Islam Di Nusantara

Islam (di) Nusantara

Tema Islam Nusantara yang diusung dalam muktamar NU ke-33, di Jombang, pada tanggal 1 agustus 2015, memicu maraknya perdebatan pro dan kontra. Hingga muncul asumsi dan tuduhan sebagai islam yang anti Arab, betentangan dengan syariat Islam, hanya milik satu golongan saja, identk dengan Islam Kejawen, dan bahkan ada yang menuduhnya sebagai kedok untuk merusak tatanan moral agama.

Maka Ketua PBNU K.H. Said Aqil Siradj membantahnya dengan tegas dan mengatakan bahwa Islam Nusantara bukanlah agama baru dan bukan pula aliran baru. Islam Nusantara adalah pemikiran yang berlandaskan pada sejarah Islam yang masuk ke Indonesia yang tidak melalui peperangan, tapi melalui kompromi terhadap budaya.

Demikian pula dengan Maulana Habib Luthfi bin Yahya yang menjabat sebagai ketua mustasyar PBNU, juga ikut angkat suara dan membantah fitnah dan tuduhan miring tersebut. Beliau mengatakan, Islam Nusantara adalah ajaran islam yang dibawa ke Nusantra oleh para ulama dari kalangan ahlulbait, keturuna Baginda Nabi SAW, yang berasal dari ajaran Imam Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa bin Muhammad bin ‘Ali Al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Sayyidina Husain r.a..

Imam Ahmad Al-Muhajir, semenjak abad ke tujuh hijriah di Hadramaut Yaman, menganut madzhab syafii. Dalam fiqih, Ahlussunah Waljamaah, dalam akidah mengikuti Imam Asy’ari dan Imam Maturidi, dan akhlak atau ihsan mengikuti ulama-ulama tasawuf mu’tabarah yang bermazhabkan Imam Mazhab yang empat.

Di Hadramaut, akidah dan mazhab Imam Al-Muhajir yang Sunni Syafii, terus berkembang sampai sekarang. Dan Hadramaut menjadi kiblat kaum sunni yang “ideal” karena ke-mutawatir-an sanad serta kemurnian agama dan akidahnya. Dari Hadramaut Yaman, anak cucu Imam Al-Muhajir menjadi pelopor dakwah Islam hingga sampai ke “Ufuk Timur”, seperti ke daratan India, kepulauan Melayu, dan termasuk juga Indonesia. Mereka berdakwah mengenalkan kalimat syahadah dengan pendeketan budaya, seperti pementesan wayang. Mereka berjuang dengan kelembutan tanpa mengangkat senjata, tanpa kekerasan, dan tanpa pasukan. Mereka datang dengan kedamaian dan kebaikan. Ada juga diantara mereka yang menuju daerah Afrika seperti Ethopia hingga kepulauan Madagaskar. Dalam berdakwah, mereka tidak pernah bergeser dari asas keyakinannya yang berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

Jadi Islam Nusantara tak lain adalah Ahlussunah Waljamaah yang disingkat dengan Aswaja, yakni ajaran Islam sebagaimana yang dianut oleh Imam ahmad Al-Muhajir yang bermazhab Syafii dan yang dibawa oleh para Walisanga ke Nusantara. Tahlilan, ratiban, mauludan, ziarah kubur, haul, peringatan nisyfu Sya’ban, peringatan nuzulul Qur’an adalah termasuk di antara amaliah Ahlussunah Waljamaah khas Indoseia atau khas Nusantara yang dibawa oleh para habib serta ulama-ulama terdahulu seperti para Walisanga.

Namun demikian, ada pula kelompok-kelompok yang tidak menyukai amalan-amalan tersebut dan bahkan mem-bid’ah-kannya dengan dalih pemurnian akidah Islam, seperti di antaranya kelompok Wahabi yang berkembang subur di Arab Saudi, saat dipegang oleh ulama-ulama dan para habib Aswaja, semua amaliahnya sama persis dengan amaliah yang ada di Indonesia, yakni ada ratiban, mauludan, tahlilan, ziarah kubur, dan haul. Dengan dihabisinya para habib dan ulama Aswaja serta dihancurkannya makam-makam para wali dan juga situs-situs peninggalan peradaban Islam di sana, akhirnya amalan-amalan tersebut lama kelamaan terkikis dan akhirnya menjadi asing.

Tak hanya sampai disitu, bahkan makam Nabi SAW pun juga sempat akan dibongkar oleh mereka. Tapi, Alhamdulillah waktu itu ulama-ulama Nusantara yang dimotori oleh K.H. Abdul Wahab  Chasbullah membentuk sebuah komite yang dinamai Komite Hijaz yang tugasnya antara lain adalah melakukan diplomasi dengan Raja Saud atas rencana pembongkaran tersebut. Dan berkat kegigihan dan usaha keras mereka diterima oleh Raja Saud dan makam Nabi pun tidak jadi dibongkar.

Islam Nusantara, sebagaimana spirit Komite Hijaz -yang menjadi cikal bakal terbentuknya organisasi NU-, selalu siap mengawal keberlangsungan tradisi-tradisi Aswaja termasuk diantaranya menjaga makam-makam para Wali Allah dan juga situs-situs peninggalan peradaban Islam yang ada di Nusantara ini supaya tetap terjaga. Oleh karena itu jangan berprasangka buruk bahkan sampai berani memvonis sesat, menyesatkan, murtad, atau kafir terhadap para pendukung Islam Nusantara.

Semoga kita semua dibersihkan hatinya oleh Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang serta tidak ikut-ikutan untuk mengkafir-kafirkan atau menyesat-nyesatkan. [Wallahu a’lam]

Sejarah Singkat Kelahiran Nahdlatul Ulama
  1. Sejarah Singkat Kelahiran Nahdlatul Ulama

Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal jama’ah. Selain itu, NU sebagaimana organisasi-organisasi pribumi lain baik bersifat sosial, budaya atau keagamaan yang lahir dimasa penjajah, pada dasarnya merupakan perlawanan terhadap penjajah. Hal ini didasarkan berdirinya NU dipengaruhi kondisi politik dalam dan luar negeri, sekaligus merupakan kebangkitan kesadaran politik yang ditampakkan dalam wujud gerakan organisasi dalam menjawab kepentingan nasional dan dunia islam umumnya.

A. Mempertahankan Ahlussunnah Wal Jama’ah

Sejarah dakwah Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kiprah Walisongo. Penyebaran Islam, khususnya di jawa oleh pendakwah, terutama Walisongo sukses besar. Di abad ke-7 dan terutama setelah abad ke-11 dan abad ke-12, Islam menggatikan Hinduisme dan Budhisme yang sebelumnya berjaya. Pengaruh Islam masuk hingga ke pusat kerjaan dan kepemimpinan rakyat. Runtuhnya Majapahit dan berdirinya Kerjaan Demak di akhir tahu jawa 1400 (1478 M), adalah bukti berubahnya kepercayaan masyarakat jawa dari Hinduisme dan Budhisme kepada Islam.

Ajaran Walisongo adalah Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah, yang juga disebut Sunni. Sedangkan Sunni di Indonesia dalam ajaran fikih mayoritas mengikuti mazhab Imam as-Syafi’i, dalam bidang tasawuf mengikuti Imam al-Junaidi dan Imam al-Ghazali, serta mengikuti Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansyur al-Maturidi di dalam bidang akidah. Selain ciri-ciri di atas, muslim Ahlussunnah Wal Jama’ah di Indonesia berpegang teguh pada ulama salaf dengan mengikuti Mazhab tertentu, serta berpegangan pada kitab-kitab mu’tabarah, pecinta ahlul bait, wali dan para shalihin. Muslim Sunni di Indonesia ahli tabarrukan (mencari barokah) baik kepada orang yang masih hidup maupun sudah mati, menyukai ziarah kubur, mentradisikan talqin mayit, sedekah untuk mayit, berkeyakinan adanya syafaat, kemanfaatan doa serta tawassul, dan lain sebagainya.

Setelah sekian lama Islam ala Ahlussunnah Wal Jama’ah ditanamkan Walisongo sampai mengakar di bumi jawa (Indonesia), pada 1330 H, umat Islam di guncang dengan munculnya berbagai kelompok yang mengusung paham yang saling bertentangan.

Pada kurun tersebut muncul kelompok Islam modernis pengikut Muhammad Abduh dan muridnya, Rasyid Ridha, yang mengikuti bid’ah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan pengikut setia ajaran Ibn Taimiyyah dan kedua muridnya, yakni Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dan Ibn Abdul Hadi. Kelompok ini mengklaim sebagai pemurni akidah dan berslogan kembali pada al-Qur’an dan al-Hadist. Mereka sering menuduh bid’ah, khurafat dan tahayul pada ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah. Selain itu muncul Syiah Rafidhah yang biasa menghujat para shabat Nabi SAW, khususnya Khalifah Abu Bakar, Usman bin Affan, Umar bin Khattab, Siti Aisyah dan shabat lainnya, Rafidhah berlebihan dalam mengkultuskan Sayyidina Ali RA, dan Ahlul Bait.

Kelompok selanjutnya Aliran kebatinan, yang mengajarkan terbebasnya umat Islam dari menjalankan Syariat, serta tidak wajib menghindari larangan syariat bagi umat Islam yang telah beriman dan mencapai puncak mahabbah dan kesuciaan hati. Mereka menggugurkan ibadah lahiriah dengan mencukupkan diri dengan beribadah secara tafakkur dan memperbaiki akhlak batin. Selain golongan tersebut, ada juga kelompok yang meyakini tamasukh (reinkarnasi ruh manusia). Selanjutnya muncul kelompok tasawuf yang berlebihan dengan meyakini hulul dan ittihad.

Tumbuhnya aliran-aliran menyimpang ini menimbulkan keprihatinan Ulama Nusantara penganut Ahlussunnah Waljama’ah, khususnya menyikapi gerakan pemurnian syariat Islam yang dimotori kaum modernis secara massif dan sistematis, baik melalui propaganda dalam forum-forum kajian Islam, media masa, maupun melalui gerakan organisasi. Kekhawatiran para Ulama Nusantara tersebut tidak berlebihan sebab gerakan kaum modernis seringkali menyerang praktek pribadatan pengikut Ahlussunnah Waljama’ah, seperti tahlilan, istighatsah, tawasul, tabarruk, yasinan, talqin, ziarah qubur, peringatan maulid nabi SAW, dan selainnya yang di anggap sesat.

Ulama Nusantara sebagai benteng Ahlussunnah Waljama’ah kebanyakan adalah kyai pengasuh pondok pesantren dan para kyai yang selalu istiqomah berjuang di tengah-tengah masyarakat serta menjadi panutan umat. Dengan adanya seragam kelompok modernis, mereka berupaya melakukan gerakan bersama untuk membendung penyebarannya.

Keresahan Ulama pesantren memuncak ketika ada berita Gubernur Hijaz, Sayyid Syarif Husein dikalahkan oleh Abdul Aziz Ibn Saud yang berkerja sama dengan Muhammad Abdul Wahab. Penguasa baru Hijaz ini melakukan pembersihan terhadap praktek keagamaan Madzhab empat, pemaksaan ajaran wahabi kepada umat Islam di Hijaz dan pengusiran Ulama Ahlussunnah Wal jama’ah yang tidak setuju terhadap kebijakan pemerintah baru. Kemenangan Ibn Saud menimbulkan polarisasi orientasi baru Islam di Indonesia, khususnya di jawa. Kalangan pesantren menganggap kemenangan Ibn Saud akan membawa dampak perubahan tradisi keagamaan menurut empat mazhab, sebab Ibn Saud dikenal beraliran Wahabi. Sementara sayap Islam modernis menyambut positif atas kemengan Ibn Saud.

Melalui Kiai Wahab, kalangan pesantren mencemaskan kekhawatiran itu dalam sidang-sidang Komite Khalifah. Sementara kalangan modernis menghendaki agenda lama dipertahankan dibawa ke Makkah. Menurut mereka, penyerbuan Ibn Saud atas Syarif Husain bertujuan baik untuk memperbaiki tata laksana ibadah haji yang sebelumnya kacau, sering terjadi perampokan dan banyak suku Arab yang melarikan diri.

Kekecewaan Ulama pesantren memuncak ketika Konggres Al-Islam di Yogyakarta 1925, pada delegasi pesantren sangat kecewa pada sikap kaum modernis yang menolak usulan KH. Wahab Hasbullah agar Ibn Saud menjamin kebebasan bermazhab untuk semua muslim di Makkah. Bahkan awal Januari 1926 para pimpinan kalangan Islam modernis mengadakan konferensi di cianjur tanpa melibatkan Ulama Pesantren, kemudian mereka memutuskan memilih perwakilan mereka sebagai delegasi ke pertemuan di Makkah. Peristiwa ini meyakinkan para kyai akan perlunya inisiatif-inisiatif sendiri yang terpisah dari kalangan modernis untuk menjamin pandangan dan kepentingan keagamaan mereka bisa terwakili.

Pertengahan Januari 1926, KH. Abdul Wahab Hasbullah dengan restu KH. Hasyim Asy’ari mengundang Ulama Pesantren terkemuka untuk mendukung pendirian panitia yang disebut komite Hijaz yang akan mengutus delegasi ke Makkah untuk mewakili kepentingan kelompok Islam kalangan Pesantren. Akhirnya, 31 Januari 1926 M/ 16 Rajab 1344 H, 15 Ulama berkumpul di rumah KH. Abdul Wahab Hasbullah di surabaya dan mengesahkan bentuk kepanitiaan. Pertemuaan ini selanjutnya memutuskan dua hal penting yakni: pertama, mengirim utusan Indonesia ke Muktamar Dunia Islam di Makkah, dengan tugas memperjuangkan hukum-hukum ibadah empat mazhab, kedua, membentuk suatu organisasi atau jam’iyyah yang akan mengirim utusan tersebut. Atas usul KH. Mas Alwi Abdul Aziz organisasi itu diberi nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Struktur Pengurus NU Pertama Kali

Syuriyah

Rais Akbar

KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)

Wakil Rais

KH. Ahmad Dahlan (Surabaya)

Katib Awal

KH. Abdul Wahab Hasbullah (Surabaya)

Katib Tsani

KH. Abdul Halim Leuwimunding (Cirebon)

A’wan

KH. Mas Alwi Abdul Aziz (Surabaya)

KH. Ridwan (Surabaya)

KH. Said (Surabaya)

KH. Bisri Sansuri (Jombang)

KH. Abdullah Ubaid (Surabaya)

KH. Nachrawi (Malang)

KH. Amin (Surabaya)

KH. Masyhuri (Lasem, Rembang)

KH. Nachrawi (Surabaya)

Mutasyar

KH. R. Asnawi (Kudus)

Penasehat

KH. Ridwan (Semarang)
KH. Mas Nawawi (Sidogiri, Pasuruan)
Syeikh Ahmad Ghanaim (Mesir)
KH. R. Hambali (Kudus)

Tanfidziah

Sekretaris

H. Sidiq (Sugeng Judodiwiryo) (Palembang)

Bendahara

H. Burhan (Surabaya)
H. Saleh Syamil ( Surabaya)
H. Ichsan (Surabaya)
H. Djafar Aiwan (Surabaya)
H. Usman (Surabaya)
H. Achzab (Surabaya)
H. Nawawi (Surabaya)
H. Dahlan (Surabaya)
H. Mangun ( Surabaya)

Setelah kepengurusan NU terbentuk, diputuskan mengirim KH. R. Asnawi Kudus sebagai delegasi NU ke muktamar Dunia Islam di Makkah. Namun karena suatu hal, KH. Raden Asnawi  gagal berangkat ke Makkah. Namun kegagalan ini tidak menyurutkan niat para ulama NU untuk mengutus wakilnya menghadap Raja Ibn Saud. Kemudian pada 29 Maret 1928 M/ 7 Syawal 1346 H, NU mewakilkan kepada KH. Abdul Wahab Hasbullah dan Syeikh Ahmad Ghanaim al-Mishri berangkat ke Makkah untuk menghadap Raja Ibn Saud untuk memperjuangkan kepentingan Islam Ahlussunnah Wa Jama’ah. Hasil pertemuan dengan Raja Ibn Saud, pengajian di Masjidil Haram oleh para guru empat mazhab tidak dilarang. Pertemuan itu juga berhasil mencegah perusakan makam keluarga Nabi SAW dan para Imam mazhab di sekitar area Ka’bah.

Sumber : Khazanah Aswaja

Editor : Hasbi Sayyid

Biografi KH. Zainal Mustafa Sukamanah

KH. Zainal Mustafa dilahirkan di kampung Bageur Desa Cimerah Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya (sekarang Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya) pada tahun 1901 M. Ibunya bernama Ratmah dan ayahnya bernama Nawawi. Beliau dikenal dengan nama kecilnya Umri dan Hudaemi.

Beliau dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani yang taat beragama. Setelah Zaenal Mustafa kecil lulus dari sekolah rakyat, beliau menimba ilmu di beberapa pesantren, diantaranya: Pesantren Gunung Pari, Cilenga Leuwisari, Sukaraja Garut, Sukamiskin Bandung dan Jamanis Rajapolah. Di Pesantren Gunung Pari beliau dibimbing oleh kakak misannya yang bernama Dimyati yang kemudian dikenal dengan nama K.H. Zainal Muhsin.

Pada tahun 1927 Zainal Mustafa muda mendirikan sebuah pesantren di Kampung Cikembang berganti nama menjadi Kampung Sukamanah. Pesantren Sukamanah didirikan diatas tanah wakaf untuk rumah dan masjid dari seorang janda dermawan bernama Hj. Juariyah. Sebelumnya, pada tahun 1922 Hj. Juariyah memberikan tanah wakaf yang sama kepada K.H. Zainal Muhsin (pendiri Pesantren Sukahideng) di Kampung Bageur. Dalam usia 26 tahun, usia yang sangat muda Zainal MUsthafa telah mendirikan pesantren dan menunaikan ibadah haji pada tahun 1928 yang dibiayai pula oleh Hj. Juariyah.

Sebagai ulama yang memiliki sifat ta’at, tabah, qona’at, keadilan, maka tak bisa di pungkiri bila beliau menjadi seorang pimpinan dan panutan umat yang kharismatik, patriotic, berbudi luhur serta berpandangan jauh ke depan. Hal ini terbukti dengan bergabungnya beliau dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1933. Beliau tercatat sebagai Wakil Rois Syuriyah Cabang Tasikmalaya.

Pesantren Sukamanah hadir menjadi pesantren yang memiliki santri kurang lebih 600 – 700 orang. Hal ini menimbulkan kecurigaan yang sangat besar bagi pemerintah Belanda pada saat itu, mereka menganggap bahwa pengajian tersebut adalah perkumpulan yang dimaksudkan untuk Menyusun kekuatan rakyat Indonesia melawan penjajah.

K.H. Zainal Musthafa sering dari mimbar oleh kaki tangan pemerintah Belanda dan ditahan di penjara Tasikmalaya Bersama K.H. Ruhiyat (pimpinan Pesantren Cipasung) pada tanggal 17 November 1941 M / 27 Syawal 1362 H atas tuduhan menghasut rakyat. Sehari kemudian mereka dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung dan dibebaskan pada tanggal 10 Januari 1942. K.H. Zainal Mustafa ditangkap Kembali dan ditahan di penjara Ciamis pada akhir Februari 1942 menjelang penyerbuan Jepang ke Jawa dan dibebaskan oleh seorang kolonel Jepang tanggal 31 Maret 1942.

Meskipun kekuasaan telah berpindah dari kolonial Belanda kepada tentara Jepang, sikap dan pandangan beliau terhadap penjajah baru tidak berubah. Kebencian beliau semakin memuncak setelah menyaksikan sendiri kezaliman hamba-hamba Tenno Heika Jepang. Beribu-ribu rakyat Indonesia dijadikan romusha, penjualan padi kepada pemerintah Jepang secara paksa, pemerkosaan terhadap gadis-gadis merajalela, segala partai, ormas dan organisasi nasional dilarang dan setiap pagi rakyat Indonesia diwajibkan seikeirei atau ruku ke arah istana kaisar Jepang Tokyo.

Keteguhan iman beliau tidak akan pernah tergoyahkan dengan perbuatan seikeirei tersebut, maka beliau bertekad untuk menegakkan kalimatullah dan berjuang menentang kezaliman Jepang meskipun nyawa menjadi taruhannya.

Setelah pemerintahan Jepang mengetahui sikap K.H. Zainal Musthafa mereka mengirimkan satu regu pasukan bersenjata untuk menangkap beliau dan para santrinya. Namun, mereka gagal dan menjadi tawanan pihak Sukamanah. Keesokan hari nya, hari Jum’át 25 Februari 1944 semua tawanan dibebaskan, tetapi senjata tetap menjadi rampasan. Kira-kira pukul 13.00 datang 4 orang kempetai (polisi militer) dan salah satunya merupakan juru bahasa. 

Mereka dengan congkaknya meminta agar K.H. Zainal Musthafa menyerah dan senjata milik mereka dikembalikan yang terdiri dari 12 buah senapan, 3 buah pistol, 25 senjata tajam. Santri Sukamanah dan masyarakat sekitarnya yang telah rela mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai menjawabnya dengan pekikan takbir dan langsung menyerang mereka. Tiga orang Kempetai (polisi militer) dan seorang juru bahasanya lari ke arah sawah dan meninggal disana, sedangkan yang satu orang lagi berhasil menyelamatkan diri.

Menjelang ashar dating enam kompi polisi istimewa yang didatangkan dari seluruh Jawa Barat. Ternyata mereka adalah tentara bangsa Indonesia sendiri yang langsung membuka salvo dan menghujani barisan santri yang hanya bersenjata bambu runcing, pedang bamboo, dan senjata sederhana lainnya.

Menyadari yang dating adalah bangsa sendiri, K.H. Zainal Musthafa memberikan komando agar tidak melakukan perlawanan sebelum musuh memasuki jarak perkelahian. Setelan mereka mendekat, barulah bamboo runcing, pedang bamboo dan golok menjawab serangan tersebut. Akhirnya, dengan kekuatan yang begitu besar, strategi perang yang hebat dan dilengkapi dengan persenjataan yang canggih, pasukan Jepang berhasil menerobos dan memporak-porandakan pertahanan pasukan Sukamanah dan menangkap K.H. Zainal Musthafa.

Peristiwa pertempuran Sukamanah terjadi pada hari Jumat tanggal 25 Februari 1944 M / Rabiul Awwal 1365 H. Para syuhada yang gugur sebanyak 86 orang dan dikuburkan dalam satu lubang. K.H. Zainal Musthafa ditahan di penjara di Tasikmalaya, kemudian di pindahkan ke Bandung, selanjutnya dipindahkan lagi ke penjara Cipinang dan setelah itu tidak diketahui dimana beliau berada. Alhamdulillah, atas usaha Kol. Drs Nugraha Natosusanto, Kepala Pusat Sejarah ABRI, pada tanggal 23 Maret 1970 telah ditemukan data dari kepala kantor Ereveld (Taman Pahlawan) Belanda bahwa K.H. Zainal Musthafa telah menjadi hukuman mati pada tanggal 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol Jakarta.

Zainal Musthafa dianugerahi gelar ‘’Pahlawan Nasional’’ dengan SK. Presiden RI Nomor: 064/TK tahun 1972 tanggal 20 November 1972, diserahkan oleh mintareja SH. Menteri sosial kepada keluarga K.H. Zainal Musthafa pada tanggal 19 Januari 1973. Kerangka jenazah Assyahid K.H. Zainal Mustafa beserta 17 orang santrinya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Sukamanah pada tanggal 25 agustus 1973.

K.H. Zainal Musthafa mempunyai tiga orang istri, yaitu almarhumah Ny. Enoh Sukaenah Hj. Ecin Kuraesin (istri ke tiga) dan 6 orang anak yaitu Almarhum Mumu Najmul MUhtadin, Ny. Siti shofiah (dari istri pertama), almarhumah Ny. Jueriyah, Almarhum Bahaudin, (dari istri kedua), Nyai. Atik Atikah dan almarhum Nazarudin Musthafa, Drs (dari anak ketiga).

Peristiwa “Pertempuran Sukamanah Berdarah” telah berlalu, K.H. Zainal Musthafa telah berpulang ke Rahmatullah, tinggallah Pesantren Sukamanah yang porak poranda. Hadirlah K.H. Moh. Fuad Muhsin (adik kandung K.H. Wahab Muhsin) yang menikah dengan Ny. Siti Shofiyah (salah seorang putri K.H. Zainal Musthafa) mengelola dan membangun kembali Pesantren Sukamanah Bersama-sama dengan K. Uha Abdul Aziz (adik kandung K.H. Zainal Musthafa) dan dibantu oleh para santri K.H. Zainal Musthafa yang masih hidup pada tahun 1950. Kemudian pada bulan Desember  1999 K.H. Fuad Muhsin menyerahkan kepemimpinannya kepada putranya K.H. A. Thahir Fuad.

Pengelola pesantren Sukamanah dan sekolah-sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan K.H. Zainal Musthafa Sukamanah dibantu oleh seluruh anggota keluarga besar K.H.Z. Musthafa dan simpatisan sesuai dengan keahlian dan kemampuan yang dimiliki.

Pimpinan Sukamanah dan Sukahideng sepakat untuk mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sukahideng pada tahun 1956, mendirikan sekolah menengah pertama (SMP) Al Islah pada tahun 1958/1959. Setelah terbentuk Yayasan K.H.Z. Musthafa Sukamanah pada tahun 17 Agustus 1959 dengan akta notaris no n8 tahun 1959 dan diperbaharui dengan akta notaris no 10 1988, MI, SMP, SMA dan PGAP menjadi MI, SMP, SMA, PGAPK.H.Zainal Musthafa Sukamanah.

Jalan singaparna diresmikan menjadi jalan K.H. Zainal Musthafa pada tanggal 25 Februari 1960. Sejak tahun 1974 setiap tanggal 25 Februari diselenggarakan peringatan Perjuangan Pahlawan Nasional K.H. Zainal Musthafa. Monument aktualisasi perjuangan K.H. Zainal Musthafa Sukamanah di bandara by pass Tasikmalaya diresmikan pada tanggal 16 November 2000 M / 11 Sya’ban 1421 H oleh gubernur Jawa Barat.

Keluarga K.H. Zainal Musthafa Sukamanah menjadi anggota Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) dan mengikuti musyawarah Nasional anggota IKPNI di Gedung Serbaguna Taman Pahlawan Nasional Kalibata Jakarta pada tanggal 7-9 agustus 2008.

 

Penulis: Dimas Pamungkas

Asal Usul Sunan Giri

Tokoh Wali Songo yang bergelar Prabu Satmata ini makamnya terletak di sebuah bukit di Dusun Kendhaton, Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.

Sunan Giri adalah raja sekaligus guru suci (pandhita ratu) yang memiliki peran penting dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara. Sejarah dakwah Islam di Nusantara mencatat jejak-jejak dakwah Sunan Giri dan keturunannya tidak saja mencapai Banjar di Kalimantan Selatan, Kutai di Kalimantan Timur, dan Gowa di Sulawesi Selatan, tapi juga mencapai Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku.

Sumber Babad Tanah Jawi dan Walisana menunjuk bahwa usaha dakwah yang dilakukan Maulana Ishak (ayah Sunan Giri) yang dikirim Sunan Ampel ke Blambangan mengalami kegagalan. Sebab, Maulana Ishak alias Syaikh Wali Lanang diusir oleh mertuanya yang marah ketika diminta memeluk Islam dan meninggalkan agamanya yang lama. Maulana Ishak pergi meninggalkan istrinya yang hamil tua. Merana ditinggal suami, Retno Sabodi (ibu Sunan Giri) meninggal setelah melahirkan seorang anak laki-laki. Dikisahkan, saat itu terjadi wabah besar melanda Blambangan. Raja Blambangan menduga, wabah itu berhubungan dengan kelahiran bayi laki-laki putra Maulana Ishak. Akhirnya, bayi laki-laki itu diletakkan di dalam peti dan dihanyutkan ke tengah laut dan kemudian peti itu tersangkut di kapal milik Nyai Pinatih yang sedang berlayar ke Bali. Menurut Hoesein Djajadiningrat dalam Sadjarah Banten (1983), Nyai Pinatih adalah seorang janda kaya raya di Gresik, bersuami Koja Mahdum Syahbandar, seorang asing di Majapahit.

Bayi yang tersangkut di kapal itu diambil oleh awak kapal dan diserahkan kepada Nyai Pinatih yang kemudian memungutnya menjadi anak angkat. Karena ditemukan di laut, maka bayi itu dinamai Jaka Samudra. Setelah cukup umur, Jaka Samudra dikirim ke Ampeldenta untuk berguru kepada Sunan Ampel. Menurut Babad Tanah Jawi, sesuai pesan Maulana Ishak, oleh Sunan Ampel nama Jaka Samudra diganti menjadi Raden Paku.

Menurut Raffles dalam The History of Java (1965), Raden Paku sebagai penguasa Giri pertama, yang kisahnya penuh dengan mitos dan legenda itu menyimpan jejak sejarah bahwa tokoh yang masyhur dengan sebutan Sunan Giri (Raja Gunung) itu adalah keturunan orang asing dari Barat bernama Maulana Ishak dengan seorang putri Raja Blambangan. Dari garis ibu, Sunan Giri adalah keturunan Bhre Wirabhumi (putra Hayam Wuruk dari selir yang dirajakan di Blambangan).

 

Penulis; Rahmatussalamah

Sumber; Atlas Walisongo

Asal Usul Dan Kedatangan Sunan Ampel Ke Jawa

Raden Rahmat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel yang makamnya terletak di kampung Ampel, kota Surabaya adalah anggota dewan Wali Songo tertua yang memiliki peranan besar dalam pengembangan dakwah Islam di Jawa dan tempat lain di Nusantara. Dalam historiografi lokal dituturkan bahwa Raden Rahmat datang ke Jawa bersama saudara tuannya yang bernama Ali Musada (Ali Murtadho) da saudara sepupunya yang bernama Raden Burereh (Abu Hurairah). Menurut Lembaga Riset Islam Pesantren Sunan Giri Malang dalam Sejarah Dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri (1975), imam Rahmatullah bersama ayahnya datang ke Jawa dengan tujuan dakwah Islamiyah disertai saudaranya yang bernama Ali Murtadho dan kawannya bernama Abu Hurairah putra Raja Champa. Mereka mendarat di Tuban.

Setelah tinggal di Tuban beberapa lama sampai ayahandanya wafat, imam Rahmatullah berangkat ke Majapahit menemui bibinya yang dikawin Raja Majapahit yang beragama Buddha. Sementara itu, menurut Djajadiningrat dalam Sejarah Banten (1983) dikisahkan bahwa Raden Rahmat ketika dewasa mendengar tentang peperangan di Jawa. Dengan tiga orang pandhita muda (ulama muda) lainnya, Burereh, Seh Salim, dan saudaranya yang tidak disebut namanya, Raden Rahmat berangkat ke Jawa. Setelah keempat orang tadi berangkat ke Jawa, Champa diruntuhkan oleh seorang kafir dari Sanggora.

Kedatangan Sunan Ampel ke Majapahit diperkirakan terjadi awal dasawarsa keempat abad ke-15, yakni saat Arya Damar sudah menjadi Adipati Palembang sebagaimana riwayat yang mengatakan bahwa sebelum ke Jawa, Raden Rahmat telah singgah ke Palembang. Menurut Thomas W. Arnold dalam The Preaching of Islam (1977), Raden Rahmat sewaktu di Palembang menjadi tamu Arya Damar selama dua bulan, dan dia berusaha memperkenalkan Islam kepada raja muda Palembang itu. Arya Damar yang sudah tertarik kepada Islam itu hampir saja diikrarkan menjadi Islam. Namun, karena tidak berani menanggung risiko menghadapi tindakan rakyatnya yang masih terikat pada kepercayaan lama, ia tidak menyatakan keislamannya di hadapan umum. Menurut cerita setempat, setelah memeluk Islam, Arya Damar memakai nama Ario Abdillah.

Keterangan dari Hikayat Hasanuddin yang dikupas oleh J.Edel (1938) menjelaskan bahwa pada waktu Kerajaan Champa ditaklukkan oleh Raja Koci, Raden Rahmat sudah bermukin di Jawa. Itu berarti Raden Rahmat ketika datang ke Jawa sebelum tahun 1446 Masehi, yakni pada tahun jatuhnya Champa akibat serbuan Vietnam. Hal itu sejalan dengan sumber dari Serat Walisana yang menyatakan bahwa Prabu Brawijaya, Raja Majapahit mencegah Raden Rahmat kembali ke Champa karena Champa sudah rusak akibat kalah perang dengan Kerajaan Koci. Penempatan Raden Rahmat di Surabaya dan saudaranya di Gresik, tampaknya memiliki kaitan erat dengan suasana politik di Champa, sehingga dua saudara tersebut ditempatkan di Surabaya dan Gresik dan dinikahkan dengan perempuan setempat.

Babad Ngampeldenta menuturkan bahwa pengangkatan resmi Raden Rahmat sebagai imam di Surabaya dengan gelar sunan dan kedudukan wali di Ngampeldenta dilakukan oleh Raja Majapahit. Dengan demikian, Raden Rahmat lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ngampel. Menurut sumber legenda Islam Raden Rahmat diangkat menjadi imam Masjid Surabaya oleh pejabat Pecat Tandha di Terung yang bernama Arya Sena. Pemempatan Sunan Ampel di Surabaya, selain dilakukan secara resmi oleh Pecat Tandha di Terung juga disertai oleh keluarga-keluarga yang dipercayakan Kerajaan Majapahit untuk dipimpinnya. Menurut Lembaga Riset Islam Pesantren Luhur Sunan Giri Malang (1975), karena hubungan baik dengan Raja Majapahit, Raden Rahmat diberi izin tinggal di Ampel disertai keluarga-keluarga yang diserahkan oleh Raja Majapahit.

Dalam perjalanan menuju Ampel, dikisahkan Raden Rahmat melewati daerah Pari, Kriyan, Wonokromo, dan Kembang Kuning yang berupa hutan. Di tempat itu, Raden Rahmat bertemu dengan Ki Wiryo Saroyo yang dikenal sebagai Ki Bang Kuning yang kemudian menjadi pengikut Raden Rahmat. Sementara menurut Babad Tanah Jawi, sewaktu tinggal di kediaman Ki Bang Kuning, Raden Rahmat menikah dengan putri Ki Bang Kuning yang bernama Mas Karimah. Dari pernikahan itu lahir dua orang putri: Mas Murtosiyah dan Mas Murtosimah. Selama tinggal di kediaman Ki Bang Kuning, Raden Rahmat dikisahkan membangun masjid dan menyebarkan dakwah Islam kepada masyarakat sekitar.

Menurut Serat Walisana, Raja Majapahit tidak langsung mengangkat Raden Rahmat di Ampeldenta, melainkan menyerahkannya kepada Adipati Surabaya bawahan Majapahit bernama Arya Lembusura, yang beragama Islam. Arya Lembusura menempatkan Raden Santri Ali menjadi imam di Gresik dengan gelar Raja Pendhita Agung dengan nama Ali Murtala (Ali Murtadho). Setelah itu, Arya Lembusura menempatkan Raden Rahmat sebagai imam di Surabaya, berkediaman di Ampeldenta dengan gelar Sunan Ampeldenta. Dengan nama Pangeran Katib.

 

Penuslis: Rahmatussalamah

Sumber: Atlas Walisongo