Isra’ Mi’raj Dan Pelajaran Penting Dalam Hidup

Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa agung, yaitu Allah Subhanahu Wa Taala (SWT) memberikan keistimewaan pada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina. Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT sang pencipta alam semesta

Penegasan ini sebagaimana firman Allah dalam surat Isra’ ayat 1:   

   سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ   

 Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Artikel diambil dari: Khutbah Jumat: Empat Pelajaran dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj   Imam Bukhari mengisahkan perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dalam Shahih Bukhari, juz 5 halaman 52.

Intisarinya adalah: Suatu ketika Nabi berada di dalam suatu kamar dalam keadaan tidur, kemudian datang malaikat mengeluarkan hati Nabi dan menyucinya, kemudian memberikannya emas yang dipenuhi dengan iman. Kemudian hati Nabi dikembalikan sebagaimana semula.

Setelah itu Nabi melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dengan mengendarai buraq dengan diantar oleh Malaikat Jibril hingga langit dunia, kemudian terdapat pertanyaan: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Selamat datang, sungguh sebaik-baiknya orang yang berkunjung adalah engkau, wahai Nabi.Di langit dunia ini, Nabi bertemu dengan Nabi Adam Alaihis Salam (AS), Jibril menunjukkan bahwa Nabi Adam adalah bapak dari para nabi.

Jibril memohon kepada Nabi Muhammad untuk mengucapkan salam kepada Nabi Adam, Nabi Muhammad mengucapkan salam kepada Nabi Adam, berikutnya Nabi Adam juga membalas salam kepada Nabi Muhammad. Perjalanan dilanjutkan menuju langit kedua, di sini Nabi bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga, Nabi Muhammad bertemu Nabi Yusuf, di langit keempat dengan Nabi Idris, di langit kelima bertemu Nabi Harun, di langit keenam dengan Nabi Musa.

 Nabi Musa menangis karena Nabi Muhammad memiliki umat yang paling banyak masuk surga, melampaui dari umat Nabi Musa sendiri. Dan terakhir di langit ketujuh, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim. Setelah itu, Nabi Muhammad menuju Sidratul Muntaha, tempat Nabi bermunajat dan berdoa kepada Allah. Kemudian Nabi naik menuju Baitul Makmur, yaitu baitullah di langit ketujuh yang arahnya lurus dengan Ka’bah di bumi, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk untuk berthawaf di dalamnya. Selanjutnya Nabi disuguhi dengan arak, susu, dan madu.

Nabi kemudian mengambil susu, Jibril mengatakan: Susu adalah lambang dari kemurnian dan fitrah yang menjadi ciri khas Nabi Muhammad dan umatnya. Di Baitul Makmur, Nabi Muhammad bertemu dengan Allah SWT dan mewajibkan melaksanakan shalat fardhu sebanyak lima puluh rakaat setiap hari. Nabi menerima dan dalam perjalanan bertemu Nabi Musa. Ia mengingatkan bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu dengan perintah shalat lima puluh kali sehari, Nabi Musa mengatakan: Umatku telah membuktikannya.

Lalu meminta kepada Nabi Muhammad untuk kembali kepada Allah SWT, mohonlah keringanan untuk umatnya. Kemudian Nabi menghadap kepada Allah dan diringankan menjadi shalat sepuluh kali.    Kemudian Nabi Muhammad kembali , dan Nabi Musa mengingatkan sebagaimana yang pertama. Kembali Nabi menghadap Allah hingga dua kali, dan akhirnya Allah mewajibkan shalat lima waktu. Nabi Musa tetap mengatakan bahwa umat Muhammad tidak akan kuat.

Nabi Muhammad menjawab: Saya malu untuk kembali menghadap pada Allah dan ridha serta pasrah kepada Allah. Imam Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah, Sirah Nabawiyah, juz 2 halaman 94 menceritakan, keesokan harinya Nabi menyampaikan peristiwa tentang Isra’ Mi’raj terhadap kaum Quraisy. Mayoritas mereka ingkar terhadap kisah yang disampaikan Nabi Muhammad, bahkan sebagian kaum muslimin ada yang kembali murtad karena tidak percaya terhadap kisah yang disampaikan Nabi.

 Melihat hal tersebut, Abu Bakar bergegas untuk membenarkan kisah Isra’ Mi’raj Nabi: Sungguh aku percaya terhadap berita dari langit, apakah yang hanya tentang berita Baitul Maqdis aku tidak percaya? Sejak saat itu sahabat Abu Bakar dijuluki dengan sebutan Abu Bakar as-Shiddiq, Abu Bakar yang sangat jujur. Pelajaran Penting Ali Muhammad Shalabi dalam Sirah Nabawiyah: ‘Irdlu Waqâi’ wa Tahlîl Ihdats, juz 1 halaman 209 menjelaskan setidaknya ada makna penting dari peristiwa ini.  

1. Kemuliaan dan Keistimewaan Nabi Muhammad  Nabi Muhammad SAW baru saja mengalami hal yang amat menyedihkan, yaitu wafatnya Sayyidah Khodijah sebagai istri tercinta, yang selalu mengorbankan jiwa, tenaga, pikiran, dan hartanya demi perjuangan Nabi. Juga wafatnya sang paman, Abu Thalib yang selalu melindungi Nabi dari kekejaman kaum Quraisy. Allah ingin menguatkan hati Nabi dengan melihat secara langsung kebesaran Allah SWT. Sehingga hati Nabi semakin mantap dan teguh dalam menyebarkan agama Islam. Ini memberikan pelajaran, bahwa siapa pun yang berjuang di jalan Allah, dan menegakkan agama, seperti dengan memakmurkan masjid, memakmurkan majlis ilmu, dzikir dan tahlil, Allah akan memberikan kebahagiaan dan keistimewaan.

 2. Kewajiban Shalat Lima Waktu Musthofa As Siba’i dalam kitab Sirah Nabawiyah, Durus wa Ibar, jilid 1 halaman 54 menjelaskan bahwa jika Nabi melakukan Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasadnya sebagai mukjizat. Karenanya, sebuah keharusan bagi tiap muslim menghadap (mi’raj) kepada Allah SWT lima kali sehari dengan jiwa dan hati yang khusyu’.   Dengan shalat yang khusyu’, seseorang akan merasa diawasi oleh Allah SWT, sehingga malu untuk menuruti syahwat dan hawa nafsu, berkata kotor, mencaci orang lain, berbuat bohong. Justru sebaliknya lebih senang dan mudah untuk melakukan banyak kebaikan. Hal tersebut demi mengagungkan keesaan dan kebesaran Allah, sehingga dapat menjadi makhluk terbaik di bumi.

3. Perjalanan Pertama Luar Angkasa Dalam sejarah, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha adalah perjalanan pertama manusia di dunia menuju luar angkasa, dan kembali menuju bumi dengan selamat. Jika hal ini telah terjadi di zaman Nabi, 1400 tahun yang lalu, hal tersebut memberikan pelajaran bagi umat Islam agar mandiri, belajar, bangkit dan meningkatkan kemampuan, tidak hanya dalam masalah agama, sosial, politik, dan ekonomi, namun juga harus melek terhadap sains dan teknologi. Perjalanan menuju ke luar angkasa adalah sains dan teknologi tingkat tinggi yang menjadi salah satu tolak ukur kemajuan sebuah umat dan bangsa.

4. Membela Perjuangan Agama Pada Isra’ Mi’raj ada penyebutan dua masjid, yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Hal tersebut memberikan pelajaran bahwa Masjidil Aqsha adalah bagian dari tempat suci umat Islam. Membela masjid tersebut dan sekelilingnya sama saja dengan membela agama Islam. Wajib bagi tiap muslim sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk selalu berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan keselamatan Masjidil Aqhsa Palestina. Baik dengan diplomasi politik, bantuan sandang pangan, maupun dengan harta

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi Bagi Umat Islam

Pergantian tahun Masehi sering dimaknai masyarakat sebagai momen refleksi sekaligus perayaan. Namun, bagaimana hukum merayakannya dalam pandangan Islam? Apakah merayakan Tahun Baru bertentangan dengan nilai keislaman?

Mengutip pendapat Guru Besar Al-Azhar Asy-Syarif serta Mufti Agung Mesir Syekh Athiyyah Shaqr, merayakan Tahun Baru diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat.

“Lalu bagaimanakah hukum memperingati dan merayakannya bagi seorang muslim?”

 Tak diragukan lagi bahwa bersenang-senang dengan keindahan hidup yakni makan, minum, dan membersihkan diri merupakan sesuatu yang diperbolehkan selama masih selaras dengan syariat, tidak mengandung unsur kemaksiatan, tidak merusak kehormatan, dan bukan berangkat dari akidah yang rusak.” Demikian dikutip dari kitab Wizarah Al-Auqof Al-Mishriyyah, Fatawa Al-Azhar.

Lebih lanjut, sejumlah ulama Al-Azhar dan ahli hadis memandang ucapan selamat tahun baru sebagai hal yang diperbolehkan. Disebutkan bahwa mengucapkan “selamat tahun baru” tidak dapat dikategorikan sebagai bid’ah tercela, selama tidak diyakini sebagai bagian dari ritual keagamaan tertentu.

Dalam konteks ini, pergantian tahun justru dianjurkan untuk dijadikan sarana muhasabah atau introspeksi diri agar kehidupan ke depan menjadi lebih baik dan bermakna.

Pandangan moderat tersebut sejalan dengan imbauan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan KH Ahmad Fahrur Rozi. Beliau menekankan pentingnya menjadikan malam pergantian tahun sebagai momen kebersamaan yang sederhana dan bernilai ibadah.

“Malam pergantian tahun sebaiknya diisi dengan kegiatan yang positif semisal tafakur dan berdzikir kepada Allah. Hindari kegiatan hura-hura yang tidak perlu,” ajaknya.

Umat Islam seharusnya tidak terjebak pada euforia berlebihan yang justru mengikis nilai spiritual. Ia juga mengingatkan bahwa Islam memiliki kalender Hijriah sebagai rujukan utama dalam ibadah, sehingga perayaan tahun baru Masehi hendaknya tidak dimaknai sebagai sesuatu yang sakral atau dirayakan secara berlebihan dan konsumtif.

Berdasarkan berbagai pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Islam tidak menutup ruang bagi umatnya untuk menyambut pergantian tahun. Namun, perayaan tersebut harus tetap berada dalam koridor syariat, menjauhi kemaksiatan, dan mengedepankan nilai kemanfaatan. Tahun baru idealnya dijadikan momentum refleksi diri, memperbaiki niat, serta memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama manusia, bukan sekadar ajang hura-hura yang melalaikan.

Rajab: Ketika Waktu Meminta Dihormati

Antara Kesucian Bulan Haram dan Realitas Sejarah Perang Tabuk

Rajab bukan sekadar nama dalam kalender Hijriyah. Ia adalah waktu yang sejak awal meminta penghormatan. Dalam bahasa Arab, Rajab bermakna pengagungan dan penjagaan—sebuah isyarat bahwa bulan ini tidak boleh diperlakukan seperti waktu biasa. Bahkan bangsa Arab pra-Islam pun mengenal Rajab sebagai bulan yang dijaga: pedang disarungkan, peperangan ditunda, dan darah tidak ditumpahkan.

Namun sebuah pertanyaan kritis kemudian muncul:
jika Rajab adalah bulan yang dimuliakan, mengapa Rasulullah ﷺ memimpin ekspedisi Perang Tabuk pada bulan Rajab, bahkan dampaknya terasa hingga bulan Ramadhan?
Apakah ini kontradiksi? Ataukah pemahaman kita tentang Rajab yang terlalu dangkal?

Rajab dan Tradisi Penghormatan Waktu

Bangsa Arab pra-Islam menghormati Rajab sebagai bulan haram berdasarkan kesepakatan sosial. Namun penghormatan ini kerap bersifat selektif. Ketika kepentingan politik dan kekuasaan terancam, mereka melakukan praktik an-nasī’—menggeser kesucian bulan demi melegitimasi peperangan.

Islam datang bukan untuk menghapus kehormatan Rajab, melainkan untuk membersihkannya dari manipulasi. Kesucian waktu tidak lagi tunduk pada kepentingan manusia, tetapi berada di bawah prinsip keadilan ilahi.

Kesucian Rajab dalam Perspektif Al-Qur’an

Al-Qur’an secara eksplisit menyinggung persoalan berperang di bulan haram, bukan untuk menyederhanakannya, tetapi untuk meletakkannya dalam kerangka moral yang lebih luas. Allah SWT berfirman:

Ayat ini menjadi kunci pemahaman Rajab:
perang di bulan haram memang tercela, tetapi membiarkan kezaliman besar terjadi jauh lebih tercela. Kesucian waktu tidak boleh dijadikan dalih untuk membiarkan kehancuran agama dan keselamatan manusia.

Perang Tabuk: Ujian Makna Rajab

Perang Tabuk terjadi dalam konteks ancaman nyata dari Romawi Timur. Nabi ﷺ tidak bergerak karena ambisi ekspansi, melainkan demi menjaga keamanan umat Islam dan menutup pintu agresi yang lebih besar.

Menunda langkah hanya demi simbol penghormatan waktu, dalam kondisi ini, justru akan menjerumuskan umat pada bahaya yang lebih besar—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an sendiri.

Menariknya, Perang Tabuk justru memperlihatkan penghormatan terdalam terhadap Rajab. Tidak terjadi pertempuran besar, tidak ada pembantaian, dan tidak ada agresi membabi buta. Yang terjadi adalah demonstrasi kekuatan yang berlandaskan etika dan tanggung jawab.

Rajab: Mengajarkan Etika Kekuatan

Rajab mengajarkan bahwa kekuatan tidak identik dengan kekerasan. Islam tidak menolak kekuatan, tetapi menundukkannya pada nilai. Inilah esensi penghormatan waktu: bertindak ketika harus, dan menahan diri ketika mampu.

Rajab menolak dua ekstrem: spiritualitas kosong yang membiarkan kezaliman, dan kekerasan tanpa kendali yang mengabaikan kesucian.

Ketika Waktu Benar-Benar Dihormati

Menghormati Rajab bukan hanya soal menunda perang, tetapi tentang menjaga keadilan. Nabi ﷺ tidak menodai Rajab dengan darah, justru memuliakannya dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab moral.

Dalam konteks ini, Rajab bukan dilanggar, tetapi ditafsirkan dengan kedewasaan iman.

Rajab sebagai Ujian Kesadaran

Rajab adalah waktu yang meminta dihormati, bukan dipuja secara simbolik. Ia menguji apakah manusia memahami kesucian sebagai nilai hidup, atau sekadar slogan spiritual.

Perang Tabuk tidak membatalkan makna Rajab, tetapi justru menegaskannya:
bahwa waktu yang suci harus melahirkan keadilan,
bukan ketakutan untuk menegakkan kebenaran.

Rajab mengajarkan bahwa menghormati waktu berarti menjaga nilai bahkan ketika keputusan itu berat.

pewarta: Al-Musri’ Media

Bulan Rajab: Momentum Spiritual, Sejarah Sakral, dan Kesadaran Moral Umat Islam

Dalam perjalanan waktu umat Islam, bulan Rajab hadir bukan sekadar sebagai penanda kalender Hijriyah, melainkan sebagai ruang spiritual yang mengajak manusia untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperbaiki arah hidup. Rajab adalah bulan ketujuh dalam kalender Islam dan termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Status istimewa ini menjadikan Rajab sebagai momentum penting untuk membangun kesadaran moral dan spiritual umat.

Rajab sebagai Bulan Haram: Makna di Balik Larangan

Allah SWT menyebutkan empat bulan haram dalam Al-Qur’an sebagai waktu yang harus dihormati, di mana kezaliman dilarang dan amal kebaikan dianjurkan untuk diperbanyak. Larangan berbuat zalim di bulan-bulan ini bukan sekadar larangan fisik seperti peperangan, tetapi juga mencakup kezaliman terhadap diri sendiri melalui dosa dan kelalaian.

Rajab mengajarkan bahwa kesucian waktu menuntut kesucian perilaku. Semakin mulia waktu yang Allah tetapkan, semakin besar pula tanggung jawab manusia untuk menjaga lisan, perbuatan, dan niatnya.

Rajab dalam Perspektif Sejarah Islam

Salah satu alasan mengapa bulan Rajab begitu melekat dalam ingatan kolektif umat Islam adalah peristiwa agung Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik Rasulullah, tetapi sebuah transformasi spiritual yang menghasilkan perintah shalat lima waktu—ibadah inti yang menjadi pembeda antara iman dan kekufuran.

Isra Mi’raj menegaskan bahwa kedekatan dengan Allah tidak ditempuh melalui kemewahan dunia, melainkan melalui kesabaran, keteguhan iman, dan ketaatan. Rajab pun menjadi simbol perjalanan spiritual manusia menuju Rabb-nya.

Rajab sebagai Jembatan Menuju Ramadhan

Secara spiritual, Rajab sering dipahami sebagai fase awal pemanasan ruhani. Jika Ramadhan adalah puncak ibadah dan Sya’ban adalah masa penguatan, maka Rajab adalah waktu menanam niat dan kesadaran.

Banyak ulama menganalogikan Rajab sebagai bulan menanam benih, Sya’ban menyiramnya, dan Ramadhan memanen hasilnya. Tanpa kesungguhan di bulan Rajab, sering kali Ramadhan hanya berlalu sebagai rutinitas, bukan transformasi.

Amalan Rajab: Substansi Lebih Utama dari Sensasi

Tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan secara spesifik di bulan Rajab. Namun, justru di sinilah letak kedewasaan beragama: mengutamakan kualitas, bukan sensasi ritual.

Amalan yang dianjurkan di bulan Rajab meliputi:

  • Taubat yang sungguh-sungguh dan introspeksi diri
  • Memperbanyak istighfar dan dzikir
  • Menjaga shalat wajib dan memperbanyak shalat sunnah
  • Puasa sunnah sebagai latihan pengendalian diri
  • Memperbaiki hubungan sosial melalui sedekah dan silaturahmi

Esensi Rajab bukan pada banyaknya ritual, tetapi pada perubahan sikap dan akhlak yang berkelanjutan.

Rajab dan Relevansinya di Zaman Modern

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi, Rajab menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan jeda spiritual. Kesibukan dunia sering kali menjauhkan manusia dari nilai-nilai ketenangan, empati, dan kejujuran.

Rajab mengajak umat Islam untuk kembali menata prioritas: menjadikan iman sebagai kompas hidup, bukan sekadar identitas. Bulan ini relevan untuk menghidupkan kembali nilai pengendalian diri, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial.

Penutup: Rajab sebagai Panggilan Kesadaran

Bulan Rajab bukan hanya tentang kemuliaan waktu, tetapi tentang kesadaran manusia dalam menghormati waktu tersebut. Ia adalah panggilan untuk berubah sebelum perubahan itu dipaksakan oleh keadaan.

Barang siapa memuliakan Rajab dengan amal dan akhlak, maka ia telah membuka pintu menuju Ramadhan dengan kesiapan yang lebih matang. Dan pada akhirnya, Rajab mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah selalu dimulai dari kesadaran diri.

Belajar Menata Kehidupan Setelah Bencana Alam

Semua orang pasti merasa terpukul atas bencana alam yang telah melanda sejumlah wilayah di Tanah Air, terutama di Sumatra. Rasa kaget, takut, dan kehilangan yang timbul akibatnya adalah hal yang wajar dan bahkan sangat manusiawi. Namun, pada akhirnya langkah kehidupan harus diteruskan. Kita harus berusaha bersabar dan mengikhlaskan seluruhnya, lalu menata kembali kehidupan baru yang lebih baik.  

Tanah air tercinta, Indonesia, kembali menghadapi rangkaian bencana yang menguji kesiapan dan kepedulian kita sebagai satu bangsa. Kita melihat banjir, longsor, dan cuaca ekstrem muncul silih berganti di berbagai daerah. Kita juga menyadari bahwa perubahan iklim memperburuk kondisi alam yang rusak akibat ulah manusia. Semuanya terjadi seakan-akan kita diajak untuk lebih peduli, lebih bersatu, dan lebih rendah hati di hadapan kekuasaan Allah Swt.

Apalagi di Sumatra, tiga provinsi mengalami kerusakan akibat bencana alam yang membuat warga kehilangan rumah, pekerjaan, dan sanak saudara. Kita menyaksikan bagaimana mereka berusaha bertahan dengan tenaga yang tersisa

Sehingga sudah selayaknya kita merasa terpanggil untuk membantu, meski dengan kontribusi terkecil sekali pun, dengan berdonasi ke lembaga terpercaya misalnya. Selain itu, kita juga harus menyadari bahwa melalui solidaritas dalam bentuk warga jaga warga merupakan kekuatan yang sebaiknya selalu hidup dalam diri umat.  

 Akan tetapi, di balik semua musibah yang telah terjadi tersebut, seakan kita diajak kembali merenungi firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 155 tentang ujian berupa rasa takut, lapar, kehilangan harta, jiwa, dan hasil usaha dari ladang serta perkebunan.  

 وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ

 Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Musibah bagi orang-orang yang beriman, seperti yang dijelaskan dalam ayat di atas, merupakan kepastian dari Allah Swt. Rasa takut, kurangnya makanan, hilangnya harta, berkurangnya jiwa, dan sedikitnya hasil bumi adalah bentuk ujian yang pasti datang. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Tafsirul Munir, jilid 2, halaman 40:  

ثُمَّ أَقْسَمَ اللّٰهُ تَعَالَى فَقَالَ: وَاللّٰهِ لَنُصِيبَنَّكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ بِشَيْءٍ قَلِيلٍ مِنْ خَوْفِ الْعَدُوِّ فِي الْقِتَالِ، وَالْجُوعِ بِالْجَدْبِ وَالْقَحْطِ، وَنَقْصِ الْأَمْوَالِ بِضَيَاعِهَا، وَالْأَنْفُسِ بِمَوْتِهَا بِسَبَبِ الِاشْتِغَالِ بِقِتَالِ الْكُفَّارِ وَغَيْرِهِ، وَالثَّمَرَاتِ بِقِلَّتِهَا.

Artinya: “Kemudian Allah Ta‘ala bersumpah seraya berfirman (dalam QS. Al-Baqarah ayat 155): ”Demi Allah, Kami sungguh akan menimpakan kepada kalian, wahai orang-orang beriman, sebagian ujian berupa sedikit rasa takut terhadap musuh ketika berperang, kelaparan akibat kekeringan dan paceklik, berkurangnya harta karena hilang, berkurangnya jiwa karena kematian saat menghadapi kaum kafir dan sebab-sebab lainnya (seperti bencana alam), serta berkurangnya hasil bumi karena sedikitnya panen.”  

Musibah seperti bencana alam ini merupakan salah satu ujian dari Allah Swt. Meskipun sering kali penyebabnya timbul karena ulah keserakahan umat manusia. Namun hal yang paling penting untuk saat ini ialah, berusaha sabar atas apa yang terjadi, mengikhlaskan apa yang hilang, tetap mengusahakan segala hal baik, dan mengevaluasi apa saja yang kita perbuat kepada sesama, Tuhan dan alam semesta raya ini.   Selanjutnya dengan bersabar dan tetap berjuang di tengah musibah, seperti tatkala dilanda bencana alam, kita pasti akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

 Allah berfirman:  

وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ، اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ، اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ  

Artinya: “Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar [155], (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali) [156]. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk [157].” (QS. Al-Baqarah[2]: 155-157)  

Setiap musibah bencana alam adalah ujian yang datang dengan penuh hikmah. Kita diajarkan untuk jangan pernah berputus asa, tetap bersabar, dan terus berjuang memperbaiki keadaan. Ujian Allah pada hakikatnya dapat menguatkan hati, mengokohkan iman, dan mengingatkan bahwa pertolongan-Nya selalu dekat bagi setiap hamba yang senantiasa bertawakal setelah berusaha dengan maksimal.

Namun di sisi lain, musibah juga bisa menjadi cerminan bagi kita semua. Banyak bencana terjadi bukan hanya karena faktor alam, tetapi juga akibat ulah kita sebagai manusia yang serakah dan merusak keseimbangan lingkungan. Karena itu, kita wajib melakukan evaluasi pola hidup, cara mengelola dan memperlakukan alam, serta menetapkan kebijakan yang lebih baik. Semoga Allah membimbing langkah kita menuju perubahan yang lebih baik dan lebih berkah ke depannya.