Biografi Akang KH. Ade Muhammad Mansur Shomad
Tentang Kelahiran
Akang KH. Ade Muhammad Manshur Somad merupakan putra ke 5 Dari pasangan Mama K.H. Ahmad Faqih bin H. Kurdi & Eneh Hj. Qoni’ah binti Madsu’i (Pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Musri’ Pasir Nangka Ciranjang Cianjur). Beliau lahir di Cianjur pada hari Kamis, 4 Romadon, 1376 H / 5 April 1957 M Ketika Mama Syaekhuna berada di Tasikmalaya. menurut alm. Abah Sodikin (santri angkatan ke 1 yang ikut ke Cianjur dan merupakan santri yang mengasuh langsung Akang) dilahirkannya beliau tidak oleh Ma Paraji tetapi langsung diurus oleh pihak keluarga, bahkan yang langsung memandikannya ialah Abah Sodikin sendiri. Karena ketika Ma Paraji datang, beliau telah lahir kedunia dengan selamat.
Masa kecil
Pada usia sekolah SD, beliau bersekolah di SD Sumelap Tasikmalaya selama 5 tahun. Proses memulai sekolah pada usia Pada usia 5 tahun tepatnya tahun 1962 , ketika beliau dirawat oleh neneknya, yaitu : nenek rufi. Beliau bersekolah SD sampai kelas 5, lalu mengikuti ujian kelas 6 dalam rangka mengganti murid kelas 6 yang tidak ikut ujian, dan ternyata beliau lulus. Sehingga sekolahnya hanya dalam waktu 5 tahun saja. Keadaan ini merupakan satu alamat bahwa beliau adalah anak yang cerdas diatas rata-rata sebayanya. Setelah lulus SD beliau pulang kembali ke Cianjur, tepatnya di Pondok Abahnya yaitu di Al Musri’ untuk melanjutkan program pendidikannya yang difokuskan dalam program pendidikan Pesantren.
Masa remaja
Masa remaja beliau dihabiskan di lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Musri’, yaitu pesantren yang didirikan oleh ayahandanya Mama KH. Ahmad Faqih bin Mama Kurdi. Beliau mengaji langsung dibawah bimbingan Abahnya sendiri, yaitu Mama Faqih. Sebagaimana program ke Al Musri’ an yang terprogram dan berkurikulum. Beliau mulai mengaji dari tingkat pemula (Ibtidaiyah), lalu ke tingkat Tsanawiyah dan terakhir ke tingkat Ma’had Aly, Walaupun pada masa itu belum diberlakukan secara formal jenjang/ tingkatan sebagaimana pada waktu sekarang. Menurut informasi, bahwa diantara santri Al Musri’ yang menonjol pada masa itu berjumlah tiga orang, yaitu : 1. Alm. Akang KH.Ade Muhammad Mansur 2. KH. Saeful Uyun, Lc (Pangersa Ayah) 3. KH. Maman Abdurrahman Pasir Asem. Ketiga santri tersebut selalu berlomba-lomba dan saling mengalahkan satu sama lainnya dalam hal Musabaqoh Hifdzil kutub maupun Fahmil Kutub pada masa itu. Demikian dituturkan oleh Akang KH. Abdul Wahab Sya’roni Ciamis. Disamping mengaji langsung kepada Abahnya sendiri, beliau juga berguru kepada beberapa kyai dlam fan ilmu tertentu. Sperti ilmu Warits dengan kitab Rohbiyah sebagai rujukan utamanya kepada KH.—- di daerah Sukaluyu Cianjur serta belajar ilmu Hikmah kepada —- didaerah Kayu manis Cipanas.
Masa keluarga
Pada hari Ahad, 17 agustus 1980 M / 6 Syawal 1400 H Pangersa Akang KH.Ade Mansur As Somad menikahi Pangersa Umi Hj. Yayah Ruqoyah, dari hasil pertikahannya dengan Pangersa Umi ini lahirlah 9 putra putri yaitu : 1. Ang Ariful Kholiq Jaelani 2. Ang Muan Habibul fatah 3. Teh Ina Izzatul inayah 4. Ang Maksal Mina 5. teh Solahti Yakarimah 6. Ang Darwis Munawwarul Haq 7. Neng Robiah Amatillah 8. Neng Atifah (almh pada usia 2 bulan ) 9. Ang Aceng Gozalie . Sedangkan sekitar tahun 1986 beliau menikah dengan istri kedua bernama Umi Siti Robiah Adawiyah, Dari pernikahan ini beliau mempunyai satu orang putra yang bernama Ang Ahmad Arifin (sekarang tinggal di Lampung).
Tentang Wafat
Dalam perjalanan khidmahnya beliau diuji oleh Alloh Swt dengan adanya penyakit diabetes ( dalam istilah Indonesia nya “Kencing manis” ). Sejak itu beliau keluar masuk rumah sakit. Penyakit itulah yang menjadi syariat wafatnya beliau. Tepatnya pada hari Selasa 8 Muharom1435 H/12 November 2013 M beliau dipanggil oleh Sang Khaliq untuk menghadap-Nya. Selamat jalan guru kami tercinta, insya Alloh ilmu yang telah diberikan dan diamalkan kepada kami para santrinya akan mengiringi kepergian beliau menghadap ke hadrah Kekasihnya Sang Khaliqul khalqi Alloh Swt. Sebagai santrinya kita meyakinkan bahwa beliau termasuk dalam sebuah sabda Baginda Rasulullah SW. Yaitu Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya wafat ialah ilmu yang ia sebar luaskan, anak soleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibinanya, rumah yang dibinanya untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan, sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya” (HR. Ibnu Majah). Bagi Guru kita semua di Al Musri’ ….Al fatihah…
Tentang Perjuangan
1. Menjadi inspirator bagi program dan kurikulum pendidikan di Al Musri’
2. Aktif sebagai inspirasi pergerakan Jam’iyatul Muqimin Al Musri’
Program Syahriahan merupakan program yang sangat penting, saking pentingnya maka Mama Syaekhuna KH.Ahmad Faqih sampai membuat peraturan terkait program ini kepada para alumni, yaitu ada dalam 5 katagori waktu :
1. Bagi alumni yang dekat ( Sekitar Bandung – Cianjur – Sukabumi ), wajib hadir pada syahriahan harus setiap bulan
2. Bagi alumni jauh ( Garut dan seterusnya ), wajib hadir pada Syahriahan setiap tiga bulan sekali
3. Bagi alumni yang lebih jauh ( luar Provinsi ), wajib hadir satu tahun sekali
4. Menjadi penggerak adanya infaq Alumni melalui program mobil inventaris Al Musri’
5. Menjadi pelopor adanya pemuqiman bagi santri diluar alumni
Suri Tauladan
- Terkenal Kepintarannya
- Terkenal ketekunannya
Menurut sebuah riwayat, setiap beliau melaksanakan program UL (istilah santri yang merupakan singkatan dari Usaha Leletikan, ketika menghadiri acara selametan atau tahlilan di masyarakat ), beliau selalu membawa catatan kecil yang berupa catatan hapalannya. Sehingga ketika keluar dari tempat UL, maka mendapatkan dua keuntungsn, yaitu satu Berkat, kedua hafalan. Hal tersebut mencerminkan jiwa ketekunannya dalam hal belajar.
- Terkenal kewaroannya Salah satu kegemaran
- Terkenal kesosialannya
- Terkenal Kemahabbahannya
- Terkenal Ketawaduannya
- Terkenal keteguhannya
- Ahli Ziarah
Hampir setiap minggu pada hari libur pesantren, yaitu antara hari kamis dan Jum’at beliau berziarah kepada para ahli sholeh dan para kyai, baik yang sudah wafat atau yang masih hidup. Dalam rangka Tabarrukan kepada mereka.
Lain lain
- Satu Angkatan dengan KH. Saeful Uyun & KH. Maman Abdurrohman Pasir Asem
- Beliau Cerdas dan tekun
- Beliau oleh Mama tidak di idzinkan sama sekali untuk keluar, dengan alasan supaya fokus di bidang pendidikan, sehingga beliau ditugaskan menjadi Kaur Pendidikan.
- Beliau bersekolah di SD Sumelap. SD sampai kelas 5. Beliau mengikuti ujian kelas 6 dalam rangka mengganti murid kelas 6 yang tidak ikut ujian, dan ternyata beliau lulus. Sehingga sekolahnya hanya dalam waktu 5 tahun saja. ( info dari KH. Abdul Wahhab Sya’roni Cijengjing Ciamis )
- Beliau ahli ziarah, setiap hari libur pesantren beliau ziarah
- Pengalaman ketika ziarah ke pamijahan bersama kang Ujang Fahyudin mengunjungi, “ nya pan anu bieu teh saha atuh ?” ( K. Ujang Fahyudin )
- Amalan Hajian : K. Ujang Fahyudin Dipiwarang Akang milarian amalan hajian anu aya di Ust. Lili Sumedang (alumni Al Musri’). Kapendakna nembe 5 taun. Setelah 1 tahun mengamalkan baru naek haji melalui bantuan dari kang Lukman (KH. Ujang Fahyudin)
- Mimpi dari seorang Muqimat
Sekitar tahun 2012 an, ketika pulang dari kuliah perdana di Ma’had Zawiyah Jakarta
Timur asuhan alm. Abuya KH. Saifudin Amsir, M.A. Beliau pulang kerumahnya dan ketika
tidur beliau bermimpi : dalam mimpinya beliau dipanggil Hadratus Syekh Mama
Syaekhuna KH. Ahmad Faqih ( Pendiri Ponpes Miftahul huda Al-Musri’ ), lalu Mama
berkata “ kadieu ! Mama rek nurunken elmu” , muqimat tersebut mendekat dan
bertalaqqi langsung (berhadapan langsung) dengan Mama Syaekhuna. Lalu Mama menyuruh muqimat menjabat tangan beliau lalu mengucapkan
“Bismillaahirrohmaanirrohiim “, setelah itu beliau berkata “tah ayena mah tuluyken
ngajina ka dieu nya, ngaji hikam supaya kabawa sholeh, Mama bade istirahat hela“.
Muqimat tersebut lalu menoleh ke arah Dewan Kyai yang ditujuk oleh Mama Syaekhuna,
dan ternyata Dewan tersebut ialah Pangersa Akang KH.Ade Muhammad manshur
Somad. Setelah itu pangersa Akang mengajak muqimat tersebut mengaji kitab al
Hikamnya di madrasah. Dan ketika itu dimadrasah suda dipenuhi oleh para alumni Al
Musri’. Demikian. Wallohu a’lam
I. Ahli Fiqh
Kebijaksanaan berdasarkan aplikasi qowaidul fiqhi ( ahli ushul dan qowaid fiqh).
Ketika itu seorang Muqimat sedang meminta idzin melaksanakan Humas diluar Al
Musri’, kebetulan pada waktu itu di Al Musri’ sedang diberlakukan secara ketat masalah
Mahrom bagi santri wanita. Sedangkan muqimat tersebut akan melaksanakan tugasnya
melaksanakan humas dengan tanpa disertai oleh santriyat lainnya. Secara aturan asal
jelas hal tersebut tidak diperkenankan, namun ketika itu Pangersa Akang mendekati
muqimat tersebut yang sedang meminta idzin kepada Dewan kyai masalah peridzinan.
Lalu beliau menanyakan tentang isi dari pembicaraannya. Lalu dikatakan bahwa
muqimat tersebut akan melaksanakan tugasnya melaksanakan humas dengan tanpa
disertai oleh santriyat lainnya, dengan alasan tidak mempunyai ongkos untuk santriyat
yang menemaninya. Maka atas penjelasan tersebut pangersa Akang berkata “ wios
widian we, insya Alloh anjenna istri anu kapercaya, oge sok nyorogken pami tinggalen
pelajaran teh“. Maka atas dasar perkataan beliau, maka muqimat tersebut diberikan
idzin untuk melaksanakan Humas dengan sendiri. Hal tersebut sesuai denga qawaidul fiqih “ Hukum itu berputar pada illatnya, ketika illat
ada hukum pun berlaku. Tapi ketika ilat hukum tidak ada, maka hukum pun tidak
berlaku.
Istri pertama : Hj. Yayah Ruqoyah 5 Syawal 1400 H = Ahad 17 Agustus 1980M Istri kedua : Ibu Siti Robi’ah Adawiyah 1986
Anak dari istri pertama : sembilan (9)
1. Ariful Kholiq Zaelani (anak pertama) 2. Mu’an Habibul Fatah (anak ke-dua) 3. Ina ‘Izzatul Inayah (anak ke-empat) 25-april-1989 4. Maksalmina (anak ke-lima) 19-mei-1992 5. Solahti Yakarimah (anak ke-enam) 24-maret-1995 6. Darwis Munawarul Haq (anak ke-tujuh) 04-november-1997 7. Robi’ah Amatillah (anak ke-delapan) 05-desember-2000 8. ‘Atifah (anak ke-sembilan) 15-april-2002 9. Aceng Gozali (anak ke-sepuluh) 16-september-2003
Anak dari istri kedua : Ahmad ‘Arifin (anak ke-tiga) 12-agustus-1987 Wafat : Cianjur
Penulis: Ang Maksalmina
Editor: Nabil Aljabar
