Rajab: Ketika Waktu Meminta Dihormati
Antara Kesucian Bulan Haram dan Realitas Sejarah Perang Tabuk
Rajab bukan sekadar nama dalam kalender Hijriyah. Ia adalah waktu yang sejak awal meminta penghormatan. Dalam bahasa Arab, Rajab bermakna pengagungan dan penjagaan—sebuah isyarat bahwa bulan ini tidak boleh diperlakukan seperti waktu biasa. Bahkan bangsa Arab pra-Islam pun mengenal Rajab sebagai bulan yang dijaga: pedang disarungkan, peperangan ditunda, dan darah tidak ditumpahkan.
Namun sebuah pertanyaan kritis kemudian muncul:
jika Rajab adalah bulan yang dimuliakan, mengapa Rasulullah ﷺ memimpin ekspedisi Perang Tabuk pada bulan Rajab, bahkan dampaknya terasa hingga bulan Ramadhan?
Apakah ini kontradiksi? Ataukah pemahaman kita tentang Rajab yang terlalu dangkal?
Rajab dan Tradisi Penghormatan Waktu
Bangsa Arab pra-Islam menghormati Rajab sebagai bulan haram berdasarkan kesepakatan sosial. Namun penghormatan ini kerap bersifat selektif. Ketika kepentingan politik dan kekuasaan terancam, mereka melakukan praktik an-nasī’—menggeser kesucian bulan demi melegitimasi peperangan.
Islam datang bukan untuk menghapus kehormatan Rajab, melainkan untuk membersihkannya dari manipulasi. Kesucian waktu tidak lagi tunduk pada kepentingan manusia, tetapi berada di bawah prinsip keadilan ilahi.
Kesucian Rajab dalam Perspektif Al-Qur’an
Al-Qur’an secara eksplisit menyinggung persoalan berperang di bulan haram, bukan untuk menyederhanakannya, tetapi untuk meletakkannya dalam kerangka moral yang lebih luas. Allah SWT berfirman:
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِۗ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌۗ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَكُفْرٌۢ بِهٖ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاِخْرَاجُ اَهْلِهٖ مِنْهُ اَكْبَرُ عِنْدَ اللّٰهِۚ وَالْفِتْنَةُ اَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِۗ وَلَا يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتّٰى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ اِنِ اسْتَطَاعُوْاۗ وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَاُولٰۤىِٕكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ٢١٧
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: berperang pada bulan itu adalah dosa besar. Tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kufur kepada-Nya, (menghalangi) Masjidil Haram, dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan.”
(QS. Al-Baqarah: 217)
Ayat ini menjadi kunci pemahaman Rajab:
perang di bulan haram memang tercela, tetapi membiarkan kezaliman besar terjadi jauh lebih tercela. Kesucian waktu tidak boleh dijadikan dalih untuk membiarkan kehancuran agama dan keselamatan manusia.
Perang Tabuk: Ujian Makna Rajab
Perang Tabuk terjadi dalam konteks ancaman nyata dari Romawi Timur. Nabi ﷺ tidak bergerak karena ambisi ekspansi, melainkan demi menjaga keamanan umat Islam dan menutup pintu agresi yang lebih besar.
Menunda langkah hanya demi simbol penghormatan waktu, dalam kondisi ini, justru akan menjerumuskan umat pada bahaya yang lebih besar—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an sendiri.
Menariknya, Perang Tabuk justru memperlihatkan penghormatan terdalam terhadap Rajab. Tidak terjadi pertempuran besar, tidak ada pembantaian, dan tidak ada agresi membabi buta. Yang terjadi adalah demonstrasi kekuatan yang berlandaskan etika dan tanggung jawab.
Rajab: Mengajarkan Etika Kekuatan
Rajab mengajarkan bahwa kekuatan tidak identik dengan kekerasan. Islam tidak menolak kekuatan, tetapi menundukkannya pada nilai. Inilah esensi penghormatan waktu: bertindak ketika harus, dan menahan diri ketika mampu.
Rajab menolak dua ekstrem: spiritualitas kosong yang membiarkan kezaliman, dan kekerasan tanpa kendali yang mengabaikan kesucian.
Ketika Waktu Benar-Benar Dihormati
Menghormati Rajab bukan hanya soal menunda perang, tetapi tentang menjaga keadilan. Nabi ﷺ tidak menodai Rajab dengan darah, justru memuliakannya dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab moral.
Dalam konteks ini, Rajab bukan dilanggar, tetapi ditafsirkan dengan kedewasaan iman.
Rajab sebagai Ujian Kesadaran
Rajab adalah waktu yang meminta dihormati, bukan dipuja secara simbolik. Ia menguji apakah manusia memahami kesucian sebagai nilai hidup, atau sekadar slogan spiritual.
Perang Tabuk tidak membatalkan makna Rajab, tetapi justru menegaskannya:
bahwa waktu yang suci harus melahirkan keadilan,
bukan ketakutan untuk menegakkan kebenaran.
Rajab mengajarkan bahwa menghormati waktu berarti menjaga nilai bahkan ketika keputusan itu berat.
pewarta: Al-Musri’ Media
