Tabligh Akbar Haul 26 Yang Mengusung Tema “Mempertahankan Tradisi Almusri”

Pada hari Jumat, 23 Januari 2026 pukul 07.30 WIB, kegiatan pengajian tabligh akbar dilaksanakan. Suasana khidmat terasa begitu memasuki wilayah pesantren. Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan kajian agama yang disampaikan dengan penuh hikmah memenuhi ruangan, menyentuh hati setiap peserta yang hadir.

Pembukaan acara dimulai oleh grup hadroh Ashabulhub. Lalu acara disambung oleh pembacaan ayat suci alquran, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars Almusri, sambutan-sambutan, pembacaan manakib mama, pembacaan tawasul oleh Umi Hajah Cucu Nurjanah, dan acara inti yaitu tabligh akabar yang dibawakan oleh KH. MS Jamaludin

.

Umi Hajah Siti Maryam selaku wakil yayasan dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada seluruh jamah yang hadir. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Almusri serta seluruh pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan tersebut, sekaligus memohon maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan terdapat kekurangan.

Ketua pelaksana, U. Siti Masithoh Mufidah S.Pd., dalam sambutannya sangat berterimakasih kepada para masyaikh, segenap para panitia, dan yang bersangkutan dengan acara haol 26 dan menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya acara. Beliau berharap kegiatan ini menjadi amal ibadah dan membawa keberkahan bagi seluruh hadirin. 

KH. MS Jamaludin berkata, ada 4 golongan yang tidak akan kenyang oleh 4 perkara:

  1. Dunia tidak akan cukup dengan air.
  2. Manusia berilmu tidak akan cukup dengan ilmu.
  3. Perempuan tidak akan cukup dengan laki-laki.
  4. Orang kaya tidak akan cukup dengan harta.

Kegiatan pengajian ini bukan hanya sekadar rutinitas, namun telah menjadi bagian penting dalam mempererat tali persaudaraan. Sambil menambah wawasan keagamaan, mereka juga memiliki kesempatan untuk saling bertukar cerita, berbagi pengalaman, dan memperkuat rasa solidaritas, menjadi wadah silaturahmi sekaligus menimba ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk senantiasa mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Puncak Haul Almusri 2026 “Mempertahankan Tradisi Almusri”

  Telah diselenggarakannya haul mama syaikhuna yang ke-26 yang digelar di pondok pesantren miftahulhuda al-musri pada tanggal 17-23 januari 2026. Kegiatan tersebut dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai wilayah. Pengajian akbar ini menjadi momentum penting dalam memperkuat ukhwah Islamiyah sekaligus mengenang jasa para guru yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan pendidikan pesantren.

Adapun susunan acara dari awal sampai akhir ialah:

1. Muqoddimah

2. Pembacaan ayat suci al-quran oleh KH. Mukhlis Thohir (Tasikmalaya)

3. Laporan ketua panitia penyelenggaraan haul

4. Sambutan-sambutan

5. Manakib mama syaikhuna

6. Amanah mama syaikhuna

7. Sambutan bupati Cianjur

8. Pembacaan tausyiah

9. Tahlilan dan shalawat akbar

10. Do’a tutup

Dalam sambutannya Kyai Acep Sanusi menjelaskan bahwa amaliyah amaliyah yang bersangkutan dengan ashab sohibul hal itu mengandung pahala yang mana pahala tersebut terus mengalir kepada guru disertai dengan estafet perjuangan mama syaikhuna dalam mengamalkan ilmu seperti sekarang.

Semoga Allah mengangkat derajat orang yang mencari ilmu yang mana beliau tanpa berhenti berdo’a dan bertawakal kepada Allah. Semoga apa saja amaliyah-amaliyah yang sudah diamalkan diterima disisi allah dan bertambah kemanfaatan ilmunya.

Lalu acara berlanjut dengan pembacaan manakib mama syaikhuna yang dibawakan oleh KH. Farid Hamzah. Adapun biografi singkat mama KH. Ahmad Faqih yaitu berawal dari cerita dimana abah H. Kurdi (ayah mama) menuntut ilmu di daerah kudang yang disebut Kudang Pesantren Tasikmalaya daerah Jawa Barat. Singkat cerita abah H. Kurdi menikah dengan seorang janda anak 1 bernama Hj. Siti Halimah. Tidak berselang lama mama lahir pada bulan januari tahun 1913 bertepatan dengan bulan safar 1931 H di Tasikmalaya.

Lalu mama menuntut ilmu di mama H. Sobandi dan KH. Zaenal Musthofa(pahlawan Indonesia). Beliau menempuh ilmu di Sukamanah selama 12 tahun. Pada tahun 1937 mama memperdalam kepada KH. Fahruroji kurang lebih selama 1 bulan. Setelah itu beliau mukim ke Kp. Kebon Kelapa Cibereum.

Pada tahun 1938 mama menikah dengan Hj. Siti Juhaenah dan mendirikan pesantren. Belanda membakar pesantren dan menangkap mama yang pada saat itu sudah memiliki 2 istri. Singkat cerita akhirnya mama berhasil mendirikan pondok pesantren Miftahulhuda Almusri.

Selanjutnya pembacaan amanah mama dan penerangan amalan mama yang dibacakan oleh KH. Ayi Mahdi yang mana amanat tersebut adalah :

  1. Silaturahmi
  2. Mengamalkan urusan politik Islam
  3. Istiqamah dalam ahlussunnah waljama’ah
  4. Mengamalkan ilmu khidmah
  5. Menyempurnakan pengajaran santri masyarakat

Mama syaikhuna menyukai mukimin yang mempunyai sifat sederhana,kepemimpinan kemandirian,sosial,kepoloporan,dan santun. Dilanjut dengan sambutan bupati Cianjur yaitu dr. Mohamad Wahyu Ferdian Sp.Og. yang menerangkan bahwa kita harus menjadikan haul itu teladan keteguhan iman dan keikhlasan. Sekaligus memperkuat ukhwah islamiyyah,wathoniyah,lisaniyyah dan sarana untuk memperbaiki diri yang mana semua itu berfungsi agar pondok pesantren Miftahulhuda Almusri lebih maju.

Setelah itu acara inti yaitu tahlil,shalawat akbar dan doa tutup yang dipimpin oleh KH. Mahmud Munawwar.

Pengajian akbar berlangsung dengan khidmat dan penuh kekhusyukan. Melalui kegiatan haul ini, diharapkan nilai-nilai keimanan, kebersamaan, serta keteladanan para ulama dapat terus hidup dan menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Isra’ Mi’raj: Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad SAW

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang diperingati umat muslim setiap tanggal 27 Rajab dalam kalender hijriah. Peristiwa ini menjadi tonggak spiritual yang menguatkan keimanan dan ketakwaan umat Islam hingga saat ini.

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dalam satu malam. Isra’ dimaknai sebagai perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sementara Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa ke langit hingga Sidratul Muntaha atas kehendak Allah SWT.

Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat lima waktu yang menjadi kewajiban utama bagi umat Islam. Salat menjadi ibadah yang memiliki kedudukan istimewa karena langsung diperintahkan oleh Allah SWT tanpa perantara wahyu di bumi.

Peringatan Isra’ Mi’raj di berbagai daerah biasanya diisi dengan kegiatan keagamaan seperti pengajian, ceramah, pembacaan selawat, dan doa bersama. Kegiatan ini bertujuan untuk mengingat kembali sejarah Isra’ Mi’raj serta menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Para ulama menyampaikan bahwa Isra’ Mi’raj mengandung pesan penting tentang keimanan, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah SWT. Di tengah tantangan kehidupan modern, nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab.

Melalui peringatan Isra’ Mi’raj, umat Islam diharapkan tidak hanya mengenang peristiwa bersejarah, tetapi juga mampu mengamalkan hikmah yang terkandung di dalamnya, terutama dalam menjaga kualitas salat dan meningkatkan hubungan dengan Allah SWT serta sesama manusia.

Biografi Akang KH. Ade Muhammad Mansur Shomad

Tentang Kelahiran

Akang KH. Ade Muhammad Manshur Somad merupakan putra ke 5 Dari pasangan Mama K.H. Ahmad Faqih bin H. Kurdi & Eneh Hj. Qoni’ah binti Madsu’i (Pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Musri’ Pasir Nangka Ciranjang Cianjur). Beliau lahir di Cianjur pada hari Kamis, 4 Romadon, 1376 H / 5 April 1957 M Ketika Mama Syaekhuna berada di Tasikmalaya. menurut alm. Abah Sodikin (santri angkatan ke 1 yang ikut ke Cianjur dan merupakan santri yang mengasuh langsung Akang) dilahirkannya beliau tidak oleh Ma Paraji tetapi langsung diurus oleh pihak keluarga, bahkan yang langsung memandikannya ialah Abah Sodikin sendiri. Karena ketika Ma Paraji datang, beliau telah lahir kedunia dengan selamat.

Masa kecil

Pada usia sekolah SD, beliau bersekolah di SD Sumelap Tasikmalaya selama 5 tahun. Proses memulai sekolah pada usia Pada usia 5 tahun tepatnya tahun 1962 , ketika beliau dirawat oleh neneknya, yaitu : nenek rufi. Beliau bersekolah SD sampai kelas 5, lalu mengikuti ujian kelas 6 dalam rangka mengganti murid kelas 6 yang tidak ikut ujian, dan ternyata beliau lulus. Sehingga sekolahnya hanya dalam waktu 5 tahun saja. Keadaan ini merupakan satu alamat bahwa beliau adalah anak yang cerdas diatas rata-rata sebayanya. Setelah lulus SD beliau pulang kembali ke Cianjur, tepatnya di Pondok Abahnya yaitu di Al Musri’ untuk melanjutkan program pendidikannya yang difokuskan dalam program pendidikan Pesantren.

Masa remaja

Masa remaja beliau dihabiskan di lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Musri’, yaitu pesantren yang didirikan oleh ayahandanya Mama KH. Ahmad Faqih bin Mama Kurdi. Beliau mengaji langsung dibawah bimbingan Abahnya sendiri, yaitu Mama Faqih. Sebagaimana program ke Al Musri’ an yang terprogram dan berkurikulum. Beliau mulai mengaji dari tingkat pemula (Ibtidaiyah), lalu ke tingkat Tsanawiyah dan terakhir ke tingkat Ma’had Aly, Walaupun pada masa itu belum diberlakukan secara formal jenjang/ tingkatan sebagaimana pada waktu sekarang. Menurut informasi, bahwa diantara santri Al Musri’ yang menonjol pada masa itu berjumlah tiga orang, yaitu : 1. Alm. Akang KH.Ade Muhammad Mansur 2. KH. Saeful Uyun, Lc (Pangersa Ayah) 3. KH. Maman Abdurrahman Pasir Asem. Ketiga santri tersebut selalu berlomba-lomba dan saling mengalahkan satu sama lainnya dalam hal Musabaqoh Hifdzil kutub maupun Fahmil Kutub pada masa itu. Demikian dituturkan oleh Akang KH. Abdul Wahab Sya’roni Ciamis. Disamping mengaji langsung kepada Abahnya sendiri, beliau juga berguru kepada beberapa kyai dlam fan ilmu tertentu. Sperti ilmu Warits dengan kitab Rohbiyah sebagai rujukan utamanya kepada KH.—- di daerah Sukaluyu Cianjur serta belajar ilmu Hikmah kepada —- didaerah Kayu manis Cipanas.

Masa keluarga

Pada hari Ahad, 17 agustus 1980 M / 6 Syawal 1400 H Pangersa Akang KH.Ade Mansur As Somad menikahi Pangersa Umi Hj. Yayah Ruqoyah, dari hasil pertikahannya dengan Pangersa Umi ini lahirlah 9 putra putri yaitu : 1. Ang Ariful Kholiq Jaelani 2. Ang Muan Habibul fatah 3. Teh Ina Izzatul inayah 4. Ang Maksal Mina 5. teh Solahti Yakarimah 6. Ang Darwis Munawwarul Haq 7. Neng Robiah Amatillah 8. Neng Atifah (almh pada usia 2 bulan ) 9. Ang Aceng Gozalie . Sedangkan sekitar tahun 1986 beliau menikah dengan istri kedua bernama Umi Siti Robiah Adawiyah, Dari pernikahan ini beliau mempunyai satu orang putra yang bernama Ang Ahmad Arifin (sekarang tinggal di Lampung).

Tentang Wafat

Dalam perjalanan khidmahnya beliau diuji oleh Alloh Swt dengan adanya penyakit diabetes ( dalam istilah Indonesia nya “Kencing manis” ). Sejak itu beliau keluar masuk rumah sakit. Penyakit itulah yang menjadi syariat wafatnya beliau. Tepatnya pada hari Selasa 8 Muharom1435 H/12 November 2013 M beliau dipanggil oleh Sang Khaliq untuk menghadap-Nya. Selamat jalan guru kami tercinta, insya Alloh ilmu yang telah diberikan dan diamalkan kepada kami para santrinya akan mengiringi kepergian beliau menghadap ke hadrah Kekasihnya Sang Khaliqul khalqi Alloh Swt. Sebagai santrinya kita meyakinkan bahwa beliau termasuk dalam sebuah sabda Baginda Rasulullah SW. Yaitu Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya wafat ialah ilmu yang ia sebar luaskan, anak soleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibinanya, rumah yang dibinanya untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan, sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya” (HR. Ibnu Majah). Bagi Guru kita semua di Al Musri’ ….Al fatihah…

Tentang Perjuangan

1. Menjadi inspirator bagi program dan kurikulum pendidikan di Al Musri’

2. Aktif sebagai inspirasi pergerakan Jam’iyatul Muqimin Al Musri’

Program Syahriahan merupakan program yang sangat penting, saking pentingnya maka Mama Syaekhuna KH.Ahmad Faqih sampai membuat peraturan terkait program ini kepada para alumni, yaitu ada dalam 5 katagori waktu :

1. Bagi alumni yang dekat ( Sekitar Bandung – Cianjur – Sukabumi ), wajib hadir pada syahriahan harus setiap bulan

2. Bagi alumni jauh ( Garut dan seterusnya ), wajib hadir pada Syahriahan setiap tiga bulan sekali

3. Bagi alumni yang lebih jauh ( luar Provinsi ), wajib hadir satu tahun sekali

4. Menjadi penggerak adanya infaq Alumni melalui program mobil inventaris Al Musri’

5. Menjadi pelopor adanya pemuqiman bagi santri diluar alumni

Suri Tauladan

  1. Terkenal Kepintarannya
  2. Terkenal ketekunannya

Menurut sebuah riwayat, setiap beliau melaksanakan program UL (istilah santri yang merupakan singkatan dari Usaha Leletikan, ketika menghadiri acara selametan atau tahlilan di masyarakat ), beliau selalu membawa catatan kecil yang berupa catatan hapalannya. Sehingga ketika keluar dari tempat UL, maka mendapatkan dua keuntungsn, yaitu satu Berkat, kedua hafalan. Hal tersebut mencerminkan jiwa ketekunannya dalam hal belajar.

  • Terkenal kewaroannya Salah satu kegemaran
  • Terkenal kesosialannya
  • Terkenal Kemahabbahannya
  • Terkenal Ketawaduannya
  • Terkenal keteguhannya
  • Ahli Ziarah

Hampir setiap minggu pada hari libur pesantren, yaitu antara hari kamis dan Jum’at beliau berziarah kepada para ahli sholeh dan para kyai, baik yang sudah wafat atau yang masih hidup. Dalam rangka Tabarrukan kepada mereka.

Lain lain

  1. Satu Angkatan dengan KH. Saeful Uyun & KH. Maman Abdurrohman Pasir Asem
  2.  Beliau Cerdas dan tekun
  3.  Beliau oleh Mama tidak di idzinkan sama sekali untuk keluar, dengan alasan supaya fokus di bidang pendidikan, sehingga beliau ditugaskan menjadi Kaur Pendidikan.
  4. Beliau bersekolah di SD Sumelap. SD sampai kelas 5. Beliau mengikuti ujian kelas 6 dalam rangka mengganti murid kelas 6 yang tidak ikut ujian, dan ternyata beliau lulus. Sehingga sekolahnya hanya dalam waktu 5 tahun saja. ( info dari KH. Abdul Wahhab Sya’roni Cijengjing Ciamis )
  5. Beliau ahli ziarah, setiap hari libur pesantren beliau ziarah
  6. Pengalaman ketika ziarah ke pamijahan bersama kang Ujang Fahyudin mengunjungi, “ nya pan anu bieu teh saha atuh ?” ( K. Ujang Fahyudin )
  7. Amalan Hajian : K. Ujang Fahyudin Dipiwarang Akang milarian amalan hajian anu aya di Ust. Lili Sumedang (alumni Al Musri’). Kapendakna nembe 5 taun. Setelah 1 tahun mengamalkan baru naek haji melalui bantuan dari kang Lukman (KH. Ujang Fahyudin)
  8. Mimpi dari seorang Muqimat

Sekitar tahun 2012 an, ketika pulang dari kuliah perdana di Ma’had Zawiyah Jakarta
Timur asuhan alm. Abuya KH. Saifudin Amsir, M.A. Beliau pulang kerumahnya dan ketika
tidur beliau bermimpi : dalam mimpinya beliau dipanggil Hadratus Syekh Mama
Syaekhuna KH. Ahmad Faqih ( Pendiri Ponpes Miftahul huda Al-Musri’ ), lalu Mama
berkata “ kadieu ! Mama rek nurunken elmu” , muqimat tersebut mendekat dan
bertalaqqi langsung (berhadapan langsung) dengan Mama Syaekhuna. Lalu Mama menyuruh muqimat menjabat tangan beliau lalu mengucapkan
“Bismillaahirrohmaanirrohiim “, setelah itu beliau berkata “tah ayena mah tuluyken
ngajina ka dieu nya, ngaji hikam supaya kabawa sholeh, Mama bade istirahat hela“.
Muqimat tersebut lalu menoleh ke arah Dewan Kyai yang ditujuk oleh Mama Syaekhuna,
dan ternyata Dewan tersebut ialah Pangersa Akang KH.Ade Muhammad manshur
Somad. Setelah itu pangersa Akang mengajak muqimat tersebut mengaji kitab al
Hikamnya di madrasah. Dan ketika itu dimadrasah suda dipenuhi oleh para alumni Al
Musri’. Demikian. Wallohu a’lam

I. Ahli Fiqh

Kebijaksanaan berdasarkan aplikasi qowaidul fiqhi ( ahli ushul dan qowaid fiqh).
Ketika itu seorang Muqimat sedang meminta idzin melaksanakan Humas diluar Al
Musri’, kebetulan pada waktu itu di Al Musri’ sedang diberlakukan secara ketat masalah
Mahrom bagi santri wanita. Sedangkan muqimat tersebut akan melaksanakan tugasnya
melaksanakan humas dengan tanpa disertai oleh santriyat lainnya. Secara aturan asal
jelas hal tersebut tidak diperkenankan, namun ketika itu Pangersa Akang mendekati
muqimat tersebut yang sedang meminta idzin kepada Dewan kyai masalah peridzinan.
Lalu beliau menanyakan tentang isi dari pembicaraannya. Lalu dikatakan bahwa
muqimat tersebut akan melaksanakan tugasnya melaksanakan humas dengan tanpa
disertai oleh santriyat lainnya, dengan alasan tidak mempunyai ongkos untuk santriyat
yang menemaninya. Maka atas penjelasan tersebut pangersa Akang berkata “ wios
widian we, insya Alloh anjenna istri anu kapercaya, oge sok nyorogken pami tinggalen
pelajaran teh“. Maka atas dasar perkataan beliau, maka muqimat tersebut diberikan
idzin untuk melaksanakan Humas dengan sendiri. Hal tersebut sesuai denga qawaidul fiqih “ Hukum itu berputar pada illatnya, ketika illat
ada hukum pun berlaku. Tapi ketika ilat hukum tidak ada, maka hukum pun tidak
berlaku.

Istri pertama : Hj. Yayah Ruqoyah 5 Syawal 1400 H = Ahad 17 Agustus 1980M Istri kedua : Ibu Siti Robi’ah Adawiyah 1986

Anak dari istri pertama : sembilan (9)

1. Ariful Kholiq Zaelani (anak pertama) 2. Mu’an Habibul Fatah (anak ke-dua) 3. Ina ‘Izzatul Inayah (anak ke-empat) 25-april-1989 4. Maksalmina (anak ke-lima) 19-mei-1992 5. Solahti Yakarimah (anak ke-enam) 24-maret-1995 6. Darwis Munawarul Haq (anak ke-tujuh) 04-november-1997 7. Robi’ah Amatillah (anak ke-delapan) 05-desember-2000 8. ‘Atifah (anak ke-sembilan) 15-april-2002 9. Aceng Gozali (anak ke-sepuluh) 16-september-2003

Anak dari istri kedua : Ahmad ‘Arifin (anak ke-tiga)  12-agustus-1987 Wafat : Cianjur

Penulis: Ang Maksalmina

Editor: Nabil Aljabar

Isra’ Mi’raj Dan Pelajaran Penting Dalam Hidup

Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa agung, yaitu Allah Subhanahu Wa Taala (SWT) memberikan keistimewaan pada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina. Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT sang pencipta alam semesta

Penegasan ini sebagaimana firman Allah dalam surat Isra’ ayat 1:   

   سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ   

 Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Artikel diambil dari: Khutbah Jumat: Empat Pelajaran dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj   Imam Bukhari mengisahkan perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dalam Shahih Bukhari, juz 5 halaman 52.

Intisarinya adalah: Suatu ketika Nabi berada di dalam suatu kamar dalam keadaan tidur, kemudian datang malaikat mengeluarkan hati Nabi dan menyucinya, kemudian memberikannya emas yang dipenuhi dengan iman. Kemudian hati Nabi dikembalikan sebagaimana semula.

Setelah itu Nabi melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dengan mengendarai buraq dengan diantar oleh Malaikat Jibril hingga langit dunia, kemudian terdapat pertanyaan: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Selamat datang, sungguh sebaik-baiknya orang yang berkunjung adalah engkau, wahai Nabi.Di langit dunia ini, Nabi bertemu dengan Nabi Adam Alaihis Salam (AS), Jibril menunjukkan bahwa Nabi Adam adalah bapak dari para nabi.

Jibril memohon kepada Nabi Muhammad untuk mengucapkan salam kepada Nabi Adam, Nabi Muhammad mengucapkan salam kepada Nabi Adam, berikutnya Nabi Adam juga membalas salam kepada Nabi Muhammad. Perjalanan dilanjutkan menuju langit kedua, di sini Nabi bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga, Nabi Muhammad bertemu Nabi Yusuf, di langit keempat dengan Nabi Idris, di langit kelima bertemu Nabi Harun, di langit keenam dengan Nabi Musa.

 Nabi Musa menangis karena Nabi Muhammad memiliki umat yang paling banyak masuk surga, melampaui dari umat Nabi Musa sendiri. Dan terakhir di langit ketujuh, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim. Setelah itu, Nabi Muhammad menuju Sidratul Muntaha, tempat Nabi bermunajat dan berdoa kepada Allah. Kemudian Nabi naik menuju Baitul Makmur, yaitu baitullah di langit ketujuh yang arahnya lurus dengan Ka’bah di bumi, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk untuk berthawaf di dalamnya. Selanjutnya Nabi disuguhi dengan arak, susu, dan madu.

Nabi kemudian mengambil susu, Jibril mengatakan: Susu adalah lambang dari kemurnian dan fitrah yang menjadi ciri khas Nabi Muhammad dan umatnya. Di Baitul Makmur, Nabi Muhammad bertemu dengan Allah SWT dan mewajibkan melaksanakan shalat fardhu sebanyak lima puluh rakaat setiap hari. Nabi menerima dan dalam perjalanan bertemu Nabi Musa. Ia mengingatkan bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu dengan perintah shalat lima puluh kali sehari, Nabi Musa mengatakan: Umatku telah membuktikannya.

Lalu meminta kepada Nabi Muhammad untuk kembali kepada Allah SWT, mohonlah keringanan untuk umatnya. Kemudian Nabi menghadap kepada Allah dan diringankan menjadi shalat sepuluh kali.    Kemudian Nabi Muhammad kembali , dan Nabi Musa mengingatkan sebagaimana yang pertama. Kembali Nabi menghadap Allah hingga dua kali, dan akhirnya Allah mewajibkan shalat lima waktu. Nabi Musa tetap mengatakan bahwa umat Muhammad tidak akan kuat.

Nabi Muhammad menjawab: Saya malu untuk kembali menghadap pada Allah dan ridha serta pasrah kepada Allah. Imam Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah, Sirah Nabawiyah, juz 2 halaman 94 menceritakan, keesokan harinya Nabi menyampaikan peristiwa tentang Isra’ Mi’raj terhadap kaum Quraisy. Mayoritas mereka ingkar terhadap kisah yang disampaikan Nabi Muhammad, bahkan sebagian kaum muslimin ada yang kembali murtad karena tidak percaya terhadap kisah yang disampaikan Nabi.

 Melihat hal tersebut, Abu Bakar bergegas untuk membenarkan kisah Isra’ Mi’raj Nabi: Sungguh aku percaya terhadap berita dari langit, apakah yang hanya tentang berita Baitul Maqdis aku tidak percaya? Sejak saat itu sahabat Abu Bakar dijuluki dengan sebutan Abu Bakar as-Shiddiq, Abu Bakar yang sangat jujur. Pelajaran Penting Ali Muhammad Shalabi dalam Sirah Nabawiyah: ‘Irdlu Waqâi’ wa Tahlîl Ihdats, juz 1 halaman 209 menjelaskan setidaknya ada makna penting dari peristiwa ini.  

1. Kemuliaan dan Keistimewaan Nabi Muhammad  Nabi Muhammad SAW baru saja mengalami hal yang amat menyedihkan, yaitu wafatnya Sayyidah Khodijah sebagai istri tercinta, yang selalu mengorbankan jiwa, tenaga, pikiran, dan hartanya demi perjuangan Nabi. Juga wafatnya sang paman, Abu Thalib yang selalu melindungi Nabi dari kekejaman kaum Quraisy. Allah ingin menguatkan hati Nabi dengan melihat secara langsung kebesaran Allah SWT. Sehingga hati Nabi semakin mantap dan teguh dalam menyebarkan agama Islam. Ini memberikan pelajaran, bahwa siapa pun yang berjuang di jalan Allah, dan menegakkan agama, seperti dengan memakmurkan masjid, memakmurkan majlis ilmu, dzikir dan tahlil, Allah akan memberikan kebahagiaan dan keistimewaan.

 2. Kewajiban Shalat Lima Waktu Musthofa As Siba’i dalam kitab Sirah Nabawiyah, Durus wa Ibar, jilid 1 halaman 54 menjelaskan bahwa jika Nabi melakukan Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasadnya sebagai mukjizat. Karenanya, sebuah keharusan bagi tiap muslim menghadap (mi’raj) kepada Allah SWT lima kali sehari dengan jiwa dan hati yang khusyu’.   Dengan shalat yang khusyu’, seseorang akan merasa diawasi oleh Allah SWT, sehingga malu untuk menuruti syahwat dan hawa nafsu, berkata kotor, mencaci orang lain, berbuat bohong. Justru sebaliknya lebih senang dan mudah untuk melakukan banyak kebaikan. Hal tersebut demi mengagungkan keesaan dan kebesaran Allah, sehingga dapat menjadi makhluk terbaik di bumi.

3. Perjalanan Pertama Luar Angkasa Dalam sejarah, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha adalah perjalanan pertama manusia di dunia menuju luar angkasa, dan kembali menuju bumi dengan selamat. Jika hal ini telah terjadi di zaman Nabi, 1400 tahun yang lalu, hal tersebut memberikan pelajaran bagi umat Islam agar mandiri, belajar, bangkit dan meningkatkan kemampuan, tidak hanya dalam masalah agama, sosial, politik, dan ekonomi, namun juga harus melek terhadap sains dan teknologi. Perjalanan menuju ke luar angkasa adalah sains dan teknologi tingkat tinggi yang menjadi salah satu tolak ukur kemajuan sebuah umat dan bangsa.

4. Membela Perjuangan Agama Pada Isra’ Mi’raj ada penyebutan dua masjid, yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Hal tersebut memberikan pelajaran bahwa Masjidil Aqsha adalah bagian dari tempat suci umat Islam. Membela masjid tersebut dan sekelilingnya sama saja dengan membela agama Islam. Wajib bagi tiap muslim sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk selalu berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan keselamatan Masjidil Aqhsa Palestina. Baik dengan diplomasi politik, bantuan sandang pangan, maupun dengan harta