Sekilas Sejarah “Shalawat Thariqiyyah” Menjadi Lagu Wajib Jam’iyyah Thariqah

Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) mempunyai bacaan shalawat yang khas. Mereka menyebutnya “Shalawat Thariqiyyah”. Dulu, dalam suatu acara thariqah yang dihadiri presiden, pihak protokoler presiden entah kenapa sempat melarang pembacaan shalawat ini, mungkin karena takut lantaran tidak paham arti bacaan shalawat itu. Namun karena pihak jam’iyyah thariqah mengatakan bahwa Shalawat Thariqiyyah itu adalah mars atau lagu wajib thariqah, maka protokoler pun tidak bisa melarang shalawat ini didendangkan di hadapan sang presiden.

Sebagai organisasi sosial keagamaan yang menjunjung semangat nasionalisme, Nahdlatul Ulama (NU) tak pernah luput menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam setiap acara formalnya. Namun ada 3 hal lagi yang selalu khas dan wajib mendapatkan porsi khusus dalam setiap acara NU, yakni pembacaan surat al-Fathihah untuk membuka acara, pembacaan ayat suci al-Quran dan pembacaan shalawat Nabi Muhamamad Saw.

Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah, salah satu badan otonom di bawah naungan NU mempunyai bacaan shalawat yang khusus, shalawat Thariqiyyah. “Allahummahdina thariqal mustaqim…” Shalawat ini juga dibaca dalam pembukaan Muktamar XI Jam’iyyah Thariqah di Pondok Pesantren Al-Munawwariyah, Bululawang, Malang, Rabu (11/1) yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Pembacaan shalawat dipimpin oleh qari’ internaional pemenang MTQ Turki, H. Saiful Munir.

Baca Juga: Biografi Singkat Mama Syaikhuna

Menurut Ketua Komisi Bahtsul Masail Thariqiyyah Muktamar XI, KH. M. Adib Zaen, shalawat ini ‘diijazahkan’ oleh KH. Idham Chalid, Ketua Umum PBNU sebelum Gus Dur. “Saya tidak tahu apakah beliau yang menciptakan atau bukan, namun beliau (KH. Idham Chalid) yang menyampaikan shalawat ini kepada jam’iyyah thariqah,” katanya.

Kepastian bahwa shalawat ini bersal dari KH. Idham Chalid, kata KH. M. Adib Zaen, disampaikan oleh KH. Mudhoffar Fathurrahman yang pernah menjabat sekjen Majelis Ifta’ Jam’iyyah Thariqah selama tiga periode. KH. Idham Chalid juga sekaligus memberikan nama shalawat itu dengan “Shalawat Thariqiyyah”.

Menurut KH. M. Adib Zaen, shalawat ini sejak lama menjadi ciri khas Jam’iyyah Thariqah, namun baru secara formal menjadi semacam lagu wajib thariqah sejak Munas Jam’iyyah Thariqah di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, pada 2008 lalu. Waktu itu ia sendiri yang memimpin pembacaan shalawat itu di hadapan presiden.

Arti dari Shalawat Thariqiyah:

 

Allahumma shalli wasallim ‘ala ۞ Muhammadin wa alin washahbin ajma’in.

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqan minallahi Rabbil ‘alamin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan dari Allah Tuhan semesta alam)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqan min ruhi Jibrilal matin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan dari Malaikat Jibril al-Matin)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal anbiya-i wal mursalin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para nabi dan rasul)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqassyuhada-i wal mujahidin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para pahlawan dan pejuang)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal khulafa-i warrasyidin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para Khulafaur Rasyidin)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal ‘ulama-i wal ‘amilin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para ulama dan pengamal)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal auliya-i wal mukhlishin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para wali dan orang-orang yang ikhlas)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqassu’ada-i wal fa-izin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang menang dan bahagia)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal atqiya-i wasshalihin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang bertaqwa dan shaleh)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal budala-i wal qanithin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para wali abdal dan ahli ibadah)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal ashfiya-i wadzdzakirin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para sufi dan  ahli dzikir)

 

 

Islam Di Nusantara

Islam (di) Nusantara

Tema Islam Nusantara yang diusung dalam muktamar NU ke-33, di Jombang, pada tanggal 1 agustus 2015, memicu maraknya perdebatan pro dan kontra. Hingga muncul asumsi dan tuduhan sebagai islam yang anti Arab, betentangan dengan syariat Islam, hanya milik satu golongan saja, identk dengan Islam Kejawen, dan bahkan ada yang menuduhnya sebagai kedok untuk merusak tatanan moral agama.

Maka Ketua PBNU K.H. Said Aqil Siradj membantahnya dengan tegas dan mengatakan bahwa Islam Nusantara bukanlah agama baru dan bukan pula aliran baru. Islam Nusantara adalah pemikiran yang berlandaskan pada sejarah Islam yang masuk ke Indonesia yang tidak melalui peperangan, tapi melalui kompromi terhadap budaya.

Demikian pula dengan Maulana Habib Luthfi bin Yahya yang menjabat sebagai ketua mustasyar PBNU, juga ikut angkat suara dan membantah fitnah dan tuduhan miring tersebut. Beliau mengatakan, Islam Nusantara adalah ajaran islam yang dibawa ke Nusantra oleh para ulama dari kalangan ahlulbait, keturuna Baginda Nabi SAW, yang berasal dari ajaran Imam Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa bin Muhammad bin ‘Ali Al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Sayyidina Husain r.a..

Imam Ahmad Al-Muhajir, semenjak abad ke tujuh hijriah di Hadramaut Yaman, menganut madzhab syafii. Dalam fiqih, Ahlussunah Waljamaah, dalam akidah mengikuti Imam Asy’ari dan Imam Maturidi, dan akhlak atau ihsan mengikuti ulama-ulama tasawuf mu’tabarah yang bermazhabkan Imam Mazhab yang empat.

Di Hadramaut, akidah dan mazhab Imam Al-Muhajir yang Sunni Syafii, terus berkembang sampai sekarang. Dan Hadramaut menjadi kiblat kaum sunni yang “ideal” karena ke-mutawatir-an sanad serta kemurnian agama dan akidahnya. Dari Hadramaut Yaman, anak cucu Imam Al-Muhajir menjadi pelopor dakwah Islam hingga sampai ke “Ufuk Timur”, seperti ke daratan India, kepulauan Melayu, dan termasuk juga Indonesia. Mereka berdakwah mengenalkan kalimat syahadah dengan pendeketan budaya, seperti pementesan wayang. Mereka berjuang dengan kelembutan tanpa mengangkat senjata, tanpa kekerasan, dan tanpa pasukan. Mereka datang dengan kedamaian dan kebaikan. Ada juga diantara mereka yang menuju daerah Afrika seperti Ethopia hingga kepulauan Madagaskar. Dalam berdakwah, mereka tidak pernah bergeser dari asas keyakinannya yang berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

Jadi Islam Nusantara tak lain adalah Ahlussunah Waljamaah yang disingkat dengan Aswaja, yakni ajaran Islam sebagaimana yang dianut oleh Imam ahmad Al-Muhajir yang bermazhab Syafii dan yang dibawa oleh para Walisanga ke Nusantara. Tahlilan, ratiban, mauludan, ziarah kubur, haul, peringatan nisyfu Sya’ban, peringatan nuzulul Qur’an adalah termasuk di antara amaliah Ahlussunah Waljamaah khas Indoseia atau khas Nusantara yang dibawa oleh para habib serta ulama-ulama terdahulu seperti para Walisanga.

Namun demikian, ada pula kelompok-kelompok yang tidak menyukai amalan-amalan tersebut dan bahkan mem-bid’ah-kannya dengan dalih pemurnian akidah Islam, seperti di antaranya kelompok Wahabi yang berkembang subur di Arab Saudi, saat dipegang oleh ulama-ulama dan para habib Aswaja, semua amaliahnya sama persis dengan amaliah yang ada di Indonesia, yakni ada ratiban, mauludan, tahlilan, ziarah kubur, dan haul. Dengan dihabisinya para habib dan ulama Aswaja serta dihancurkannya makam-makam para wali dan juga situs-situs peninggalan peradaban Islam di sana, akhirnya amalan-amalan tersebut lama kelamaan terkikis dan akhirnya menjadi asing.

Tak hanya sampai disitu, bahkan makam Nabi SAW pun juga sempat akan dibongkar oleh mereka. Tapi, Alhamdulillah waktu itu ulama-ulama Nusantara yang dimotori oleh K.H. Abdul Wahab  Chasbullah membentuk sebuah komite yang dinamai Komite Hijaz yang tugasnya antara lain adalah melakukan diplomasi dengan Raja Saud atas rencana pembongkaran tersebut. Dan berkat kegigihan dan usaha keras mereka diterima oleh Raja Saud dan makam Nabi pun tidak jadi dibongkar.

Islam Nusantara, sebagaimana spirit Komite Hijaz -yang menjadi cikal bakal terbentuknya organisasi NU-, selalu siap mengawal keberlangsungan tradisi-tradisi Aswaja termasuk diantaranya menjaga makam-makam para Wali Allah dan juga situs-situs peninggalan peradaban Islam yang ada di Nusantara ini supaya tetap terjaga. Oleh karena itu jangan berprasangka buruk bahkan sampai berani memvonis sesat, menyesatkan, murtad, atau kafir terhadap para pendukung Islam Nusantara.

Semoga kita semua dibersihkan hatinya oleh Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang serta tidak ikut-ikutan untuk mengkafir-kafirkan atau menyesat-nyesatkan. [Wallahu a’lam]

Asal Usul Sunan Giri

Tokoh Wali Songo yang bergelar Prabu Satmata ini makamnya terletak di sebuah bukit di Dusun Kendhaton, Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.

Sunan Giri adalah raja sekaligus guru suci (pandhita ratu) yang memiliki peran penting dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara. Sejarah dakwah Islam di Nusantara mencatat jejak-jejak dakwah Sunan Giri dan keturunannya tidak saja mencapai Banjar di Kalimantan Selatan, Kutai di Kalimantan Timur, dan Gowa di Sulawesi Selatan, tapi juga mencapai Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku.

Sumber Babad Tanah Jawi dan Walisana menunjuk bahwa usaha dakwah yang dilakukan Maulana Ishak (ayah Sunan Giri) yang dikirim Sunan Ampel ke Blambangan mengalami kegagalan. Sebab, Maulana Ishak alias Syaikh Wali Lanang diusir oleh mertuanya yang marah ketika diminta memeluk Islam dan meninggalkan agamanya yang lama. Maulana Ishak pergi meninggalkan istrinya yang hamil tua. Merana ditinggal suami, Retno Sabodi (ibu Sunan Giri) meninggal setelah melahirkan seorang anak laki-laki. Dikisahkan, saat itu terjadi wabah besar melanda Blambangan. Raja Blambangan menduga, wabah itu berhubungan dengan kelahiran bayi laki-laki putra Maulana Ishak. Akhirnya, bayi laki-laki itu diletakkan di dalam peti dan dihanyutkan ke tengah laut dan kemudian peti itu tersangkut di kapal milik Nyai Pinatih yang sedang berlayar ke Bali. Menurut Hoesein Djajadiningrat dalam Sadjarah Banten (1983), Nyai Pinatih adalah seorang janda kaya raya di Gresik, bersuami Koja Mahdum Syahbandar, seorang asing di Majapahit.

Bayi yang tersangkut di kapal itu diambil oleh awak kapal dan diserahkan kepada Nyai Pinatih yang kemudian memungutnya menjadi anak angkat. Karena ditemukan di laut, maka bayi itu dinamai Jaka Samudra. Setelah cukup umur, Jaka Samudra dikirim ke Ampeldenta untuk berguru kepada Sunan Ampel. Menurut Babad Tanah Jawi, sesuai pesan Maulana Ishak, oleh Sunan Ampel nama Jaka Samudra diganti menjadi Raden Paku.

Menurut Raffles dalam The History of Java (1965), Raden Paku sebagai penguasa Giri pertama, yang kisahnya penuh dengan mitos dan legenda itu menyimpan jejak sejarah bahwa tokoh yang masyhur dengan sebutan Sunan Giri (Raja Gunung) itu adalah keturunan orang asing dari Barat bernama Maulana Ishak dengan seorang putri Raja Blambangan. Dari garis ibu, Sunan Giri adalah keturunan Bhre Wirabhumi (putra Hayam Wuruk dari selir yang dirajakan di Blambangan).

 

Penulis; Rahmatussalamah

Sumber; Atlas Walisongo

Asal Usul Dan Kedatangan Sunan Ampel Ke Jawa

Raden Rahmat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel yang makamnya terletak di kampung Ampel, kota Surabaya adalah anggota dewan Wali Songo tertua yang memiliki peranan besar dalam pengembangan dakwah Islam di Jawa dan tempat lain di Nusantara. Dalam historiografi lokal dituturkan bahwa Raden Rahmat datang ke Jawa bersama saudara tuannya yang bernama Ali Musada (Ali Murtadho) da saudara sepupunya yang bernama Raden Burereh (Abu Hurairah). Menurut Lembaga Riset Islam Pesantren Sunan Giri Malang dalam Sejarah Dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri (1975), imam Rahmatullah bersama ayahnya datang ke Jawa dengan tujuan dakwah Islamiyah disertai saudaranya yang bernama Ali Murtadho dan kawannya bernama Abu Hurairah putra Raja Champa. Mereka mendarat di Tuban.

Setelah tinggal di Tuban beberapa lama sampai ayahandanya wafat, imam Rahmatullah berangkat ke Majapahit menemui bibinya yang dikawin Raja Majapahit yang beragama Buddha. Sementara itu, menurut Djajadiningrat dalam Sejarah Banten (1983) dikisahkan bahwa Raden Rahmat ketika dewasa mendengar tentang peperangan di Jawa. Dengan tiga orang pandhita muda (ulama muda) lainnya, Burereh, Seh Salim, dan saudaranya yang tidak disebut namanya, Raden Rahmat berangkat ke Jawa. Setelah keempat orang tadi berangkat ke Jawa, Champa diruntuhkan oleh seorang kafir dari Sanggora.

Kedatangan Sunan Ampel ke Majapahit diperkirakan terjadi awal dasawarsa keempat abad ke-15, yakni saat Arya Damar sudah menjadi Adipati Palembang sebagaimana riwayat yang mengatakan bahwa sebelum ke Jawa, Raden Rahmat telah singgah ke Palembang. Menurut Thomas W. Arnold dalam The Preaching of Islam (1977), Raden Rahmat sewaktu di Palembang menjadi tamu Arya Damar selama dua bulan, dan dia berusaha memperkenalkan Islam kepada raja muda Palembang itu. Arya Damar yang sudah tertarik kepada Islam itu hampir saja diikrarkan menjadi Islam. Namun, karena tidak berani menanggung risiko menghadapi tindakan rakyatnya yang masih terikat pada kepercayaan lama, ia tidak menyatakan keislamannya di hadapan umum. Menurut cerita setempat, setelah memeluk Islam, Arya Damar memakai nama Ario Abdillah.

Keterangan dari Hikayat Hasanuddin yang dikupas oleh J.Edel (1938) menjelaskan bahwa pada waktu Kerajaan Champa ditaklukkan oleh Raja Koci, Raden Rahmat sudah bermukin di Jawa. Itu berarti Raden Rahmat ketika datang ke Jawa sebelum tahun 1446 Masehi, yakni pada tahun jatuhnya Champa akibat serbuan Vietnam. Hal itu sejalan dengan sumber dari Serat Walisana yang menyatakan bahwa Prabu Brawijaya, Raja Majapahit mencegah Raden Rahmat kembali ke Champa karena Champa sudah rusak akibat kalah perang dengan Kerajaan Koci. Penempatan Raden Rahmat di Surabaya dan saudaranya di Gresik, tampaknya memiliki kaitan erat dengan suasana politik di Champa, sehingga dua saudara tersebut ditempatkan di Surabaya dan Gresik dan dinikahkan dengan perempuan setempat.

Babad Ngampeldenta menuturkan bahwa pengangkatan resmi Raden Rahmat sebagai imam di Surabaya dengan gelar sunan dan kedudukan wali di Ngampeldenta dilakukan oleh Raja Majapahit. Dengan demikian, Raden Rahmat lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ngampel. Menurut sumber legenda Islam Raden Rahmat diangkat menjadi imam Masjid Surabaya oleh pejabat Pecat Tandha di Terung yang bernama Arya Sena. Pemempatan Sunan Ampel di Surabaya, selain dilakukan secara resmi oleh Pecat Tandha di Terung juga disertai oleh keluarga-keluarga yang dipercayakan Kerajaan Majapahit untuk dipimpinnya. Menurut Lembaga Riset Islam Pesantren Luhur Sunan Giri Malang (1975), karena hubungan baik dengan Raja Majapahit, Raden Rahmat diberi izin tinggal di Ampel disertai keluarga-keluarga yang diserahkan oleh Raja Majapahit.

Dalam perjalanan menuju Ampel, dikisahkan Raden Rahmat melewati daerah Pari, Kriyan, Wonokromo, dan Kembang Kuning yang berupa hutan. Di tempat itu, Raden Rahmat bertemu dengan Ki Wiryo Saroyo yang dikenal sebagai Ki Bang Kuning yang kemudian menjadi pengikut Raden Rahmat. Sementara menurut Babad Tanah Jawi, sewaktu tinggal di kediaman Ki Bang Kuning, Raden Rahmat menikah dengan putri Ki Bang Kuning yang bernama Mas Karimah. Dari pernikahan itu lahir dua orang putri: Mas Murtosiyah dan Mas Murtosimah. Selama tinggal di kediaman Ki Bang Kuning, Raden Rahmat dikisahkan membangun masjid dan menyebarkan dakwah Islam kepada masyarakat sekitar.

Menurut Serat Walisana, Raja Majapahit tidak langsung mengangkat Raden Rahmat di Ampeldenta, melainkan menyerahkannya kepada Adipati Surabaya bawahan Majapahit bernama Arya Lembusura, yang beragama Islam. Arya Lembusura menempatkan Raden Santri Ali menjadi imam di Gresik dengan gelar Raja Pendhita Agung dengan nama Ali Murtala (Ali Murtadho). Setelah itu, Arya Lembusura menempatkan Raden Rahmat sebagai imam di Surabaya, berkediaman di Ampeldenta dengan gelar Sunan Ampeldenta. Dengan nama Pangeran Katib.

 

Penuslis: Rahmatussalamah

Sumber: Atlas Walisongo

Pembentukan Masyarakat Muslim NUsantara

M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2009) memastikan bahwa Islam sudah ada di negara bahari Asia Tenggara sejak awal zaman Islam. Semenjak masa khalifah ketiga, Utsman bin Affan (644-656 M), utusan-utusan muslim dari tanah Arab mulai tiba di istana Cina. Setidaknya, pada abad ke-9 sudah ada ribuan pedagang muslim di Canton. Kontak-kontak antara Cina dan dunia Islam itu terpelihara terutama lewat jalur laut melalui perairan Indonesia. Antara tahun 904 M dan pertengahan abad ke-12, utusan-utusan dari Sriwijaya ke istana Cina memiliki nama Arab.

Pada tahun 1282, Raja Samudera di Sumatera bagian utara mengirim dua utusan bernama Arab ke Cina. Namun, berita-berita itu tidak langsung menunjukkan bukti bahwa kerajaan-kerajaan Islam lokal telah berdiri dan tidak juga menunjukkan bahwa telah terjadi perpindahan agama dari penduduk lokal dalam tingkat yang cukup besar. Yang pasti, menurut catatan Ma Huan yang ikut dalam muhibah ketujuh Cheng Ho ke Jawa yang berlangsung antara tahun 1431-1433 Masehi, diketahui bahwa penduduk pribumi masih belum memeluk Islam.

Historiografi lokal memang mencatat keberadaan tokoh-tokoh beragama Islam pra-Wali Songo secara sepintas dalam kisah-kisah bersifat legenda. Namun, belum terdapat sumber-sumber yang menjelaskan adanya sebuah gerakan dakwah Islam yang bersifat masif dan tersistematisasi. Baru, setelah kisah tokoh Sunan Ampel dan Raja Pandhita dituturkan datang ke Majapahit, jaringan kekerabatan tokoh penyebar dakwah Islam di Surabaya dan Gresik itu dapat diketahui sebagai jaringan pusat-pusat kekuatan (centre power) dari dakwah Islam di suatu tempat tertentu. Bahkan, melalui jaringan gerakan dakwah Islam yang kemudian muncul sebagai suatu lembaga yang disebut Wali Songo, muncul kekuatan politik kekuasaan dalam bentuk Kerajaan Demak, Cirebon, Banten, disusul Banjarmasin, Pontianak, Gowa, Tallo, Ternate, Tidore, Tual, Sumbawa, yang mendorong tumbuhnya kota-kota bercorak Islam di pesisir.

Menurut Marwati Djoned Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia III (1990), pertumbuhan kota-kota bercorak Islam di pesisir utara dan timur Sumatera di Selat Malaka sampai ke Ternate melalui pesisir utara Jawa, ada hubungannya dengan faktor ekonomi di bidang pelayaran dan perdagangan. Selain itu, tumbuhnya pusat-pusat kota kerajaan di Jawa Barat membentuk pula jalinan perhubungan pelayaran, perekonomian, dan politik dengan Demak, sebagai pusat kerajaan Islam yang besar pada abad ke-16. Dan menurut historiografi lokal, keberadaan kerajaan Demak digambarkan sebagai kekuatan politik Islam pertama di Jawa yang kelahirannya dibidani oleh Wali Songo. Bahkan, menurut Babad Tanah Jawi, tumbuhnya kota Demak adalah atas petunjuk Sunan Ampel, tokoh sesepuh Wali Songo.

Secara sosiologis, keberadaan Wali Songo hampir selalu dihubungkan dengan pusat-pusat kekuatan masyarakat yang dicirikan oleh dakwah Islam. Dan ditinjau dari aspek kronologi kesejarahan, keberadaan Wali Songo dikaitkan dengan tumbuhnya masyarakat muslim yang memiliki ciri-ciri tidak sama dengan masyarakat yang hidup di era Majapahit. Menurut Nor Huda dalam Islam Nusantara : Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia (2007), proses Islamisasi di Indonesia terjadi dengan proses yang sangat pelik dan panjang. Diterimanya Islam oleh penduduk pribumi yang secara bertahap membuat Islam terintegrasi dengan tradisi, norma, dan cara hidup keseharian penduduk lokal.

Menurut H.J. De Graaf (1998), pada abad ke-15 dan ke-16, para pedagang dari wilayah Cina selatan dan pesisir Vietnam, sekarang Champa semakin aktif di Jawa dan tempat-tempat lain di Nusantara. Itu berarti, para penyebar Islam asal Champa di Jawa pada abad ke-15 dan ke-16 Masehi tersebut membawa pengaruh adat kebiasaan dan tradisi keagamaan kepada masyarakat di Jawa dan tempat-tempat lain di Nusantara. Wallahu A’lam Bishawab