PIMPINAN KOMISARIAT NU AL-MUSRI’ SOWAN KE KYAI BURHAN ROSYIDI

Pengurus Pimpinan Komisariat Nahdlatul Ulama ( PK ) Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ masa khidmat 2022-2023 bersilaturahim ke Kyai Burhan Rosyidi di YPP Al-Huda Al-Musri’ 1, Ciranjang, minggu (26/6).

Kami sowan kepada Kyai Burhan Rosyidi, seesudah dilantik menjadi pengurus PK Al-Musri’. Pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh keakraban itu diawali dengan perbincangan santai, sekaligus mengulas ke-Al-Musrian ke-Nahdlatul Ulamaan juga kebangsaan.

Disamping silaturahmi, diskusi juga tanya jawab, kami mengundang Kh. Burhan Rosyidi untuk bisa menghadiri acara apel kebangsaan di YPP Miftahulhuda Al-Musri’ yang rutin di adakan satu bulan sekali.

Lebih lanjut, Kyai Burhan Rosyidi menyampaikan keadaan sosial, budaya, politik, ekonomi melihat zaman yang begitu dinamis. Perubahan zaman selalu berubah sesuai dengan tantangannya. Memaknai dan memahami perubahan itu tidak secara total, akan tetapi harus dilihat ‘illat-nya sehingga sebagai kader intelektual peranan Banom NU di YPP Miftahulhuda Al-Musri’ tidak bisa dirubah terutama soal ideolgi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah.

“Kontektualisasi Aswaja tentu tidak lepas dari sumbernya yakni al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber primer, misalnya soal ekonomi, politik, budaya, sosial. Dengan demikian kita harus tetap terus aktif dalam khidmat di Nahdlatul Ulama dengan mengisi shaf-shaf yang kosong” terang Kyai Burhan Rosyidi.

 

Pewarta : Dimas Pamungkas

Keutamaan, tata cara puasa syawal dan hukum membatalkan puasa sunnah.

Keutamaan, tata cara puasa syawal dan hukum membatalkan puasa sunnah

Salah puasa sunnah yang dianjurkan dalam Islam adalah puasa enam hari pada bulan Syawwal, lebih tepatnya bisa diamalkan sejak tanggal 2 Syawwal atau setelah Idul Fitri. Rasulullah saw telah menjelaskan dalam haditsnya bahwa orang yang berpuasa Ramadhan kemudian disambung dengan puasa enam hari Syawwal, maka akan memperoleh pahala senilai puasa satu tahun.

Rasulullah saw bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتَّاً مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya, “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan enam hari dari Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim)

Penjelasan Puasa 6 Hari Syawal dan Pahala Setara Puasa Setahun   Perhitungan pahala puasa satu tahun itu berdasarkan firman Allah swt berikut,

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ

Artinya, “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. Al-An’am [6]: 160)

Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap satu amal kebaikan akan mendapat balasan sepuluh kali lipat. Mengacu pada penjelasan tersebut, jika dikalkulasikan maka satu bulan puasa Ramadhan dikali 10 sama dengan 10 bulan, kemudian 6 hari puasa Syawwal dikali 10 sama dengan 2 bulan. Jadi 10 bulan ditambah 2 bulan sama dengan 12 bulan atau satu tahun.

Tata cara puasa sunnah Syawwal sama seperti puasa pada umumnya, yaitu dengan menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Berikut adalah lafal niatnya yang dibaca pada malam hari,

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah ta’ala.”, maka jika lupa niat pada malam hari boleh niat pada siang harinya.

Berikut adalah niat puasa Syawwal jika dibaca di siang hari,

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah ta’ala.”

Dalam kondisi seperti ini, menarik sekali pilihan sikap yang diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu ketika ada sebagian sahabat yang bersikukuh puasa sunnah di tengah jamuan makanan

ia bersabda:

يَتَكَلَّفُ لَكَ أَخُوكَ الْمُسْلِمُ وَتَقُولُ إنِّي صَائِمٌ، أَفْطِرْ ثُمَّ اقْضِ يَوْمًا مَكَانَهُ

Artinya, “Saudara Muslimmu sudah repot-repot (menyediakan makanan) dan kamu berkata, ‘Saya sedang berpuasa?’ Batalkanlah puasamu dan qadha’lah pada hari lain sebagai gantinya,” (HR Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi).

Kemudian dari sinilah para ulama merumuskan, ketika tuan rumah keberatan atas puasa sunnah tamunya, maka hukum membatalkan puasa sunnah baginya untuk menyenangkan hati (idkhalus surur) tuan rumah adalah sunnah karena perintah Nabi SAW dalam hadits tersebut.

Bahkan dalam kondisi seperti ini dikatakan, pahala membatalkan puasa lebih utama daripada pahala berpuasa. (Lihat Abu Bakar bin Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz III, halaman 36).

Dalam konteks ini Ibnu ‘Abbas RA mengatakan:

مِنْ أَفْضَلِ الْحَسَنَاتِ إِكْرَامُ الْجُلَسَاءِ بِالْإِفْطَارِ

Artinya, “Di antara kebaikan yang paling utama adalah memuliakan teman semajelis dengan membatalkan puasa (sunnah),” (Lihat Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, [Beirut, Darul Ma’rifah, tanpa catatan tahun], juz II, halaman 14). Dengan demikian kita ketahui, untuk menjalankan puasa sunnah bulan Syawal saat silaturahmi lebaran hendaknya diketahui, apakah tuan rumah berkeberatan atau tidak dengan puasa kita. Kalau ia tidak berkeberatan maka kita tetap berpuasa. Bila ia keberatan, maka lebih utama kita memakan hidangannya dan berpuasa di hari-hari bulan Syawal lainnya.

penulis: Rifky Aulia

Ziarah, Dewan Kyai/Nyai dan Dewan Ampuh Al-Musri’ : Ma‘unah, Istidrâj, Karamah, Mukjizat

Cianjur, Al-musri’ Media

Dewan Kyai Miftahulhuda Al-Musri’ memimpin Ziarah dan para santri Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ ke makam Syeh Ja’far Sidiq, Syaih Haji Abdul Muhyi Pamijahan hingga Syeh Prabu Hariang Kencana yang diadakan rutin satu tahun sekali oleh para Dewan Kyai / Nyai dan para Ampuh (amanat sepuh) Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat.

Saat berada di bus, perjalanan menuju Syeh Prabu Hariang Kencana, Pangersa HJ, Siti Maryam menyampaikan Mauidzhoh Hasanah tentang Ma’unah, Istidraj, Karamah dan Mukjizat.

“Beliau Menyampaikan bahwa Ma‘unah (pertolongan) Ma‘unah atau pertolongan muncul pada manusia umumnya sebagai bentuk pertolongan Allah kepada mereka, dan terjadi pada perkara umum pula seperti sembuhnya orang yang sudah putus asa bahwa ia tak akan sembuh sama sekali. Derajat ma‘unah ini tidak mencapai irhash maupun mukjizat meski ia dikategorikan sebagai perkara di luar kebiasaan.

Istidrâj Istidrâj diperlihatkan Allah melalui orang-orang kafir dan fasik sebagai fitnah, tipuan, dan bencana bagi orang-orang di sekitar mereka. Contoh, orang kafir semakin sejahtera. Orang durhaka menjalani hidup lancar tanpa cobaan berarti.

Karamah atau keramat sama seperti mukjizat. Namun karamah Allah perlihatkan melalui orang-orang saleh dan para auliya. Seperti karamah Syekh Syeh Haji Abdul Muhyi .

Mukjizat adalah perkara di luar kebiasaan yang diperlihatkan oleh Allah melalui rasul dan nabi-Nya untuk membenarkan kenabiannya. Contohnya, Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh api karena Allah menjadikannya dingin, air keluar dari sela jari Nabi Muhammad SAW, Nabi Isa dapat menghidupkan orang mati dan banyak contoh mukjizat lainnya.”

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menuturkan, kegiatan ini harus kita ambil pelajaran dari apa-apa yang diajarkan Nabi kepada Salafunas Sholih tiada lain dengan mencintai Aulia Allah maka rahmat dan ridho-Nya akan sampai juga kepada kita.

“Berziarah kepada Aulia Allah, merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW kepada umatnya, minimal kita tidak lupa sejarah mereka Orang-orang yang dicintai Allah Ta’ala, (المرء مع من احب) ‘seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintai nya’ semoga kita dikumpulkan bersama mereka.”

“Wisata Ziarah Ini menjadi wasilah bagi para santri Miftahulhuda Al-Musri’ untuk mendapatkan pengertahuan terkait para pendakwah Islam di Nusantara, dan ngalab keberkahan sebagai pengikut ajaran para Wali yang bermanhaj Ahlusunnah wal Jamaah.”

Penulis: Dimas Pamungkas

REZEKI ADA EMPAT KATEGORI

Bismillahirrohmanirrohim

Hadirin sekalian yang di Rahmati Allah, ketika saya balagan dalam pengajian Al-Hikam umum, tepatnya hari Jum’at 11 Febuari, pukul 21.00 WIB, beliau “Akang Acep Sanusi” mengatakan bahwa rezeki itu terbagi menjadi empat bagian.

Yang pertama ada Namanya rezeki Madhum. Rezeki madhum itu seperti makanan (rezeki) yang menjadi penyebab kekuatan tegaknya tubuh, tanpa sebab-sebab yang lain. Jaminan Allah adalah untuk rezeki semacam ini. Orang wajib bertawakkal menghadapi rezeki madhmun ini, berdasarkan dalil akal dan dalil syara’. Sebab, Allah SWT membebani kita supaya berkhidmat dan taat beribadah kepada-Nya, dengan menggunakan badan kita. Jadi, Allah SWT pasti menjamin apa yang bisa mencegah kerusakan badan, agar kita dapat melakukan apa yang dibebankan kepada kita.

Yang kedua Rezeki yang dibagikan Allah SWT dan ditetapkannya di Lauhil Mahfuzh (Maqsum), yaitu apa yang dimakan, diminum, dipakai oleh hamba, masing-masing telah ditentukan oleh Allah SWT dengan ketetapan tertentu dan dalam batas waktu tertentu pula, tidak lebih dan tidak kurang, tidak maju dan tidak pula mundur dari ketentuan yang telah ditetapkan, persis seperti aslinya.

Rasulullah SAW bersabda: “Rezeki itu telah rampung pembagiannya (tidak lagi diubah). Ketakwaan orang yang takwa tidak bisa menambah rezekinya dan kedurhakaan orang yang durhaka tidak pula dapat mengurangi rezekinya.”

Dan juga mengutip dari kitab Al-Hikam :

اجتهادك فيما ضمن لك وتقصيرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة منك 

Artinya, “Kesungguhanmu dalam mengejar apa yang telah dijamin untukmu, dan kelalaianmu menunaikan kewajiban yang telah dituntut darimu adalah bukti rabunnya mata batinmu,” (Lihat Ibnu Athaillah, Al-Hikam: Rampai Hikmah Ibn ‘Athaillah,

Yang ketiga Rezeki yang dimiliki (Mamluk), yaitu rezeki yang dimiliki oleh setiap hamba, yaitu harta di dunia yang dimiliki menurut apa yang ditentukan Allah SWT dan dibagikan Allah SWT untuk dimiliki oleh hamba. Ini adalah merupakan sebagian dari rezeki-Nya. Firman-Nya:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُون

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah 254).

Yang keempat Rezeki yang dijanjikan (Mau’ud), maksudnya adalah rezeki yang telah dijanjikan Allah SWT kepada para hamba-Nya yang bertakwa dengan syarat takwa, berupa rezeki yang halal, yang diterimakan dengan tanpa bersusah payah mencarinya.

Allah SWT berfirman:

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS Ath-Thalaq 2-3). Wallahu A’lam Bisshawab

 

penulis : Dimas Pamungkas

Peringatan Hari Lahir Nahdlatul ‘Ulama Ke-96

Nadlatul Ulama (NU) merayakan hari ulang tahun ke-96 pada Senin (31/1/2022) dengan tema Menyongsong 100 Tahun Nahdlatul Ulama: Merawat Jagat, Membangun Peradaban.  NU (Nahdlatul Ulama) adalah organisasi Islam di Indonesia yang berdiri pada 31 Januari 1926 M / 16 Rajab 1344 di Kota Surabaya. Sejak sebelum Indonesia merdeka, Nahdlatul Ulama merupakan organisasi yang memberikan kontribusi nyata untuk mencapai kemerdekaan dan turut mengisi pembangunan negara kita, Indonesia. Kita semua bersyukur, alhamdulillah, dan berterima kasih kepada Nahdlatul Ulama yang senantiasa konsisten membela Pancasila, membela bhinneka tunggal ika, membela Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Di tengah perubahan dan tantangan zaman yang semakin kompleks, NU juga selalu berada di garda terdepan dalam membela kepentingan bangsa dan negara. Kita semua melihat bukti, Nahdlatul Ulama berperan besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, menggerakkan semangat nasionalisme dan semangat toleransi, serta dalam melawan segala bentuk radikalisme dan terorisme. Peran strategis para kiai dan ibu nyai, para santri, bersama-sama seluruh pemangku kepentingan bangsa, ikut membangun masa depan Indonesia dan sangatlah diharapkan apalagi dalam menjawab tantangan era revolusi industri jilid keempat dan kompetisi global sekarang ini.

Dan pada hari kamis tanggal 3 februari 2022, miftahulhuda almusri sebagai pondok pesantren yang kerap membesarkan nama nahdlatul ulama mengadakan acara untuk memperingati hari lahir nahdlatul ulama . Pada acara ini, Dengan diketuai oleh ust. Sam sam yang menjabat sebagai ketua badan otonom NU al-musri, menghadirkan para alim ulama diantaranya adalah Aang Ariful Kholiq Jaelani, Aang Alwan Sofiyullah, Aang M. Ubeidillah, Ajengan Yayan Bunyamin Dan Kyai Asep Fathul Majid. Setelah acara dibuka dengan khidmat, acara pun pertama kali di isi oleh P.Ny Hj.Siti Maryam selaku salahsatu dewan nyai miftahul huda al-musri. Beliau menyampaikan surat almulk ayat 2 yang menjelaskan tentang berlomba-lomba dalam kebaikan yang paling bagus yang menjadi salhsatu ujian bagi umat oleh Allah SWT. Dan semoga dengan diadakannya acara peringatan harlah NU ini, membuat kita semakin berlomba-lomba dalam hal yang lebih baik, dan harus semangat untuk menghidupkan Nahdlatul Ulama”, tutupnya.

Setelah menyanyikan lagu indonesia raya dan yalal wathon yang dipimpin oleh grup paduan suara ippnu serta pembacaan takriran almusri yang dipimpin oleh Ust.Khoerul Anwar yang menjabat sebgaia rois 1 Miftahulhuda Al-Musri, acara pun dilanjutkan dengan talkshow keaswajaan yang di isi oleh Aang Ariful Kholiq Jaelani, Aang Alwan Sofiyullah, Aang M. Ubeidillah, Ajengan Yayan Bunyamin Dan Kyai Asep Fathul Majid.

menyampaikan salah satu ayat dari Surat Al Mulk, yang menjelaskan tentang berlomba-lomba dalam kebaikan yang paling bagus, yang menjadi salah satu ujian umat oleh allah.

“Allah itu yang menciptakan kehidupan dan kematian, karena allah akan menguji kepada kalian semua, dalam berlomba-lomba dalam kebaikan’’, ucapnya.

Semoga peringatan HARLAH NU ini, kita semua semakin berlomba-lomba dalam perbuatan yang paling bagus, harus semangat dan tekun dalam menghidup-hidup NU, tutupnya.

Salah satu pemateri dalam acara ini, yaitu Ang Ariful Kholiq, yang menjabat sebagai Ketua Ansor Kabupaten Cianjur, menyampaikan meteri tentang ke-almusri’an, beliau menyampaikan tentang metode ke-almusri’an yang dirawat dan diteruskan oleh para putra, putri, santri Mama Syaikuna.

‘’Saya merasa bersyukur, karena di al musri’ ini walaupun kita memakai metode salafiyyah, tapi metodenya itu ter-sistem, sehingga walaupun ditinggal oleh pendirinya, bukan malah melosot, tapi justru malah meningkat’’, ucapnya.

Metode luar biasa di-era modern, karena banyak pesantren besar malah menurun, ketika sosok pendirinya meninggal’’, tutupnya.

Juga dalam pengisi materi tentang ke-Aswajaan, ajengan Yayan Bunyamin dari kota Tasikmalaya, beliau menjelaskan tentang apa itu Aswaja, dan menjelaskan organisasi NU membutuhkan santri-santri yang mempunyai kemampuan secara berbarengan.

‘’Aswaja adalah ideologi penguasaan sejarah ke-islaman yang terbentang di-era salaf sampai khalaf, dari maroko sampai merauke, dari musim duren hingga musim rambutan’’, ucapnya.

Nahdlatul ‘Ulama membutuhkan santri yang mempunyai kemampuan secara berbarengan, yaitu kesatu pemahaman akal rumput (permasalan terkecil oleh masyarakat terkecil), harus bisa menyelesaikan masalah umat, kedua mempunyai wawasan global yang mampu bersaing di dunia internasional, merespon isu-isu global maupun internasional, karena salah satu tujuan didirikan NU untuk menterjemahkan dokrin-dokrin islam rahmatan lil ‘alamin, tutupnya.

penulis : Rifky Aulia