا إِذَا تَعَلَّمْنَا مِنَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَشْرَ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ لَمْ نَتَعَلَّمْ مِنَ الْعَشْرِ الَّتِى نَزَلَتْ بَعْدَهَا حَتَّى نَعْلَمَ مَا فِيهِ. قِيلَ لَهُ: مِنَ الْعَمَلِ قَالَ نَعَمْ.

“Kami jika belajar sepuluh ayat Al-Qur’an dari Nabi, kami tidak akan belajar sepuluh ayat yang turun berikutnya hingga kami mengetahui isinya. Kemudian ditanyakan, ‘Maksudnya mengamalkannya?’ Ia menjawab, ‘Iya.’” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Al-Hakim).

Ubai bin Kaab juga berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW. membaca Al-Qur’an kepada mereka (para sahabat) sepuluh ayat dari Al-Qur’an. Beliau tidak akan menambah sepuluh ayat yang lain hingga mereka benar-benar belajar untuk mengamalkannya. Para sahabat berkata, ‘Kami belajar Al-Quran dan mengamalkannya secara bersamaan.’” (Syarh Al Mukhalilat, I/22)

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad, berkata: “Sekira engkau membaca ilmu seratus tahun dan engkau kumpulukan seribu kitab, semua itu tidak akan membantumu berhak mendapat rahmat Allah hingga engkau mengamalkannya.”

Oleh karena itu, program sorogan ini sangat bermanfaat bagi para santri untuk belajar pengamalan ilmu tersebut.

 

Penulis : Rahmi Rahmatussalamah

Pemukiman Akbar Korda Bekasi – Bogor (Jam’us Shigor)

Sabtu, 24 September 2022 Mt. Nurul Taqwa Al Musri’ 1 menjadi lokasi Pemukiman Akbar para Muqimin dan Muqimat Yayasan Pondok Pesantren Miftahulhuda Al Musri’’.

Madrasah yang terletak di Jl. Industri kawasan meenara permai Kp. Rawacangkudu Rt 04 Rw 04, Ds. Dayeuh, Kec. Cileungsi 16740, Kab. Bogor, Jawa Barat itu menjadi tempat Pemukiman Akbar Para Muqimin dan Muqimat yang berdomisili di 3 kota yaitu kota Bogor, Bekasi dan Jakarta.

ungkapan dari salah satu Dewan Kyai Miftahulhuda Al Musri’, membacakan surat pernyataan Pemukiman yaitu pangersa KH. Mahmud Munawar setidaknya ada Tiga Tujuan dimuqikannnya para Muqimin dan Muqimat Al Musri’.

  1. Untuk mengembangkan Ilmu Pengetahuan.
  2. Ikut berpartisipasi dalam mencerdaskan umat, khususnya di Bidang Agam Islam.
  3. Untuk mengembangkan Syari’at Islam dan urusan Kemasyarakatan

Sementara itu Wakil Pimpinan Pesantren Al Musri’,Pangersa  Hj. Siti Maryam Mengingatkan kepada Para Muqimin dan juga Muqimat untuk bersabar ketika sedang mengembangkan ilmu pengetahuan, dikarenakan ketika mengembangkan ilmu pasti banyakujian. Ada 4 cobaan yaitu musuh yang menjadi racun, cacian dari teman ,orang bodoh jadi penyakitnya orang pintar dan hasudnya orang yang berilmu. Perkataan tersebut dirujuk dari Hadits As Syaikh abu hasan asy syadzili .

Para Muqimin dan Muqimat dipasrahkan kepada segenap lapisan.

  1. Pemerintah setempat
  2. Tokoh Masyarakat
  3. Alim ‘Ulama

Semoga dengan mengikuti pemukiman ini, bisa menambah keberkahan dari para guru Al-Musri’, baik keberkahan dalam hal agama, dunia, maupun akhirat, terkhusus keberkahan dan kemanfaatan ilmu.

 

Pewarta: Dimas Pamungkas