Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi Bagi Umat Islam

Pergantian tahun Masehi sering dimaknai masyarakat sebagai momen refleksi sekaligus perayaan. Namun, bagaimana hukum merayakannya dalam pandangan Islam? Apakah merayakan Tahun Baru bertentangan dengan nilai keislaman?

Mengutip pendapat Guru Besar Al-Azhar Asy-Syarif serta Mufti Agung Mesir Syekh Athiyyah Shaqr, merayakan Tahun Baru diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat.

“Lalu bagaimanakah hukum memperingati dan merayakannya bagi seorang muslim?”

 Tak diragukan lagi bahwa bersenang-senang dengan keindahan hidup yakni makan, minum, dan membersihkan diri merupakan sesuatu yang diperbolehkan selama masih selaras dengan syariat, tidak mengandung unsur kemaksiatan, tidak merusak kehormatan, dan bukan berangkat dari akidah yang rusak.” Demikian dikutip dari kitab Wizarah Al-Auqof Al-Mishriyyah, Fatawa Al-Azhar.

Lebih lanjut, sejumlah ulama Al-Azhar dan ahli hadis memandang ucapan selamat tahun baru sebagai hal yang diperbolehkan. Disebutkan bahwa mengucapkan “selamat tahun baru” tidak dapat dikategorikan sebagai bid’ah tercela, selama tidak diyakini sebagai bagian dari ritual keagamaan tertentu.

Dalam konteks ini, pergantian tahun justru dianjurkan untuk dijadikan sarana muhasabah atau introspeksi diri agar kehidupan ke depan menjadi lebih baik dan bermakna.

Pandangan moderat tersebut sejalan dengan imbauan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan KH Ahmad Fahrur Rozi. Beliau menekankan pentingnya menjadikan malam pergantian tahun sebagai momen kebersamaan yang sederhana dan bernilai ibadah.

“Malam pergantian tahun sebaiknya diisi dengan kegiatan yang positif semisal tafakur dan berdzikir kepada Allah. Hindari kegiatan hura-hura yang tidak perlu,” ajaknya.

Umat Islam seharusnya tidak terjebak pada euforia berlebihan yang justru mengikis nilai spiritual. Ia juga mengingatkan bahwa Islam memiliki kalender Hijriah sebagai rujukan utama dalam ibadah, sehingga perayaan tahun baru Masehi hendaknya tidak dimaknai sebagai sesuatu yang sakral atau dirayakan secara berlebihan dan konsumtif.

Berdasarkan berbagai pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Islam tidak menutup ruang bagi umatnya untuk menyambut pergantian tahun. Namun, perayaan tersebut harus tetap berada dalam koridor syariat, menjauhi kemaksiatan, dan mengedepankan nilai kemanfaatan. Tahun baru idealnya dijadikan momentum refleksi diri, memperbaiki niat, serta memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama manusia, bukan sekadar ajang hura-hura yang melalaikan.

Rajab: Ketika Waktu Meminta Dihormati

Antara Kesucian Bulan Haram dan Realitas Sejarah Perang Tabuk

Rajab bukan sekadar nama dalam kalender Hijriyah. Ia adalah waktu yang sejak awal meminta penghormatan. Dalam bahasa Arab, Rajab bermakna pengagungan dan penjagaan—sebuah isyarat bahwa bulan ini tidak boleh diperlakukan seperti waktu biasa. Bahkan bangsa Arab pra-Islam pun mengenal Rajab sebagai bulan yang dijaga: pedang disarungkan, peperangan ditunda, dan darah tidak ditumpahkan.

Namun sebuah pertanyaan kritis kemudian muncul:
jika Rajab adalah bulan yang dimuliakan, mengapa Rasulullah ﷺ memimpin ekspedisi Perang Tabuk pada bulan Rajab, bahkan dampaknya terasa hingga bulan Ramadhan?
Apakah ini kontradiksi? Ataukah pemahaman kita tentang Rajab yang terlalu dangkal?

Rajab dan Tradisi Penghormatan Waktu

Bangsa Arab pra-Islam menghormati Rajab sebagai bulan haram berdasarkan kesepakatan sosial. Namun penghormatan ini kerap bersifat selektif. Ketika kepentingan politik dan kekuasaan terancam, mereka melakukan praktik an-nasī’—menggeser kesucian bulan demi melegitimasi peperangan.

Islam datang bukan untuk menghapus kehormatan Rajab, melainkan untuk membersihkannya dari manipulasi. Kesucian waktu tidak lagi tunduk pada kepentingan manusia, tetapi berada di bawah prinsip keadilan ilahi.

Kesucian Rajab dalam Perspektif Al-Qur’an

Al-Qur’an secara eksplisit menyinggung persoalan berperang di bulan haram, bukan untuk menyederhanakannya, tetapi untuk meletakkannya dalam kerangka moral yang lebih luas. Allah SWT berfirman:

Ayat ini menjadi kunci pemahaman Rajab:
perang di bulan haram memang tercela, tetapi membiarkan kezaliman besar terjadi jauh lebih tercela. Kesucian waktu tidak boleh dijadikan dalih untuk membiarkan kehancuran agama dan keselamatan manusia.

Perang Tabuk: Ujian Makna Rajab

Perang Tabuk terjadi dalam konteks ancaman nyata dari Romawi Timur. Nabi ﷺ tidak bergerak karena ambisi ekspansi, melainkan demi menjaga keamanan umat Islam dan menutup pintu agresi yang lebih besar.

Menunda langkah hanya demi simbol penghormatan waktu, dalam kondisi ini, justru akan menjerumuskan umat pada bahaya yang lebih besar—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an sendiri.

Menariknya, Perang Tabuk justru memperlihatkan penghormatan terdalam terhadap Rajab. Tidak terjadi pertempuran besar, tidak ada pembantaian, dan tidak ada agresi membabi buta. Yang terjadi adalah demonstrasi kekuatan yang berlandaskan etika dan tanggung jawab.

Rajab: Mengajarkan Etika Kekuatan

Rajab mengajarkan bahwa kekuatan tidak identik dengan kekerasan. Islam tidak menolak kekuatan, tetapi menundukkannya pada nilai. Inilah esensi penghormatan waktu: bertindak ketika harus, dan menahan diri ketika mampu.

Rajab menolak dua ekstrem: spiritualitas kosong yang membiarkan kezaliman, dan kekerasan tanpa kendali yang mengabaikan kesucian.

Ketika Waktu Benar-Benar Dihormati

Menghormati Rajab bukan hanya soal menunda perang, tetapi tentang menjaga keadilan. Nabi ﷺ tidak menodai Rajab dengan darah, justru memuliakannya dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab moral.

Dalam konteks ini, Rajab bukan dilanggar, tetapi ditafsirkan dengan kedewasaan iman.

Rajab sebagai Ujian Kesadaran

Rajab adalah waktu yang meminta dihormati, bukan dipuja secara simbolik. Ia menguji apakah manusia memahami kesucian sebagai nilai hidup, atau sekadar slogan spiritual.

Perang Tabuk tidak membatalkan makna Rajab, tetapi justru menegaskannya:
bahwa waktu yang suci harus melahirkan keadilan,
bukan ketakutan untuk menegakkan kebenaran.

Rajab mengajarkan bahwa menghormati waktu berarti menjaga nilai bahkan ketika keputusan itu berat.

pewarta: Al-Musri’ Media

Debat dan Pemilihan Calon Rois ‘am : Santun Berdebat, Siap Memimpin

Debat calon Rois ‘am YPP Miftahulhuda Al-musri’ periode 2026-2028 yang mengusung tema “Optimalisasi Kepemimpinan Santri dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan, Kesehatan, dan Kehidupan Pesantren” berlangsung khidmat pada Kamis, 25 Desember 2025. Kegiatan yang berlangsung di Aula Alfaqih pukul 08.00 ini dihadiri oleh para santri, dewan kyai sepuh maupun ampuh, dan para pengurus OSMA sebagai bagian dari proses seleksi kepemimpinan organisasi santri Miftahulhuda Al-musri’.

Adapun kandidat calon rois ‘am periode 2026-2028, yaitu:

  1. Ust Rizlam Febrian ( Dirosah 1 )
  2. Ust Fiqhi Abdussalam ( Dirosah 2 )
  3. Ust Ade Rifzan Ardiansyah ( Dirosah 3 )

Rundown acara debat dan pemilihan rois am dari awal sampai akhir:

AGENDA PAGI (PEMAPARAN & NILAI SUBSTANSI)

PEMBUKAAN RESMI

Segmen 1 – Visi, Misi

Segmen 2 – Tanya Jawab Panelis

Segmen 3 – Debat Antar Kandidat (Cross Question)

Segmen 4 – Quick Response

Segmen 5 – Pertanyaan dari Santri

Segmen 6 Closing Statement

PENUTUPAN

RUNDOWN FINAL

MALAM PEMILIHAN (PENYOBLOSAN) ROIS ‘AM

AGENDA MALAM

PEMBUKAAN PEMILIHAN

PROSES PENYOBLOSAN

PENUTUPAN PENCOBLOSAN

PENGHITUNGAN SUARA (TERBUKA)

PENETAPAN HASIL (BERITA ACARA)

PENUTUPAN

Debat digelar untuk mengukur kemampuan komunikasi, kapasitas kepemimpinan, serta kesiapan para calon dalam mengemban amanah sebagai pemimpin pesantren. Pada sesi awal, para calon memaparkan visi dan misi yang mereka usung. Gagasan-gagasan tersebut disambut baik oleh para santri yang mengikuti jalannya acara dengan antusias.

Memasuki sesi pertanyaan dari Ust. Kamal Ahmad Satria, suasana semakin fokus namun tetap kondusif. Ust. Kamal memberikan pertanyaan terkait seputar kepemimpinan. “Bagaimana cara kalian menjaga jati diri santri di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat?” tanyanya. Para calon memberikan jawaban tegas mengenai pentingnya adab, keteladanan, dan budaya ilmiah sebagai benteng identitas santri.

Sesi pertanyaan dari santri putri kelas 3 Dirosatul Ulya berlangsung tak kalah menarik. Ia bertanya dalam bidang ketarbiyahan. “Apa ada ketegasan dalam rois am untuk pengurus yang kurang dalam bidang pendidikannya? Dan bagaimana memajukan agar lebih meningkatkan daya pengurus agar lebih baik?”

Kandidat nomor 1 menjawab, “Pengaruhnya dikarenakan adanya kebiasaan-kebiasaan dari tingkat kelas atas faktanya terkhusus kepada santriyin dan dalam kenyataanya itu sendiri itu bukan kesalahan tapi realita. Solusinya absensinya harus lebih ketat lagi.”

Kandidat nomor 2 menjawab, “Pemimpin harus mempunyai keberanian moral dan hukum kepada pengurus semuanya dalam tindakan seperti itu.”

Terakhir, kandidat nomor 3 menjawab, “Hukumannya sudah terpampang jelas adanya dalam biro tersebut, seperti adanya ta’ziran untuk pengurus. Dampak pengaruh besarnya ini persenan dalam kedirosahan.”

Adapun segmen terakhir yaitu closing statement yang dikemukakan oleh masing-masing kandidat. Mereka menjawab jujur mengenai tantangan menjaga amanah, mengatur waktu, dan memastikan program berjalan efektif. Kejujuran tersebut mendapat apresiasi dari peserta debat. Para calon menegaskan bahwa pendekatan persuasif, komunikasi yang hangat, serta suasana kekeluargaan adalah kunci agar seluruh santri dapat mengikuti program pesantren secara optimal.

Debat berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dan ditutup dengan suasana hangat. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang adu argumen, tetapi juga ruang untuk menilai kedewasaan, kesiapan, dan komitmen para calon dalam memimpin pesantren ke arah yang lebih baik. Mari bersama-sama menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dan berbudi luhur.



Editor : Siti Nanda Wahidah

Bulan Rajab: Momentum Spiritual, Sejarah Sakral, dan Kesadaran Moral Umat Islam

Dalam perjalanan waktu umat Islam, bulan Rajab hadir bukan sekadar sebagai penanda kalender Hijriyah, melainkan sebagai ruang spiritual yang mengajak manusia untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperbaiki arah hidup. Rajab adalah bulan ketujuh dalam kalender Islam dan termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Status istimewa ini menjadikan Rajab sebagai momentum penting untuk membangun kesadaran moral dan spiritual umat.

Rajab sebagai Bulan Haram: Makna di Balik Larangan

Allah SWT menyebutkan empat bulan haram dalam Al-Qur’an sebagai waktu yang harus dihormati, di mana kezaliman dilarang dan amal kebaikan dianjurkan untuk diperbanyak. Larangan berbuat zalim di bulan-bulan ini bukan sekadar larangan fisik seperti peperangan, tetapi juga mencakup kezaliman terhadap diri sendiri melalui dosa dan kelalaian.

Rajab mengajarkan bahwa kesucian waktu menuntut kesucian perilaku. Semakin mulia waktu yang Allah tetapkan, semakin besar pula tanggung jawab manusia untuk menjaga lisan, perbuatan, dan niatnya.

Rajab dalam Perspektif Sejarah Islam

Salah satu alasan mengapa bulan Rajab begitu melekat dalam ingatan kolektif umat Islam adalah peristiwa agung Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik Rasulullah, tetapi sebuah transformasi spiritual yang menghasilkan perintah shalat lima waktu—ibadah inti yang menjadi pembeda antara iman dan kekufuran.

Isra Mi’raj menegaskan bahwa kedekatan dengan Allah tidak ditempuh melalui kemewahan dunia, melainkan melalui kesabaran, keteguhan iman, dan ketaatan. Rajab pun menjadi simbol perjalanan spiritual manusia menuju Rabb-nya.

Rajab sebagai Jembatan Menuju Ramadhan

Secara spiritual, Rajab sering dipahami sebagai fase awal pemanasan ruhani. Jika Ramadhan adalah puncak ibadah dan Sya’ban adalah masa penguatan, maka Rajab adalah waktu menanam niat dan kesadaran.

Banyak ulama menganalogikan Rajab sebagai bulan menanam benih, Sya’ban menyiramnya, dan Ramadhan memanen hasilnya. Tanpa kesungguhan di bulan Rajab, sering kali Ramadhan hanya berlalu sebagai rutinitas, bukan transformasi.

Amalan Rajab: Substansi Lebih Utama dari Sensasi

Tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan secara spesifik di bulan Rajab. Namun, justru di sinilah letak kedewasaan beragama: mengutamakan kualitas, bukan sensasi ritual.

Amalan yang dianjurkan di bulan Rajab meliputi:

  • Taubat yang sungguh-sungguh dan introspeksi diri
  • Memperbanyak istighfar dan dzikir
  • Menjaga shalat wajib dan memperbanyak shalat sunnah
  • Puasa sunnah sebagai latihan pengendalian diri
  • Memperbaiki hubungan sosial melalui sedekah dan silaturahmi

Esensi Rajab bukan pada banyaknya ritual, tetapi pada perubahan sikap dan akhlak yang berkelanjutan.

Rajab dan Relevansinya di Zaman Modern

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi, Rajab menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan jeda spiritual. Kesibukan dunia sering kali menjauhkan manusia dari nilai-nilai ketenangan, empati, dan kejujuran.

Rajab mengajak umat Islam untuk kembali menata prioritas: menjadikan iman sebagai kompas hidup, bukan sekadar identitas. Bulan ini relevan untuk menghidupkan kembali nilai pengendalian diri, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial.

Penutup: Rajab sebagai Panggilan Kesadaran

Bulan Rajab bukan hanya tentang kemuliaan waktu, tetapi tentang kesadaran manusia dalam menghormati waktu tersebut. Ia adalah panggilan untuk berubah sebelum perubahan itu dipaksakan oleh keadaan.

Barang siapa memuliakan Rajab dengan amal dan akhlak, maka ia telah membuka pintu menuju Ramadhan dengan kesiapan yang lebih matang. Dan pada akhirnya, Rajab mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah selalu dimulai dari kesadaran diri.

Belajar Menata Kehidupan Setelah Bencana Alam

Semua orang pasti merasa terpukul atas bencana alam yang telah melanda sejumlah wilayah di Tanah Air, terutama di Sumatra. Rasa kaget, takut, dan kehilangan yang timbul akibatnya adalah hal yang wajar dan bahkan sangat manusiawi. Namun, pada akhirnya langkah kehidupan harus diteruskan. Kita harus berusaha bersabar dan mengikhlaskan seluruhnya, lalu menata kembali kehidupan baru yang lebih baik.  

Tanah air tercinta, Indonesia, kembali menghadapi rangkaian bencana yang menguji kesiapan dan kepedulian kita sebagai satu bangsa. Kita melihat banjir, longsor, dan cuaca ekstrem muncul silih berganti di berbagai daerah. Kita juga menyadari bahwa perubahan iklim memperburuk kondisi alam yang rusak akibat ulah manusia. Semuanya terjadi seakan-akan kita diajak untuk lebih peduli, lebih bersatu, dan lebih rendah hati di hadapan kekuasaan Allah Swt.

Apalagi di Sumatra, tiga provinsi mengalami kerusakan akibat bencana alam yang membuat warga kehilangan rumah, pekerjaan, dan sanak saudara. Kita menyaksikan bagaimana mereka berusaha bertahan dengan tenaga yang tersisa

Sehingga sudah selayaknya kita merasa terpanggil untuk membantu, meski dengan kontribusi terkecil sekali pun, dengan berdonasi ke lembaga terpercaya misalnya. Selain itu, kita juga harus menyadari bahwa melalui solidaritas dalam bentuk warga jaga warga merupakan kekuatan yang sebaiknya selalu hidup dalam diri umat.  

 Akan tetapi, di balik semua musibah yang telah terjadi tersebut, seakan kita diajak kembali merenungi firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 155 tentang ujian berupa rasa takut, lapar, kehilangan harta, jiwa, dan hasil usaha dari ladang serta perkebunan.  

 وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ

 Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Musibah bagi orang-orang yang beriman, seperti yang dijelaskan dalam ayat di atas, merupakan kepastian dari Allah Swt. Rasa takut, kurangnya makanan, hilangnya harta, berkurangnya jiwa, dan sedikitnya hasil bumi adalah bentuk ujian yang pasti datang. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Tafsirul Munir, jilid 2, halaman 40:  

ثُمَّ أَقْسَمَ اللّٰهُ تَعَالَى فَقَالَ: وَاللّٰهِ لَنُصِيبَنَّكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ بِشَيْءٍ قَلِيلٍ مِنْ خَوْفِ الْعَدُوِّ فِي الْقِتَالِ، وَالْجُوعِ بِالْجَدْبِ وَالْقَحْطِ، وَنَقْصِ الْأَمْوَالِ بِضَيَاعِهَا، وَالْأَنْفُسِ بِمَوْتِهَا بِسَبَبِ الِاشْتِغَالِ بِقِتَالِ الْكُفَّارِ وَغَيْرِهِ، وَالثَّمَرَاتِ بِقِلَّتِهَا.

Artinya: “Kemudian Allah Ta‘ala bersumpah seraya berfirman (dalam QS. Al-Baqarah ayat 155): ”Demi Allah, Kami sungguh akan menimpakan kepada kalian, wahai orang-orang beriman, sebagian ujian berupa sedikit rasa takut terhadap musuh ketika berperang, kelaparan akibat kekeringan dan paceklik, berkurangnya harta karena hilang, berkurangnya jiwa karena kematian saat menghadapi kaum kafir dan sebab-sebab lainnya (seperti bencana alam), serta berkurangnya hasil bumi karena sedikitnya panen.”  

Musibah seperti bencana alam ini merupakan salah satu ujian dari Allah Swt. Meskipun sering kali penyebabnya timbul karena ulah keserakahan umat manusia. Namun hal yang paling penting untuk saat ini ialah, berusaha sabar atas apa yang terjadi, mengikhlaskan apa yang hilang, tetap mengusahakan segala hal baik, dan mengevaluasi apa saja yang kita perbuat kepada sesama, Tuhan dan alam semesta raya ini.   Selanjutnya dengan bersabar dan tetap berjuang di tengah musibah, seperti tatkala dilanda bencana alam, kita pasti akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

 Allah berfirman:  

وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ، اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ، اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ  

Artinya: “Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar [155], (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali) [156]. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk [157].” (QS. Al-Baqarah[2]: 155-157)  

Setiap musibah bencana alam adalah ujian yang datang dengan penuh hikmah. Kita diajarkan untuk jangan pernah berputus asa, tetap bersabar, dan terus berjuang memperbaiki keadaan. Ujian Allah pada hakikatnya dapat menguatkan hati, mengokohkan iman, dan mengingatkan bahwa pertolongan-Nya selalu dekat bagi setiap hamba yang senantiasa bertawakal setelah berusaha dengan maksimal.

Namun di sisi lain, musibah juga bisa menjadi cerminan bagi kita semua. Banyak bencana terjadi bukan hanya karena faktor alam, tetapi juga akibat ulah kita sebagai manusia yang serakah dan merusak keseimbangan lingkungan. Karena itu, kita wajib melakukan evaluasi pola hidup, cara mengelola dan memperlakukan alam, serta menetapkan kebijakan yang lebih baik. Semoga Allah membimbing langkah kita menuju perubahan yang lebih baik dan lebih berkah ke depannya.