Tabligh Akbar Khusus Akhwat Menjadi Bagian dari Rundown Haul Al-Musri’ Ke-25


Salah satu acara khusus dalam haul Mama Syaikhuna yang ke 25 adalah di adakan nya tabligh akbar khusus akhwat yang di hadiri oleh kebanyakan para penziarah , muqimat atau alumni prempuan dan penduduk sekitar, acara ini di laksananakan pada hari jumat tanggal 7 Februari 2025 bertepatan di lapang Agri bisnis, acara di laksanakan dengan khidmat, dan Acara Tabligh ini, di hadiri oleh Qori Internasional dan Hafidzoh Internasional mereka adalah para santri yang berprestasi di pondok Miftahulhuda Al-musri’ ini, semoga kita dapat termotivasi oleh prestasi prestasi mereka yang membanggakan.

Berikut adalah susunan acara tabligh akbar khusus akhwat:

Pembukaan; di meriahkan oleh hadroh santri putri YPP. Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat yaitu Ashabul Hub
Pembacaan ayat suci al quran; Nadia fatimatuzzahra (Qori internasional)
Sambutan dari dewan nyai; P. HJ Laila Nuroniyyah Za S.pdi
Pembacaan khatam Al quran bersama; P. HJ Cucu Nurjanah dan Salwa salsabila (Hafidzoh internasional)
Acara inti tabligh Akbar meliputi:
Pembacaan sejarah Mama syaikhuna; Pangersa Ibu Imas Nurjannah S. Ag
Mubaligh; P. HJ Umi Siti Maryam

Di dalam susunan acara ada salah satu acara tentang pembacaan Riwayat Mama syaikhuna, tujuan nya adalah supaya para penziarah tau siapa itu Mama syaikhuna dan kita sebagai santri nya mengigat kembali bagaimana perjuangan Mama syaikuna membangun pesantren ini.

Haul Akbar YPP. Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat ke-25

Yayasan Miftahulhuda Al-Musri’ mengadakan agenda acara tahunan yaitu Haul pendiri Yayasan Miftahulhuda Al-Musri’ beserta istri dan putra-putra nya,pada tanggal 2-7 Februari 2025 yang ke 25. adapun yang di haulkan antara lain; Mama K.H Ahmad faqih yang ke 25 Umi H.J Juhaenah yang ke 73, Umi H.J Siti Qoniah yang ke 35, Umi H.J Siti Maryam yang ke 3, Aa K.H Zaenal Mustofa yang ke 21, Apa K.H Hilman abdurrohman yang ke 4, Akang K.H Ade mansur somad yang ke 12, Ang Habibul manan yang Ke 30

Haul kali ini bertemakan Menjaga sanad ilmu – meraih amanah guru – menyambung perjuangan – membangun peradaban.
Dengan di laksanakannya haul para Masyaikh ini kita bisa banyak mengambil hikmah, dan di antara hikmah – Hikmah nya adalah :

Pertama adalah lil istighfar yang artinya memohon ampunan kepada Allah swt dengan membacakan doa serta meminta rahmat untuk diri kita dan para guru, khususnya guru yang sedang diperingati haulnya.

“Tujuannya lil istighfar meminta ampunan kepada Allah swt, meminta curahan rahmat , khususnya kepada para almarhum Masyaikh Pondok Pesantren Miftahulhuda al musri’, juga kepada guru-guru kita dan kiyai-kiyai kita,”

Hikmah kedua yaitu lil istidzkar, artinya melalui forum haul, kita yang masih hidup bisa meneladani dengan mengenang perjanan hidup dan mengingat kembali kebaikan-kebaikan yang dilakukan almarhum.

Ketiga adalah lil istijma’, yakni agar dikumpulkan bersama para guru dan ulama, yang sedang diperingati haulnya. “Semoga kita dipertemukan dan dikumpulkan dengan para kekasih dan guru, khususnya bersama para Masyaikh pondok pesantren Miftahulhuda al musri’. Sebuah kebanggan bagi kaum muslimin apabila dapat dipertemukan kembali dengan orang yang diidolakan, terlebih bisa bertemu dengan Nabi Muhammad saw, untuk ikut dibarisanya dan mendapatkan syafaatnya,”

Tujuan diadakannya Acara Haul Al Musri’ ke-25 ini, bertujuan untuk memperkuat tali Silaturahmi antar Alumni atau Muqimin, yang sudah lama tidak bertemu, terutama kepada Guru-guru Pondok Pesantren Al-Musri’. Acara yang diadakannya satu tahun sekali ini sangatlah penting, khususnya bagi para Alumni dan Muqimin.

Dalam suatu acara, apalagi acara besar seperti ini yang pasti di kunjungi banyak orang bahkan ribuan orang pasti harus ada persiapan yang matang , para santri dan para guru pondok pesantren Miftahulhuda al musri’ sebelum di laksanakan acara haul ini membentuk sebuah panitia untuk keberhasilan terselenggaranya acara, adapun persiapan para panitia di antaranya:

Ketua panitia : mengurus dan memastikan seluruh persiapan lancar sampai tiba waktunya.
Dana usaha : mengurus dan melakukan pengajuan dana Haul kepada orang tua santri, muqimin, beberapa Majlis Ta’lim, dan donatur lainnya.
Bendahara : mengurus keuangan acara Haul secara keseluruhan.
Penerima tamu : mempersiapkan berbagai tempat serta perlengkapan yang akan dibutuhkan oleh para tamu nanti.
Sekretaris : membuat ID card panitia dan name tag.
Dokumentasi : menyiapkan live stream, membuat banner, spanduk, juga informasi seputar Haul.
Al-Qur’an : mengurus air barokah serta kegiatan baca Al-Qur’an yang sudah dimulai sejak hari kemarin oleh para santri di masjid dan maqbaroh.
Kebersihan : melakukan pembersihan di seluruh lingkungan pesantren.
Keamanan : membuat cadar dan ID card khusus untuk santri putri jika kelak saat acara keluar dari batas komplek yang ditentukan, membuat stand berdagang, stand penerima tamu, stand kesehatan, stand keamanan, juga mengatur jalur keluar-masuk.
Publikasi
Kesehatan : menyiapkan berbagai alat kesehatan dan obat-obatan.
Peralatan : menyiapkan dan membersihkan barang-barang yang akan digunakan, memasang auning, panggung, dan mengatur kabel listrik.
Konsumsi : menyiapkan tempat, berbagai perabot, dan kebutuhan konsumsi lainnya
Srikandi : menjaga keamanan para tamu .
dan kelas 2 tsanawiyah yang di namai Albahjatul Wasail ikut berpartisifasi dalam berdagang milik para Dewan kiyai dan Ampuh, mereka sangat antusias dalam berpartisipasi di acara haul ini.

Pelantikan Panitia Mudasmat dan Ulangan Periode R. Tsani-Ramadhan 1446 H

Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat pada Sabtu Malam, 15 Februari 2025 menggelar acara pelantikan panitia mudasmat dan ulangan yang bertempat di gedung aula al-faqih dengan tujuan untuk menjalankan serta mengawasi selama keberlangsungannya kegiatan yang dimulai dengan musabaqoh, cerdas cermat, sampai ulangan. Acara yang berlangsung dengan penuh khidmat ini menjadi momentum penting dalam kegiatan akhir semester di pondok pesantren, di mana para pengurus baru dilantik untuk mengemban tanggung jawab dalam berbagai sektor strategis dalam kepanitiaan ulangan. Adapun kepengurusan kali ini diketuai oleh Ust. Jibril Firdaus dan Ust. Silky Nur Falah sebagai wakilnya, lalu penasihat oleh Rois ’Am yaitu Ust. Kamal Ahmad Satria. Acara ini dihadiri oleh segenap Dewan Kyai dan para generasi Ampuh Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat. Hal ini dilakukan agar kinerja pekerjaan dan stuktur kepanitiaan lebih terarah dan bisa membawa perubahan yang lebih baik terhadap pesantren Al-Musri’ Pusat ini.

Acara dimulai pukul 20.10 WIB oleh pembawa acara yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an oleh Hilmi Ashidqi, santri kelas 1 Ibtidaiyah.

Lalu disambung oleh Ang Fachruroji sebagai perwakilan sambutan dewan ampuh YPP. Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat bagian Pendidikan dalam sambutannya menyampaikan harapan-harapan dan motivasi kepada seluruh hadirin, terutama yang akan dilantik.

Kemudian dilanjut dengan Sambutan oleh bagian Kaur Pendidikan Pondok Pesantren Al-Musri’ Pusat, pangersa Akang K. Acep Sanusi.

Usai sambutan yang dibawakan oleh Pangersa Akang K. Acep Sanusi dan Ang Fachruroji, acara dilanjut dengan pelantikan pimpinan dan struktur lembaga oleh Pangersa Abah KH. Mahmud Munawar, ada sekitar kurang lebih 200 pengurus santri putra dan santri putri yang dilantik. Berikut ikrar yang disampaikan oleh Pangersa Abah KH. Mahmud Munawar dan diucap ulang oleh para panitia yang dilantik.

“Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah, Rodhitu billahi robba, wabil islami dina, wabimuhammadin nabiyya warasula wabilqur’an hukman wa imaaman. Kami segenap panitia ulangan , periode R. Tsani – Romadlon 1446 H, berjanji: Siap melaksanakan tugas dari seluruh dewan kyai & ampuh. Siap menta’ati peraturan tata tertib Panitia Ulangan. Menjadikan fatwa dewan kyai sebagai landasan berpikir, berjuang dalam melaksanakan tugas menjadi Panitia Ulangan. Siap mengawasi keberjalanan kegiatan Musabaqoh, Cerdas Cermat dan Ulangan. Siap mendapatkan sanksi, jika kami melanggar tata tertib dan aturan Panitia Ulangan YPP. Miftahulhuda Al-Musri’.

Demikian ikrar ini kami ucapkan, dengan penuh rasa keikhlasan dan tanggung jawab, disertai rasa khidmah. Semoga alloh memberikan kekuatan serta taufik dan hidayahnya kepada kami. Amin. La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil adzim.”

Di pengujung sambutan juga, pangersa Akang K. Acep Sanusi berharap seluruh tenaga pendidik dan para pengurus di Pesantren Al-Musri’ Pusat saling bekerja sama dan ikhlas dalam memajukan pesantren ini.

Lalu acara dilanjutkan dengan beberapa laporan dari Ketua Panitia, Ketua Koordinator Soal, dan Ketua Ketertiban. Juga disambung dengan penyerahan simbolis juara lomba Gebyar Musabaqoh dalam rangka Haul Akbar Harlah PP. Fauzan ke-175 dan Harlah NU ke-102 di Kota Garut pada awal bulan Februari lalu, yang Alhamdulillah perwakilan dari Al-Musri’ Pusat menjuarai dalam kategori MHN kitab Alfiyyah Ibn Malik oleh M. Zaky Mufassir, juara II. Dan Kulsum Wildatul juara harapan II dalam kategori MQK kitab Safinatunnaja.

Pelantikan ini disambut antusias oleh seluruh santri. Banyak harapan yang disematkan kepada para pengurus, terutama dalam hal meningkatkan kualitas kegiatan pendidikan dan menciptakan lingkungan organisasi yang inklusif dan produktif. Namun, tantangan juga tidak bisa diabaikan. Pengurus diharapkan mampu mengelola waktu dengan baik, mengatasi dinamika internal organisasi, dan tetap konsisten dalam menjalankan program kerja.

Dengan semangat baru, pengurus baru siap memikul tanggung jawab dan membawa organisasi santri ke level yang lebih tinggi. Pelantikan ini bukan sekadar seremonial, tetapi sebuah komitmen untuk terus berkontribusi dan mengabdi. Semoga langkah ini menjadi awal dari kemajuan dan keberkahan bagi seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat.

Acara yang selesai pukul 23.00 WIB ini ditutup oleh beberapa peserta mudasmat yang sisanya akan dilanjutkan diesok hari.

Hikmah di Balik Keputusan Rasulullah Memilih Hidup Sederhana

Rasulullah saw adalah makhluk terbaik sepanjang masa yang diciptakan dan diutus oleh Allah ke muka bumi. Perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan selalu menyisakan hikmah yang berharga untuk umatnya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa Rasulullah adalah suri teladan yang baik. Allah berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 21:

  لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ  

Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” Salah satu keteladanan Rasulullah yang dapat diikuti ialah beliau memilih hidup dalam kesederhanaan. Dalam sejarahnya, Rasulullah bukan terpaksa hidup sederhana, keputusan itu semata-mata karena pilihan hati dan supaya menjadi teladan bagi umatnya.   Disebutkan dalam sebuah riwayat, Allah swt pernah menawarkan kepada Rasulullah, padang pasir Makkah yang tandus akan diubah menjadi hamparan surga yang berisi emas gemerlapan dan diberikan kepada Rasulullah saw. Tetapi, Rasulullah memutuskan untuk menolak dan memohon agar diberi kecukupan dan hidup sederhana.   Hal ini disampaikan langsung oleh Rasulullah saw dalam hadistnya, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi,   عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” ‌عَرَضَ ‌عَلَيَّ ‌رَبِّي ‌لِيَجْعَلَ ‌لِي ‌بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا. فَقُلْتُ: لَا. يَا رَبِّ وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ حَمِدْتُكَ وَشَكَرْتُكَ

  Artinya: “Dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda: ‘Tuhanku (Allah) telah menawarkan kepada diriku, bahwa Dia ingin menjadikan padang pasir Makkah sebagai emas. Kemudian aku menjawab: Jangan, wahai Tuhanku. Tetapi, aku hanya ingin kenyang untuk sehari dan lapar sehari di hari yang lain atau semacam keduanya. Apabila aku lapar, aku akan memohon kepadamu dan mengingatmu. Begitu pun ketika aku kenyang, aku akan memujimu dan lalu bersyukur.” (HR. Tirmidzi)

  Syekh Ali bin Sulthon Muhammad dalam kitab Mirqotul Mafatih menjelaskan hadits tersebut, bahwasanya Allah swt mengajak Rasulullah bermusyawarah sekaligus menawarkan pilihan kepadanya untuk memperoleh kemegahan hidup atau menjalani kehidupan yang sederhana dan serba cukup di dunia.   Allah hendak menjadikan padang pasir yang ada di Makkah untuk Rasulullah atau terkhusus bagi umatnya, yakni dengan mengubah batu dan pasirnya menjadi emas. Namun, tawaran tersebut ditolak langsung oleh Rasulullah karena ia memillih untuk kenyang dalam satu waktu, lalu dengan kenyang tersebut ia bisa bersyukur. Kemudian lapar di waktu yang lain, lalu dengan lapar ini ia bisa bersabar.   Selanjutnya, Syekh Ali menjelaskan dan menafsirkan alasan Nabi Muhammad saw memilih hidup cukup dan sederhana dalam haditsnya tersebut, ia mengungkapkan:  

فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ) أَيْ: بِعَرْضِ الِافْتِقَارِ عَلَيْكَ (وَذَكَرْتُكَ) أَيْ: بِسَبَبِهِ فَإِنَّ الْفَقْرَ يُورِثُ الذِّكْرَ، كَمَا فِي الْغِنَى يُوجِبُ الْكُفْرَ  وَإِذَا شَبِعْتُ حَمِدْتُكَ) أَيْ: بِمَا أَلْهَمَتْنِي مِنْ ثَنَائِكَ (وَشَكَرْتُكَ) : عَلَى إِشْبَاعِكَ وَسَائِرِ نَعْمَائِكَ  

Artinya: “Sabda Nabi (Apabila aku lapar, aku akan memohon kepadamu) artinya, akan menampakkan kerendahan diriku terhadap-Mu (Allah). (lalu aku akan mengingat-Mu) yaitu, mengingat Allah sebab lapar. Sungguh, karena kefakiran itu bisa mewariskan dzikrullah. Sebagaimana halnya merasa kaya yang mewariskan kepada kufur nikmat. Kemudian sabda Nabi, (Apabila aku kenyang, aku akan memuji-Mu) maksudnya adalah memuji dengan apa yang telah dianugerahkan kepadaku dari kemahakuasaan-Mu, (Maka, aku akan bersyukur kepada-Mu) yakni, dengan kenyang yang Engkau berikan dan seluruh nikmat-Mu yang lain.” (Ali bin Sulthon Muhammad, Mirqotul Mafatih, [Beirut: Darul Fikr, 2003] jilid VIII, halaman 3249-3250)

  Hikmah Rasulullah Pilih Hidup Sederhana Syekh Hasan bin Ali Al-Qahiri dalam kitab Fathul Qarib al-Mujib menjelaskan, ada seseorang bertanya terkait hikmah di balik keputusan Nabi Muhammad saat diberi tawaran kemewahan hidup, sebagaimana penjelasan hadits tersebut. Syekh Hasan menyebutkan beberapa hikmah sekaligus menjawab pertanyaan tersebut, yaitu sebagaimana berikut:   Jika Nabi Muhammad hidup dalam kekayaan dan kemegahan, maka kaumnya akan menuduh bahwa dia adalah orang yang gila harta dan tamak. Untuk itu, Rasulullah memilih tetap hidup sederhana. Allah-lah yang menjadikan Nabi Muhammad memilih tetap dalam kesederhanaan. Supaya hati orang fakir merasa ikut bahagia dengan kesederhanaan hidup (karena merasa senasib). Sebagaimana para orang kaya bergembira dengan harta. Harta adalah benda yang tidak akan terlepas dari ikatan hukum halal dan haram. Keharamannya akan membawa kepada azab (siksaan), sedangkan halalnya akan dihisab (diminta pertanggungjawaban). Sehingga hisabnya akan menyibukkan Rasulullah di hari kiamat nanti. Hal ini bisa menyebabkan waktu beliau terkuras dan terganggu untuk memberikan syafaat kepada umatnya. Karena inilah, Rasulullah memilih hidup sederhana. Kesederhanaan Rasulullah menjadi bukti bahwa kehidupan dunia bagi Allah swt itu tidak ada artinya. Sebagaimana sabda Rasul dalam hadisnya yang lain, “Seandainya dunia ini ditimbang di sisi Allah, niscaya beratnya bagaikan sayap nyamuk. Seakan-akan (dunia) itu hanya menjadi tempat peruntungan hidup orang-orang kafir.” (HR. Ibnu Majah) Kesederhanaan yang dipilih oleh Rasulullah saw menjadi bukti, bahwa sederhana itu lebih berharga dibandingkan dengan kaya. Karena Rasulullah sebagai makhluk terbaik, justru memilih hidup sederhana. (Syekh Hasan bin Ali Al-Qahiri, Fathul Qarib al-Mujib, [Riyadh, Maktabah Darussalam, 2018] halaman 4948, jilid 13)   Demikianlah hikmah di balik pilihan Rasulullah hidup dalam kesederhanaan. Beliau rela memilih makan sehari dan lapar di hari yang lain ketika ditawarkan hidup yang penuh dengan kemewahan. Hal ini menjelaskan bahwa hidup sederhana itu adalah sebuah keistimewaan. Namun yang perlu ditekankan adalah kita perlu bersyukur dan bersabar dalam menjalani dinamika kehidupan ini, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Wallahu a’lam.

Editor: Alima sri sutami mukti

Kisah Imam Ghazali Berguru kepada Tukang Sol Sepatu

Imam Al-Ghazali (450 – 505 H) merupakan seorang ulama terkemuka yang bergelar Hujjatul Islam, dengan pemikiran yang hingga kini masih terus dikaji dan diikuti oleh umat Islam.   Siapa sangka, di balik kapasitas keilmuannya yang luar biasa, Imam Ghazali tetap bersedia belajar dari seorang tukang sol sepatu. Belakangan diketahui bahwa tukang sol sepatu tersebut adalah seorang ahli ma’rifat yang menyembunyikan keilmuannya di balik profesinya. Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Maraqil Ubudiyah syarah Bidayatul Hidayah (Jakarta, Darul Kutubil Islamiyah, 2010: 161-162) mengisahkan bahwa perjumpaan Imam Ghazali dengan tukang sol sepatu ini berawal dari saudaranya yang bernama Ahmad. Imam Ghazali sering menjadi imam shalat berjamaah di sebuah masjid dekat rumahnya. Namun, saudaranya yang bernama Ahmad tidak pernah terlihat menjadi makmum di masjid tersebut. Suatu hari, Imam Ghazali mengadukan hal ini kepada ibunya. “Ibu, tolong suruh saudaraku, Ahmad, untuk shalat berjamaah bersamaku supaya orang-orang tidak menuduh macam-macam,” ujar Al-Ghazali pada ibunya. Setelah mendapat perintah sang ibu, Ahmad pun menurutinya dan menjadi makmum saat Al-Ghazali menjadi imam shalat di masjid. Beberapa saat kemudian, Ahmad melakukan mufaraqah (berpisah dengan imam) karena melihat darah dalam diri Al-Ghazali. Usai shalat, Al- Ghazali pun mengetahui Ahmad melakukan mufaraqah dan menanyakan alasannya. “Aku melihat kamu dipenuhi dengan darah,” jawab Ahmad Imam Ghazali pun mengakui bahwa saat shalat, ia tidak bisa khusyuk karena pikirannya terganggu dengan masalah darah haid, tepatnya pada persoalan mutahayyirah, yaitu wanita yang sudah pernah mengalami haid dan suci darinya, kemudian mengalami pendarahan kembali. “Dari mana kamu belajar ilmu ini?” tanya Al-Ghazali penasaran. “Aku mempelajarinya dari syekh yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu,” jawab Ahmad. Tidak menunggu lama, setelah mengetahui sosok dan alamatnya, Imam Ghazali pun segera berangkat untuk menemui dan belajar kepada syekh yang dimaksud. “Wahai tuanku, aku ingin belajar ilmu kepadamu,” ucap Al-Ghazali usai bertemu dan menyampaikan salam.  “Sepertinya kamu tidak akan sanggup untuk taat pada perintahku,” jawab syekh meragukan keseriusan Imam Ghazali. “Insyaallah aku sanggup,” jawab Imam Ghazali meyakinkan syekh. “Kalau begitu, sekarang coba kamu sapu lantai ini,” ujar syekh pada Al-Ghazali. Ketika Al-Ghazali hendak mengambil sapu, syekh kemudian menyuruh agar lantai itu tidak dibersihkan dengan sapu melainkan dengan tangan. Al-Ghazali pun melakukannya, menyapu lantai tersebut dengan tangannya. Setelah lulus dari ujian pertama, syekh kemudian menguji kembali Al-Ghazali, yaitu memerintahkannya untuk membersihkan kotoran yang ada di sekitarnya. “Sapulah kotoran itu,” perintah syekh. Ketika Al-Ghazali hendak melepas pakaiannya, syekh kemudian memerintahkan agar kotoran itu dibersihkan dengan pakaian itu. “Bersihkan lantai itu dengan baju yang kamu pakai,” perintah syekh. Saat Al-Ghazali hendak membersihkan kotoran tersebut dengan pakaiannya, syekh kemudian mencegahnya karena telah melihat keikhlasan dalam diri muridnya itu.  Selanjutnya, syekh tersebut memerintahkan Al-Ghazali untuk pulang. Setelah kembali dan tiba di madrasahnya, Imam Ghazali merasakan hatinya terbuka dan mendapatkan ilmu yang luar biasa dari Allah melalui wasilah pertemuan tersebut. Perjalanan hidup Imam Ghazali ini mengajarkan pentingnya seorang muslim untuk tidak pernah berhenti belajar. Meski telah bergelar syekh, semangat Imam Ghazali dalam mencari ilmu tidak pernah padam. Selanjutnya, seorang muslim juga perlu memiliki guru spiritual yang dapat membimbing, mengarahkan, serta memperbaiki hati. Dalam dunia tasawuf, hati memiliki peran penting dalam kehidupan manusia karena menjadi pusat dan penentu kualitas spiritual seseorang. Selain itu, kisah ini juga memberikan gambaran sekaligus tantangan bagi para guru agar bisa meningkatkan dimensi batin. Ketika hal tersebut tercapai, murid-murid berkualitas akan lahir dari hasil didikannya yang baik.   Di sisi lain, marak terjadi hubungan tidak wajar antara guru dan murid yang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, bahkan untuk memenuhi syahwatnya dengan dalih mencari ridha guru. Hal ini mungkin terjadi karena adanya kekosongan spiritual dalam diri guru tersebut, sehingga syahwatnya menjadi tidak terkendali. Wallahu a‘lam