Sumber: istockphoto.com
Bagaimana Cara Khusyuk dalam Shalat?

Apa itu khusyuk? Khusyuk adalah menghadirkan hati untuk mengingat Allah di dalam shalat. Allah Swt berfirman:

اِنَّنِىۡۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَا فَاعۡبُدۡنِىۡ ۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكۡرِىۡ

 “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”(Q.S. Thaha: 14)

Dalam artian, salah satu di antara misi dalam shalat ialah mengingat Allah, jadi agak aneh ketika seorang mendirikan shalat untuk menemukan ide-ide yang kreatif, karena tidaklah kita diperintahkan shalat untuk menemukan ide-ide kreatif urusan dunia. Semisal shalat supaya dapat ide, lari dari omelan istri atau pamer kepada orang lain. Jadi, untuk apa kita mendirikan shalat?

Misi dari shalat ialah untuk mengingat Allah sebagaimana keterangan pada ayat di atas. Allah Swt juga berfirman:

وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْغَٰفِلِينَ

janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”(QS.Al-A’raf: 205)                            

Oleh karena itu, jangan sampai kita melamun di dalam shalat, mikirin mantan, pekerjaan, dan hal yang tidak penting. Tetapi shalat itu untuk mengingat Allah Swt di dalam shalat.

Indikasi Khusyuk di dalam Shalat

Hanya ingat Allah saja tidak ada yang lain

Sehingga kita bisa mengetahui shalat khusyuk dengan kita rasakan, apakah kita mengingat Allah atau ingat yang lain.

Berlama-lama saat sujud dan rukuk

Memanjangkan waktu rukuk dan sujud bisa menjadikan kita khusyuk dalam shalat. Sebab, saat kita rukuk dan sujud merupakan keadaan hamba dekat dengan Tuhannya, sehingga kita disunnahkan membaca doa-doa ketika rukuk dan sujud. Sayid Qutb Muhammad Al-Bakri berkata:

إن مما يورث الخشوع إطالة الركوع والسجود

Sesungguhnya hal yang bisa menjadikan kekhusyukan ialah memanjangkan waktu rukuk dan sujud.”

Memahami bacaan shalat yang kita ucapkan

Menurut Imam Zainuddin (pengarang kitab Fathul Mu’in) dengan memahami makna-makna bacaan dalam shalat bisa membantu kita untuk menyempurnakan tujuan kerendahan hati dan kekhusyukan seseorang saat shalat. Allah Swt berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad 24).

Ketika membaca doa iftitah kita mengerti, membaca al-Fatihah kita juga mengerti. Karena ada orang ketika ia shalat sudah sampai surat Al-Ikhlas tiba-tiba ia lupa apakah sudah membaca Al-Fatihah atau belum. Berarti ia tidak khusyuk, karena ia tidak sadar apa yang sedang ia ucapkan. Sehingga orang yang khusyuk ialah تعلموا ما تقولون mengetahui apa yang kalian ucapkan.

Tidak melakukan hal-hal di luar rukun dan sunnah

Jadi, kita shalat tanpa melakukan perbuatan di luar rukun shalat, sehingga kita bermain bermain injak kaki, bercanda atau bermain dengan jamaah sebelahnya. Dengan demikian, sudah pasti kita tidak khusyuk di dalam shalat, dan akhirnya kita tidak bisa merasakan nikmatnya ibadah.

Shalat seseorang itu tergantung kualitas khusyuknya, dan hanya dengan khusyuk kita akan merasakan rehatnya jiwa di dalam shalat. Yuk kita belajar shalat khusyuk dengan menata hati kita sedikit demi sedikit untuk meningkatkan kualitas ibadah kita.

Semoga Allah Swt, memberikan kita kekuatan istiqomah dan hati yang khusyuk dalam beribadah. Wallahu a’lam bi as-shawab.


Refrensi:

Kitab Ihya’ Ulumuddin

Kitab Fathul Mu’in

Penulis :

M Wildan Musyaffa

Ilustrasi shalat munfarid. Foto: Unsplash
Shalat Khusyuk atau Berjamaah, Mana yang Lebih Utama?

Khusyuk saat shalat merupakan salah satu kesunahan yang sulit untuk dikerjakan. Karena shalat seseorang baru bisa dianggap khusyuk apabila dia mampu untuk membayangkan sesuatu yang sedang dia kerjakan saja, tanpa membayang sesuatu yang lain. Seperti hanya memikirkan makna bacaan tasbih saat berada di posisi rukuk dan sujud.

Tidak sebatas itu, akan tetapi dia harus mampu juga untuk tidak bermain-main dengan anggota badannya. Seperti menggerak-gerakkan jari dan mengedip-ngedipkan mata tanpa adanya keperluan.

Khusyuk saat shalat disunahkan karena Allah SWT memuji hamba-hambanya yang shalat dengan khusyuk dalam Al-Qur’an berikut:

۩قَد أَفلَحَ ٱلمُؤمِنُونَ ۩ ٱلَّذِينَ هُم فِي صَلَاتِهِم خَٰشِعُونَ 

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya”. (Q.S. al-Mukminun ayat 1 dan 2).

Cara seseorang untuk bisa khusyuk saat shalat berbeda-beda. Sebagian dari mereka ada yang sampai meninggalkan shalat berjama’ah dan memilih untuk shalat sendiri di rumahnya demi bisa shalat dengan khusyuk, dengan alasan ketika shalat berjama’ah tidak dapat shalat dengan khusyuk karena terganggu dengan jamaah yang lain.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah tindakan seperti di atas dapat dibenarkan, sehingga manakah yang lebih utama antara shalat sendiri dengan khusyuk dan shalat berjama’ah tanpa khusyuk? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu terlebih dahulu untuk mengetahui hukum dari shalat berjamaah.

Perdebatan Ulama Terkait Khusyuk dan Shalat Berjamaah

Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama terkait hukum shalat berjamaah untuk shalat fardhu selain shalat Jum’at. Yang mana terdapat empat pendapat berbeda, yakni fardhu kifayah, sunah mu’akkad (yang sangat dianjurkan),  fardhu ain, dan sebagai syarat sahnya shalat, dalam arti shalat baru dianggap sah apabila dilaksanakan dengan berjamaah. Namun yang berkaitan dengan pembahasan saat ini adalah pendapat yang pertama dan kedua.

Salah satu ulama yang berpendapat bahwa hukum shalat berjama’ah adalah fardhu kifayah adalah imam An-Nawawi. Shalat berjamaah dihukumi fardhu kifayah karena berlandasan pada hadist nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

مَا ‌مِنْ ‌ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ أَوْ بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيْهَا الْجَمَاعَةُ إِلَّا اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ

Artinya: “Tidaklah tiga orang berada di suatu kampung atau daerah yang tidak didirikan shalat berjamaah kecuali mereka dikuasai oleh setan”. (Abu Bakar Syata Ad-Dimyati, I’anah At-Talibin, [Jakarta: Darul Kutub Al-Islamiah, 2009], juz 2, halaman 8).

Dalam hadis di atas, terdapat ancaman bagi orang-orang yang meninggalkan shalat berjama’ah. Hal inilah yang menuntut untuk menghukumi shalat berjama’ah dengan fardhu kifayah.

Apabila kita mengikuti pendapat tersebut maka kalangan ulama fikih berpendapat bahwa shalat berjamaah tanpa khusyuk lebih utama dibanding shalat sendiri dengan khusyuk. Dengan alasan karena fardhu kifayah merupakan suatu kewajiban, yang mana kewajiban lebih utama dibanding kesunahan.

Namun imam Al-Ghazali sedikit berbeda dengan pendapat kalangan ulama’ fikih di atas. Beliau berpendapat bahwa shalat sendiri dengan khusyuk lebih utama bagi seseorang yang ketika shalat berjama’ah sebagian besar dari shalatnya tidak bisa khusyuk.

Di dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj Imam Ibnu Hajar Al-Haitami memberi penjelasan terkait pendapat imam Al-Ghazali di atas, beliau menyatakan bahwa pendapat tersebut hanya berlaku bagi orang-orang yang sudah lama menjalankan riyadhah (kegiatan spiritual) khalwat (meninggalkan keramaian). Yang mana faedah yang didapat oleh orang tersebut lebih banyak ketika melaksanakan shalat dengan sendiri, karena derajat ketaatannya akan menurun ketika dia bergaul dengan orang lain.

Dalam salah satu kitabnya, imam Ibnu Hajar Al-Haitami berpendapat bahwa shalat sendiri dengan khusyuk lebih utama bagi orang yang ketika shalat berjamaah tidak bisa khusyuk sama sekali. Pendapat ini disampaikan oleh muridnya syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya Fathul Mu’in, namun penjelasan muridnya tersebut dikomentari oleh syaikh Abu Bakar Syata dalam kitabnya I’anah At-Talibin bahwa pendapat imam Ibnu Hajar di atas tidak ditemukan di antara kitab-kitab karangannya.

Sedangkan di dalam kitabnya Fathul Jawad imam Ibnu Hajar Al-Haitami berpendapat bahwa shalat berjamaah tanpa khusyuk lebih utama dibanding dengan shalat sendiri dengan khusyuk, bahkan bagi orang yang ketika shalat berjama’ah tidak bisa khusyuk sama sekali. Yang mana pendapat ini sekaligus menolak pendapat imam Al-Ghazali di atas.

Alasan imam Ibnu Hajar terkait penolakannya terhadap pendapat imam Al-Ghazali adalah karena mempertimbangkan ulama yang berpendapat bahwa hukum shalat berjamaah adalah fardhu ain dan syarat sahnya shalat. Yang mana dengan adanya dua pendapat di atas menunjukkan bahwa shalat berjamaah sangat diprioritaskan mengungguli khusyuk.

Juga dengan alasan karena shalat berjamaah merupakan salah satu dari bentuk media untuk memperkenalkan agama Islam, maka mempertahankannya menjadi lebih utama. Dan apabila kita mengatakan bahwa shalat sendiri dengan khusyuk lebih utama niscaya banyak orang yang meninggalkan shalat berjamaah, dengan beralasan ketika shalat berjama’ah tidak bisa khusyuk, maka menurut Imam Ibnu Hajar hukum menutup kemungkinan-kemungkinan buruk seperti di atas adalah wajib.

Sedangkan ulama yang berpendapat bahwa hukum melaksanakan shalat secara berjamaah adalah sunah mu’akkad, mereka berlandasan pada hadist nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Artinya: “Shalat berjama’ah lebih utama dibanding shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat”. (Zainuddin Al-Malibari, Fathul mu’in, [Jakarta: Darul Kutub Al-Islamiah, 2009], halaman 70).

Hadis di atas menjelaskan adanya keutamaan dalam shalat berjamaah, yang mana para ulama fikih memahami bahwa suatu keutamaan itu hanya menunjukkan hukum kesunahan, tidak sampai pada hukum wajib. Sehingga mereka berpendapat bahwa hukum shalat berjama’ah adalah sunah mu’akkad.

Apabila kita mengikuti pendapat ini maka shalat sendiri dengan khusyuk lebih utama dibanding shalat secara berjamaah tanpa khusyuk. Dan pendapat ini mutlak, dalam arti baik saat shalat secara berjama’ah tidak bisa khusyuk sama sekali ataupun tidak.

Kesimpulan

Dari adanya perbedaan di atas, sebaiknya kita mengikuti pendapat imam Ibnu Hajar Al-Haitami, yang memprioritaskan shalat berjama’ah. Karena dengan mengikuti pendapat tersebut kita bisa menutup kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Dan yang mana kemungkinan buruk tersebut bisa menurunkan tradisi baik orang islam yang telah lama berjalan.

Penulis : M Wildan Musyaffa

Seberapa Penting Nasab dalam Fiqih?

Perbincangan tentang nasab kembali melambung setelah acara “Silaturahmi Akbar Keluarga Kesultanan Banten” pada 26 Agustus 2023 lalu. Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo pun ikut membahas tentang nasab dalam Bahtsul Masail se-Malang Raya. Apakah persoalan mengenai nasab ini sepenting itu sampai dibahas dalam forum-forum besar?

Karena itu, mari kita telusuri sebatas mana ilmu fikih membahas tentang nasab ini. Terlepas dari polemik tentang nasab Ba ‘Alawi yang menjadi perbincangan publik, di sini penulis mencoba memaparkan tentang hukum-hukum fikih yang terkait dengan nasab.

Secara bahasa, nasab dapat diartikan sebagai hubungan keturunan atau pertalian keluarga. Imam Al-Qurthubi dalam kitabnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur`an mengatakan, bahwa nasab adalah kata yang digunakan untuk mengungkapkan suatu hubungan dari percampuran sperma laki-laki dan ovum perempuan yang sesuai prosedur syariat (menikah).

Sementara nasab dalam kajian fikih, Imam Al-Baijuri dalam kitab Hasyiyah Fath Al-Qarib-nya menyebutkan,

وَالْعِبْرَةُ فِي الْإِنْتِسَابِ بِالنَّسَبِ إِلَى الْآبَاءِ

Anggapan terhadap hubungan melalui garis keturunan adalah kepada ayah.”

Dengan demikian, nasab dapat dicontohkan seperti, “Rafatar memiliki nasab dengan Raffi Ahmad.” Karena Rafatar merupakan anak kandung dari pernikahan sah secara Islam antara Raffi Ahmad dengan Nagita Slavina.

Nasab dalam Fikih

Dalam pembahasan fikih, terdapat banyak bab yang berkaitan dengan nasab. Ini menunjukkan nasab memiliki kedudukan penting dalam Islam. Karena dengan nasab akan memunculkan perbedaan hukum. Contoh saja permasalahan fikih tentang mahram dalam kitab Fath Al-Qarib Al-Mujib karya Syekh Ibnu Qasim Al-Ghazi berikut:

وَالْمُرَادُ بِالْمَحْرَمِ مَنْ حَرُمَ نِكَاحُهَا لِأَجْلِ ‌نَسَبٍ

Yang dimaksud dengan mahram adalah seseorang yang haram untuk dinikahi karena ada hubungan nasab…”

Dari penggalan kitab ini, dapat kita pahami nasab berperan dalam penentuan mahram atau bukan. Bila memiliki hubungan nasab dalam hal mahram, maka kita tidak boleh menikah dengannya. Beda hukumnya bila kita menyentuhnya saat memiliki wudhu, maka wudhu kita tidak batal sebab ada ikatan mahram ini.

Contoh lagi dalam kitab Minhaj Ath-Thalibin wa ‘Umdah Al-Muftin karya Imam Nawawi berikut:

وَيُقَدَّمُ الأَفْقَهُ وَالْأَقْرَأُ عَلَى الْأَسَنِّ وَالنَّسِيْبِ

Dan pakar fikih dan qori’ lebih didahulukan (untuk menjadi imam) dari orang yang lebih tua dan nasabnya luhur.”

Dalam pembahasan teersebut, orang yang lebih alim dalam memahami fikih dan lebih bagus bacaan al-Qurannya didahulukan untuk menjadi imam shalat daripada orang yang lebih tua dan nasabnya lebih mulia. Di sini, fikih masih mempertimbangkan nasab dalam menetapkan hukum memilih imam.

Sebenarnya masih banyak permasalahan fikih yang bersangkutan dengan nasab. Seperti dalam pembahasan waris, nasab mempengaruhi apakah seseorang bisa mendapat bagian atau tidak; dalam pembahasan nikah, wali yang mengakad harus ayah kandung (memiliki hubungan nasab); dalam pembahasan zakat, keturunan Bani Hasyim dan Bani Muthallib tidak boleh diberi zakat, dan masih banyak lagi.

Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga nasab. Caranya dengan tidak memunculkan anak tak bernasab yang berasal dari hubungan zina. Dan ini sesuai dengan salah satu Maqashid Asy-Syari’ah (tujuan adanya hukum Islam) yang disebutkan Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mustashfa, yakni Hifdz An-Nasl wa An-Nasab.

Penulis : M Wildan Musyaffa