Gelombang Duka di Sumatra: Ketika Tanah Menggigil, air Mengamuk, dan Warga Bertahan dalam Ketidakpastian

Di penghujung tahun 2025, Pulau Sumatra kembali mengulang babak kelam dalam sejarahnya. Hujan yang seharusnya menjadi anugerah berubah menjadi malapetaka ketika langit tak lagi memberi jeda. Hari-hari yang biasanya dipenuhi aktivitas masyarakat berubah menjadi upaya penyelamatan diri di tengah air bah dan tanah yang tiba-tiba terlepas dari perut bumi.


Hujan Tanpa Henti, Sungai Meluap, Desa Tersapu
Hujan ekstrem yang turun selama berhari-hari memukul sebagian besar wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh. Sungai-sungai besar tak sanggup lagi menahan derasnya aliran, sementara lereng-lereng perbukitan runtuh membawa batu, tanah, dan pepohonan ke pemukiman warga.
Dalam hitungan jam, beberapa kawasan yang semula aman berubah menjadi kubangan lumpur dan arus deras yang menghapus rumah, jembatan, hingga jalan penghubung antarwilayah.


Ribuan Warga Mengungsi, Banyak Yang Masih Hilang
Data dari lembaga penanggulangan bencana menunjukkan jumlah korban terus bertambah dari hari ke hari. Ratusan orang dinyatakan meninggal, dan lebih banyak lagi yang masih dalam pencarian. Puluhan ribu keluarga kini tinggal di pos pengungsian—berdesak-desakan, bertahan dengan persediaan makanan terbatas, sambil menunggu kabar anggota keluarga yang belum ditemukan.
Di beberapa daerah, akses menuju lokasi bencana terputus total. Relawan dan tim penyelamat harus menembus jalur alternatif, membawa logistik sambil berjibaku dengan cuaca yang belum bersahabat.


Masyarakat Indonesia Kerja Cepat, Namun Tantangan Masih Besar
Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat, sementara Masyarakat seluruh Indonesia mengirimkan dukungan personel, logistik, dan peralatan berat. Operasi pencarian, evakuasi, serta pembukaan jalur yang tertutup terus dikebut.
Namun, luasnya kawasan terdampak dan sulitnya kondisi geografis membuat proses pemulihan tidak bisa dilakukan secepat yang diharapkan. Beberapa daerah yang terisolasi masih menunggu bantuan, dan kondisi cuaca masih berpotensi memperburuk situasi.


Mengapa Bencana Ini Begitu Dahsyat?
Hujan ekstrem akhir tahun memang bukan hal baru bagi Sumatra. Namun intensitas kali ini jauh di atas normal. Ditambah kondisi lingkungan yang semakin rentan, limpasan air menjadi lebih cepat, dan tanah di kawasan perbukitan kehilangan kekuatannya untuk bertahan.
Kombinasi faktor alam dan kerentanan lingkungan inilah yang membuat bencana kali ini lebih mematikan, lebih luas, dan lebih sulit ditangani.


Kisah Manusia: Harapan yang Masih Menyala di Tengah Kegelapan
Di pos pengungsian, kisah-kisah menyayat hati terus bermunculan. Ada keluarga yang hanya tersisa pakaian di badan. Ada warga lanjut usia berjalan puluhan kilometer untuk menyelamatkan diri. Ada anak-anak yang kehilangan rumah, sekolah, bahkan orang tua.
Namun di balik derita itu, solidaritas juga mengalir deras. Warga saling membantu menyelamatkan satu sama lain, relawan datang dari berbagai daerah, dan masyarakat luas bahu membahu memberikan dukungan.
Tragedi yang melanda Sumatra bukan hanya cerita duka, tetapi juga pengingat bahwa kita masih harus memperkuat kesiapsiagaan, memperbaiki tata ruang, dan memulihkan alam yang selama ini menjadi penopang hidup. Hari ini Sumatra menangis. Tapi bersama, kita bisa membuat pulau ini bangkit kembali.
Mari kita sama-sama doakan kepada saudara kita yang berada di Sumatra
اللَّهُمَّ يَا رَبَّ الرَّحْمَةِ وَالْقُدْرَةِ، نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلاَءَ عَنْ إِخْوَانِنَا الَّذِينَ أَصَابَتْهُمُ الْكَارِثَةُ،
وَأَنْ تُحِيطَهُمْ بِلُطْفِكَ، وَتَحْفَظَهُمْ بِرِعَايَتِكَ، وَتُثَبِّتَ قُلُوبَهُمْ فِي هَذِهِ الْمِحْنَةِ.
اللَّهُمَّ اشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَارْدُدْ مَفْقُودِيهِمْ، وَوَسِّعْ عَلَى الْمُتَضَرِّرِينَ، وَاخْلُفْهُمْ خَيْرًا مِمَّا فَقَدُوا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذِهِ الْمِحْنَةَ لَهُمْ رَفْعَةً وَرَحْمَةً، وَلَا تَجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ عُقُوبَةً وَلَا شِدَّةً.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

“Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa,
kami memohon kepada-Mu agar Engkau mengangkat bala dan bencana dari saudara-saudara kami yang sedang tertimpa musibah.
Limpahkanlah kelembutan-Mu kepada mereka, jagalah mereka dengan penjagaan-Mu, dan teguhkan hati mereka dalam ujian ini.
Ya Allah, sembuhkanlah yang terluka, rahmatilah yang meninggal, kembalikanlah mereka yang masih hilang, luaskanlah rezeki bagi yang terdampak, dan gantilah untuk mereka yang hilang dengan sesuatu yang lebih baik.
Ya Allah, jadikanlah musibah ini sebagai pengangkat derajat dan rahmat bagi mereka, dan jangan Engkau jadikan sebagai hukuman atau kesengsaraan.
Aamiin, ya Rabbal ‘Alamin.”

PENTINGNYA RASA SYUKUR

Pentingnya Rasa Syukur dalam Kehidupan: Kunci Kedamaian Hati

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia kerap terjebak dalam keinginan yang tidak ada habisnya. Semua orang ingin terus meningkat—secara materi, status, maupun teknologi. Namun di balik hiruk pikuk tersebut, ada satu sikap sederhana yang sering terlupakan: rasa syukur.

Rasa syukur bukan hanya tentang mengucap “Alhamdulillah”, tetapi kesadaran mendalam bahwa segala nikmat yang dimiliki adalah pemberian Allah. Mulai dari nikmat hidup, kesehatan, keluarga, udara yang dihirup, hingga iman dalam hati—semuanya adalah karunia yang tidak ternilai.

– Syukur dalam Perspektif Islam

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini memberikan pesan kuat bahwa syukur adalah jalan pembuka rezeki. Sebaliknya, mengingkari nikmat akan membawa kesempitan dan kegelisahan dalam hidup.

Nabi Muhammad ﷺ juga menegaskan pentingnya bersyukur, terutama dalam urusan dunia. Beliau mengajarkan agar melihat orang yang lebih kekurangan, sehingga kita mampu menghargai apa yang telah kita punya.

– Manfaat Syukur bagi Kesehatan Jiwa

Berbagai studi psikologi menunjukkan bahwa individu yang rajin bersyukur memiliki:

1. Tingkat stres lebih rendah
2. Hidup lebih bahagia dan optimis
3. Hubungan sosial lebih harmonis
4. Kualitas tidur lebih baik

Ketika seseorang fokus pada nikmat, bukan pada kekurangan, maka hati menjadi lebih tenang dan pikiran lebih positif.

– Syukur Mendorong Produktivitas

Bersyukur bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru, rasa syukur menumbuhkan semangat untuk memaksimalkan nikmat yang sudah ada. Orang yang bersyukur akan lebih disiplin menjaga kesehatan, menghargai waktu, dan menggunakan kemampuan yang Allah berikan untuk berbuat kemaslahatan.

Syukur juga menghindarkan seseorang dari sifat iri dan dengki yang merusak keberkahan hidup.

– Cara Menumbuhkan Syukur

beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap hari:

  1. Mengucapkan Alhamdulillah dalam setiap keadaan
  2. Mencatat tiga hal yang disyukuri setiap hari
  3. Mengingat bahwa apa pun yang diterima adalah takdir terbaik menurut Allah
  4. Berbuat baik sebagai bentuk syukur atas kesempatan hidup
  5. Menjauh dari keluhan berlebihan

Mulailah Istiqamah Membaca Al-Qur’an

Sebagai orang yang beriman, membaca Al-Qur’an merupakan bagian dari rutinitas yang seharusnya istiqamah dilakukan. Al-Qur’an berfungsi sebagai sumber kehidupan seorang mukmin yang menyatukan antara iman, ilmu, dan amal. Ia berfungsi sebagai panduan moral, sosial, dan spiritual yang memberikan arah bagi manusia agar hidupnya senantiasa selaras dengan kehendak Allah. Khutbah Jumat kali ini berjudul “Mulailah Istiqamah Membaca Al-Qur’an.

” الْـحَمْدُ لِلّٰهِ، الْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْـحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ، سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـحَاضِرُونَ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ، وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan sehingga kita dapat memenuhi panggilan-Nya untuk menunaikan shalat Jumat. Nikmat yang harus digunakan dalam rangka memenuhi syariat yang telah ditetapkan-Nya. Shalawat beserta salam, mari kita haturkan bersama kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Aamiiin ya Rabbal ‘alamin.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,Baca Juga Khutbah Jumat: Tiga Pelajaran enting Bencana Alam bagi Tiap Muslim Sebagai orang yang beriman, membaca Al-Qur’an merupakan bagian dari rutinitas yang seharusnya istiqamah dilakukan. Al-Qur’an berfungsi sebagai sumber kehidupan seorang mukmin yang menyatukan antara iman, ilmu, dan amal.Ia berfungsi sebagai panduan moral, sosial, dan spiritual yang memberikan arah bagi manusia agar hidupnya senantiasa selaras dengan kehendak Allah. Bahkan dengan hanya membacanya, orang beriman akan mendapatkan banyak kemanfaatan.Terdapat banyak riwayat yang menjelaskan keutamaan memperbanyak membaca Al-Qur’an.

Salah satunya ialah riwayat Ibnu Mas’ud dalam hadits berikut:

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya: Dari Abdullah ibn Mas‘ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya.Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf,” (HR. At-Tirmidzi).

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,Manfaat membaca Al-Qur’an bagi orang beriman tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga intelektual dan moral. Ia menumbuhkan kesadaran diri, memperkuat akhlak, dan menuntun manusia menuju keseimbangan antara dunia dan akhirat.Salah satu ayat yang menjelaskan manfaat bagi pembaca Al-Qur’an ialah surat Yunus ayat 57.

Allah ta’ala berfirman: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
Artinya: “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu,penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada,dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin,” (Qs. Yunus: 57).

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah memberikan banyak kemanfaatan di dalam Al-Qur’an.Pada ayat di atas setidaknya Allah menjelaskan bahwa terdapat empat manfaat yang dapat diperoleh dengan membaca Al-Qur’an.Empat manfaat tersebut ialah Al-Qur’an sebagai nasihat,penyembuh bagi penyakit hati,petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin.

Terkait hal ini, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsirnya Marah Labid juz I halaman 589 berkata: أَيْ قَدْ جَاءَكُمْ كِتَابٌ فِيْهِ بَيَانُ مَا يَنْفَعُ الْمُكَلَّفَ وَمَا يَضُرُّهُ وَدَوَاءٌ لِلْقُلُوْبِ وَهُدًى إِلَى الْحَقِّ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ بِإِنْجَائِهِمْ مِنَ الضَّلَالِ إِلَى نُوْرِ الْإِيْمَانِ وَتَخَلُّصِهِمْ مِنْ دَرَكَاتِ النِّيْرَانِ إِلَى دَرَجَاتِ الْجِنَانِ

Artinya: “Telah datang kepada kalian kitab (Al-Qur’an) yang berisi penjelasan apa saja yang dapat bermanfaat dan apa saja yang dapat membahayakan bagi orang mukallaf. Ia juga berfungsi sebagai obat bagi hati, petunjuk yang mengarahkan kepada kebenaran, juga rahmat bagi orang-orang beriman yang menyelamatkan mereka dari kesesatan menuju cahaya keimanan, dan menyelamatkan mereka dari kerendahan neraka menuju derajat surga.”

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, Lebih lanjut,Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsirul Munir jilid 6 hal 213 menjelaskan empat manfaat membaca Al-Qur’an. Pertama, Al-Qur’an sebagai nasihat yang baik dari Allah.Sebagai nasihat yang baik dari Allah,Al-Qur’an mengumpulkan dan menjelaskan banyak motivasi-motivasi untuk berbuat baik diikuti dengan ancaman bagi yang melakukan keburukan.Dalam hal ini Al-Qur’an berisi rambu-rambu yang dapat dijadikan acuan untuk mengarungi kehidupan di dunia.Kedua,Al-Qur’an sebagai penyembuh bagi hati.Sebagai penyembuh bagi hati,Al-Qur’an menyembuhkan hati dari segala penyakit hati seperti keraguan, kemunafikan,keburukan akhlak dan penyakit hati lainnya. Ketiga,Al-Qur’an sebagai petunjuk yang mengarahkan orang-orang beriman menuju keyakinan yang mantap dan jalan yang lurus menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Keempat,Al-Qur’an sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Manfaat Al-Qur’an selanjutnya bagi orang-orang beriman ialah sebagai rahmat yang menyelamatkan mereka dari gelapnya kesesatan menuju cahaya keimanan dan mengangkat derajat mereka untuk memperoleh surga.Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, Keempat manfaat tersebut akan diperoleh orang-orang beriman dengan membaca dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Dengan mengamalkannya, orang-orang beriman akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.Oleh karenanya, pada ayat setelahnya Allah, memerintahkan kepada orang mukmin agar berbahagia karena telah mendapatkan tiket terbaik untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allah berfirman: قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira.Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan,” (Qs. Yunus: 58).

Pada ayat di atas Allah ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk berkata kepada orang-orang beriman agar berbahagia atas karunia yang telah Allah berikan kepada mereka.Karunia tersebut ialah turunnya Al-Qur’an.

Sebagaimana Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya berkata: وَإِنَّ فَضْلَ اللهِ وَرَحْمَتُهُ مِنْ أَعْظَمِ دَوَاعِيِ الْفَرَحِ وَالسُّرُوْرِ بَلْ لَا فَرَحَ وَلَا سُرُوْرَ بِغَيْرِ فَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ, وَفَضْلُ اللهِ: الْإِيْمَانُ، وَرَحْمَتُهُ الْقُرْأَنُ

Artinya: “Sesungguhnya anugerah dan rahmat Allah ialah magnet paling kuat bagi kebahagiaan.Bahkan tidak akan ada kebahagiaan tanpa anugerah dan rahmat-Nya. Anugerah Allah ialah keimanan sedangkan rahmat-Nya ialah Al-Qur’an.”

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,Al-Qur’an memiliki banyak manfaat bagi orang-orang beriman,bahkan ketika hanya dibaca tanpa memahami maknanya sekalipun,karena setiap hurufnya mengandung keberkahan dan pahala.Namun demikian,memahami maknanya tentu akan membawa manfaat yang lebih besar,sebab dengan memahaminya kita dapat mengamalkan ajarannya secara benar.Oleh karena itu,marilah kita mulai meluangkan waktu untuk istiqamah membaca Al-Qur’an,berusaha memahami kandungannya,dan mengamalkan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

Nasihat Dari Imam Al-Ghazali Untuk Para Pemimpin

Kekuasaan dan jabatan adalah amanat besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Seorang pemimpin dituntut untuk menegakkan keadilan dan menghadirkan kemaslahatan bagi rakyat sesuai tuntunan syariat. Pemimpin yang baik yaitu pemimpin yang memiliki integritas, komunikasi yang jelas, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, dan dapat memberdayakan orang lain. Mereka juga mampu beradaptasi dengan situasi yang berbeda, menunjukkan empati, dan menjadi panutan dengan memberikan contoh yang baik. Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar urusan dunia, tetapi amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya, “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin,” (HR. Bukhari).

Dalam Islam, ulama berperan sebagai penuntun moral bagi penguasa. Mereka memberi nasihat agar kekuasaan tidak menyimpang dari nilai-nilai agama. Nasihat ulama ibarat cahaya yang menjaga seorang pemimpin agar keputusannya tidak hanya dilandasi kepentingan politik, melainkan berpijak pada kebenaran dan kebijaksanaan. Salah satu ulama besar yang banyak menasihati para penguasa adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505 H). Nasihat beliau kepada para pemimpin terangkum dalam kitab At-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk (Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988).

Dalam karya ini, Al-Ghazali menekankan bahwa kepemimpinan adalah nikmat sekaligus ujian besar yang harus dijalankan dengan adil dan sesuai syariat. Berikut 10 nasihat Imam Al-Ghazali bagi para pejabat agar dapat menunaikan amanat kepemimpinan dengan sebaik-baiknya:

  1. Adil dalam memimpin
    Pemimpin yang menunaikannya dengan adil akan memperoleh kebahagiaan abadi, sedangkan yang mengkhianatinya akan terjerumus dalam kesengsaraan, bahkan bisa mengarah pada kekufuran.
  2. Mendengarkan nasihat ulama yang saleh
    Seorang pejabat harus senantiasa membuka telinga terhadap nasihat ulama yang lurus dan tidak cinta dunia. Ulama yang benar berfungsi sebagai penasihat yang tulus, bukan sebagai “ulama su’” yang hanya mendekati kekuasaan demi keuntungan pribadi.
  3. Memilih dan mengawasi jajaran
    Kebijakan pejabat akan tercermin dalam kinerja bawahannya. Oleh karena itu, ia harus selektif dalam memilih serta tegas dalam mengawasi aparatnya, sebab kelalaian mereka tetap menjadi tanggung jawab pemimpin.
  4. Menjauhi kesombongan dan kesewenang-wenangan
    Jabatan bukan untuk disombongkan, apalagi dijadikan alat menindas rakyat. Seorang pejabat wajib rendah hati, menyadari bahwa kedudukannya adalah amanat rakyat, bukan hak istimewa pribadi.
  5. Memposisikan diri sebagai wakil rakyat
    Pemimpin yang baik adalah perpanjangan tangan rakyat. Jika ia benar-benar menempatkan dirinya sebagai bagian dari rakyat, ia tidak akan rela rakyatnya menderita, sebagaimana ia tidak rela dirinya sendiri mendapat penderitaan.
  6. Merespons kebutuhan rakyat dengan baik
    Kebutuhan rakyat harus menjadi prioritas utama, bahkan lebih utama dari ibadah sunnah. Mengabaikan rakyat demi urusan pribadi atau perkara kecil adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat.
  7. Tidak pamer kekayaan
    Pemimpin hendaknya hidup sederhana dan tidak memamerkan kemewahan. Menurut Al-Ghazali, keadilan tidak akan lahir tanpa kesederhanaan. Pakaian mewah dan makanan mahal tidak boleh menjadi kesibukan seorang pejabat.
  8. Menanggapi kritik dengan kelembutan
    Kritik rakyat adalah bagian dari pengawasan. Pemimpin harus menanggapinya dengan bijak, penuh kelembutan, bukan dengan kekerasan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa pemimpin yang tidak lembut terhadap rakyatnya, kelak Allah pun tidak akan lembut kepadanya pada hari kiamat.
  9. Melakukan perbaikan sesuai syariat
    Kritik harus ditindaklanjuti dengan perbaikan nyata. Setiap pembaruan kebijakan dan tindakan pejabat wajib berlandaskan syariat serta diarahkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat.
  10. Tidak menyelisihi syariat dalam kebijakan
    Seorang pejabat tidak boleh membuat keputusan yang bertentangan dengan syariat, meski hal itu sesuai dengan kehendak sebagian rakyat. Segala yang menyelisihi syariat pasti batil dan akan menjerumuskan kepemimpinan pada kebinasaan. Nasihat ulama kepada pemimpin adalah bentuk kasih sayang sekaligus tanggung jawab moral terhadap umat. Pemimpin yang mau mendengar akan lebih mudah menjaga integritas, menegakkan keadilan, dan mengutamakan kepentingan rakyat. Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya urusan politik dan kekuasaan, melainkan jalan menuju keberkahan serta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

“Tugas pemimpin bukan untuk membuat pengikutnya mengerti, tapi untuk membuat pengikutnya percaya.” – Bong Chandra

RAPAT KERJA HAUL MASYAIKH AL-MUSRI KE-26

Rapat Kerja Haul Masyayikh

Cianjur, 12 November 2025 — Dalam rangka mempersiapkan kegiatan haul para masyayikh, diadakan rapat kerja yang melibatkan panitia, ulama, jajaran dari pesantren dan tokoh masyarakat. Rapat tersebut membahas penyelenggaraan haul, koordinasi, dan penguatan silaturahmi keagamaan.
Latar Belakang
Haul masyayikh merupakan tradisi keagamaan penting yang dilaksanakan untuk mengenang, mendoakan, serta meneladani ulama-pendahulu (masyayikh) yang berjasa dalam pendidikan dan dakwah umat islam. Contoh di beberapa pesantren, kegiatan ini dihadiri ribuan jamaah dan melibatkan rangkaian acara dzikir, pengajian umum, hingga bazar.
Rapat kerja ini digelar sebagai upaya memastikan seluruh aspek penyelenggaraan berjalan lancar, mulai logistik, akomodasi, hingga kegiatan inti pengajian dan tahlil.
Agenda Rapat
Beberapa poin utama yang dibahas dalam rapat antara lain:
Penetapan waktu puncak haul dan rangkaian kegiatan pra-haul (dzikir, sholawat, pengajian, silaturahmi alumni)
Koordinasi dengan lembaga lingkungan sekitar, pesantren, dan pemerintahan daerah untuk memastikan fasilitas dan keamanan
Penyiapan tempat, akomodasi peserta, khususnya alumni dari luar daerah yang datang lebih awal. di acara haul masyayikh di daerah Cianjur, alumni dari Sumatera, Kalimantan, Malaysa datang sejak sepekan sebelum puncak acara.
Penyusunan panitia, pembagian tugas, pengaturan logistik seperti tenda, sound system, tempat parkir, serta konsumsi jamaah
Penguatan nuansa keagamaan dan sosial: selain sebagai bentuk penghormatan kepada para masyayikh, kegiatan juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi antar pesantren, tokoh agama, dan masyarakat.
Dalam salah satu haul masyayikh di wilayah Cianjur, salah seorang tokoh agama menyampaikan:
“Majelis ini … tidak hanya istimewa karena Fiqih, tetapi juga majelis yang kita niatkan untuk membahagiakan para almarhumin, guru-guru kita yang mulia.”
Kutipan tersebut menggambarkan bahwa haul masyayikh bukan sekadar acara ritual tahunan, tetapi juga wujud penghormatan dan kesinambungan warisan spiritual.
Harapan:
Terselenggaranya acara haul dengan tertib, khidmat, dan penuh keberkahan.
Meningkatnya kehadiran jamaah dan partisipasi lingkungan pesantren maupun masyarakat.
Penguatan ukhuwah keagamaan dan jejaring antar-alumni, pengasuh, dan santri.
Tantangan:
Logistik dan akomodasi jamaah dari luar daerah (berdasarkan pengalaman di salah satu pesantren).
Koordinasi antarinstansi, terutama jika melibatkan peserta massal, keamanan, kebersihan, dan transportasi.
Menjaga khidmat ritual keagamaan sekaligus mengakomodasi aspek sosial-masyarakat (bazaar, hiburan ringan, silaturahmi) agar tidak mengaburkan tujuan keagamaan.
Penutup
Rapat kerja haul masyayikh ini menunjukkan komitmen panitia dan pesantren dalam menyelenggarakan acara yang tidak hanya bersifat memperingati, tetapi juga membangun kembali hubungan rohani dan sosial. Dengan perencanaan matang dan kolaborasi yang baik, diharapkan acara haul dapat berjalan sukses dan memberi manfaat jangka panjang bagi komunitas.