Cara mengurusi jenazah kembar siam yang meninggal salah satunya

 Pertanyaan : Bagaimana cara mengatasi jenazah kembar siam yang meninggal salah satunya? 

Jawab : Tatkala dilahirkan dua orang kembar siam kemudian meninggal salah satunya, jika memungkinkan untuk dipisahkan dengan tidak ada madharat maka wajib untuk dimandikan, disolatkan dan dikuburkan. Dan apabila tidak memungkinkan untuk dipisahkan, maka wajib mengerjakan hal yang memungkinkannya saja, yaitu memandikan, mengkafani, dan menyolatkannya, Tidak wajib untuk menguburkannya sampai terpisah dengan sendirinya,  karena tidak ada kemungkinan untuk dikuburkan. Dan apabila keduanya meninggal, yang mana salah satunya adalah laki laki dan yang satunya lagi perempuan,  jika memungkinkan untuk dipisahkan maka wajib memisahkannya. Akan tetapi jika tidak memungkinkan maka tidak apa-apa dan mengerjakan hal yang memungkinkan saja, lalu diusahakan pasca penguburannya, yang dihadapkan ke arah kiblat adalah laki-laki.

Dikutip dari buku IZ AT yang disusun oleh santri kelas 2 aliyah (Izzatul Adzkiya). jika para pembaca yang budiman ingin melihat dari referensi aslinya maka lihat kitab Hasiyah al-bujairomi ala syarhi manhajitthulab juz 1 halaman 586.

Jika para pembaca mempunyai pertanyaan seputar fikih maka silahkan cantumkan di kolom komentar. Terima kasih.

Syahriahan Alumni, Muqimin dan Muqimat Korda Cianjur Kulon

Pengajian syahriahan merupakan kegiatan program pengajian bulanan yang di terapkan di pondok pesantren Miftahulhuda Al-Musri’.

Tidak hanya di Al-Musri Pusat saja namun di setiap pesantren cabang al-Musri termasuk juga Korda (koordinator Daerah) disetiap wilayah yang sudah terbentuk. Contohnya di Korda Cianjur Kulon yang diadakan setiap hari Minggu di akhir bulan Hijriah. 

Kitab yang digunakan yaitu kitab Al-Hikam karya Syaikh Ibnu ‘Athoillah Assakandari dan kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Al-Ghazali. Kegiatan syahriahan di setiap Korda ini dihadiri oleh Alumni, Muqimin dan Muqimat Pondok Pesantren Al-Musri Pusat atau Cabang  yang ada di daerah cangkupan Cianjur Kulon yaitu Kecamatan Cipanas, Kecamatan Pacet, Kecamatan Sukaresmi, dan Kecamatan Cugenang. Juga dihadiri oleh AMPUH (Amanat Sepuh) dari Al-Musri Pusat.

Pengajian Syahriahan yang saat ini diadakan bertepatan Hari/Tanggal Minggu, 5 September 2021 yang bertempat di kediaman salah satu Muqimin Al-Musri Pusat yaitu KH. Deden pimpinan Pondok Pesantren Al-Muthma’innah Beralamat di Kp. Sarampat Cugenang.

Kitab Al-Hikam yang dibawakan oleh Aang Ijang Kamaludin Misbah dan Kitab Minhajul ‘Abidin yang dibawakan oleh Ustad. Kakah Angkrong membuat daya tarik tertentu khususnya untuk Jema’ah Korda Cianjur Kulon yang hadir dengan gaya pengajian yang Interaktif antara Jema’ah dengan pembawa materi kitab.

Pengajian syahriahan yang merupakan Amanat dari Pangersa Alm. Mama KH. Ahmad Faqih (Pendiri Pontren Al-Musri Pusat) harus diadakan oleh setiap Alumni, Muqimin dan Muqimat dengan rasa Khidmah, seperti yang disebutkan oleh Aang Ijang “Walaupun peserta pengajian yang hadir belum maksimal pengajian ini harus tetap berjalan dengan dibarengi rasa khidmah”.

Pondok pesantren AL-Musri Pusat sendiri menghimbau bagi Alumni, Muqimin dan Muqimat yang belum merapat dikegiatan Kordanya masing-masing diharapkan segera merapat di kordanya masing-masing yang mana tujuannya hanya untuk Shilaturrahmi, karena dengan shilaturrahmi akan ada banyak keutamaan atau faidah yang akan didapatkan.

Penulis : Abdul Rohman Alfaqih (Almusri Media)

Alumni Al-Musri diharuskan bela NU dan NKRI

Yayasan Pendidikan Islam Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Musri, Ciranjang Kabupaten Cianjur menginstruksikan kepada seluruh alumninya untuk menjaga NKRI.

Hal itu tertuang dalam surat bernomor 092/YP-MHA/IV/2017 perihal Instruksi kepada alumni yang ditandatangani langsung oleh Ketua Yayasan, KH. Saeful Uyun, Lc dan Kabid Administrasi dan Organisasi, Hamzah Singana Gusti tertanggal 24 April 2017.

“Berhubung saat ini keutuhan organisasi NU dan NKRI sedang digoncang oleh berbagai pihak, maka kita selaku warga NU wajib membela dan mempertahankannya,” demikian isi pembuka surat tersebut.

 Dalam surat tersebut juga ditegaskan untuk menyikapi berbagai persoalan itu, keluarga besar Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Musri menginstruksikan kepada seluruh alumni untuk mengikuti dan aktif dalam segala kegiatan NU dan Badan Otonomnya.

“Diantara Banom tersebut yakni Muslimat, GP Ansor, Fatayat, IPNU-IPPNU, PMII dan lainnya agar pengetahuan kita tentang ke-NU-an semakin bertambah dan semakin mantap dalam membela keutuhan NU dan NKRI,” tegasnya dalam surat tersebut.

 

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2017/04/ponpes-miftahul-huda-al-musri-cianjur-wajibkan-alumninya-bela-nu-dan-nkri.html